
Bagian terberat dari sebuah perjalanan adalah perpisahan. Kesedihan meninggalkan masa lalu yang tidak ada di masa depan. Selalu ada pertanyaan bagaimana nanti? Bagaimana masa depan dan bagaimana akhirnya?. Sadarkah kalau semua pertanyaaan itu terikat dengan takdir?.
Takdir membawa kita kepada kisah hidup yang tak akan kita ketahui ujungnya. Sama halnya dengan Axel yang tidak tau kemana dan bagaimana takdir yang akan di hadapinya nanti. Perjalanan hidup seperti apa yang akan dilalui, Ia sendiri tidak pernah tau. Setelah menyelesaikan kasusnya, Axel ingin langsung pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan ada mobil yang tiba-tiba menghadangnya.
"Sial!" umpat Axel hampir saja hilang kendali karena mobil itu mendadak berhenti di depannya.
Ia menunggu siapa pemilik mobil yang ia rasa kurang ajar itu turun. Melihat orang yang baru keluar, Axel berdecih. Anak itu? Untuk apa lagi mengganggunya.
"Turun!" Bentak Dio mengetuk kaca jendela Axel dengan keras.
Axel menyeringai, Ia langsung turun karena cukup penasaran dengan apa yang di inginkan orang ini. "Ada apa lagi? Kita nggak punya urusan" ujarnya datar tanpa ekspresi.
Tapi bukannya menjawab, Dio malah menghantam pipinya hingga ia merasakan sakit dan pedas. Rasa anyir darah menyeruak, sepertinya bibirnya langsung robek. Pukulan itu sangat keras hingga membuat Axel hampir KO di detik pertama.
"Ini untuk Lo yang udah lancang hamilin Bella!" teriak Dio menarik kerah baju Axel.
Bugh.
"Ini untuk Lo yang udah berani mainin Bella! Dasar Ba ji ngan" Dio kembali menghantam wajah Axel dan mengenai hidungnya. Darah segar langsung menetes keluar, Namun Axel sama sekali tak membalas.
"Lawan gue brengsek! Jangan jadi pengecut lo" Kali ini Dio semakin membabi buta. Ia memukul ulu hati Axel membuat ia terbatuk sampai ingin memuntahkan isi perut saat itu juga.
"Udah puas? Hajar, Gue lagi. Gue emang pantes dapet ini semua" desis Axel malah tersenyum tipis disaat badannya terasa remuk.
"Lo bener-bener ba ji ngan! Bella udah salah milih Lo" Dio tersulut emosinya. Kali ini ia tak menahan diri lagi. Memukuli Axel dengan membabi buta.
Ia begitu marah setelah tau apa yang di lakukan pria ini. Apalagi pria ini juga yang sudah menghancurkan masa depan Bella. Gara-gara pria ini Bella jadi kehilangan anaknya. Dio merasa kalau Axel lah sumber penderitaan Bella.
Dio mendaratkan pukulan terakhir hingga mengenai pelipis Axel yang langsung ambruk. Wajahnya sudah berlumuran darah.
Namun ia membiarkan saja apa yang dilakukan Dio. Karena ia memang ba ji ngan yang nggak pantes di beri ampun.
"Hentikan!" Teriak Jofan yang baru saja datang kaget melihat Axel yang tergeletak dengan wajah berlumuran darah.
Tadinya ia juga ingin keluar, tapi tak sengaja melihat mereka. "Apa-apaan ini? Lo siapa?" Bentak Jofan emosi menatap Dio yang masih mencoba mengatur nafasnya yang terengah.
Dio tak menjawab keingintahuan Jofan. "Jangan pernah berani sakitin Bella lagi! Atau gue akan ngambil dia dari sisi Lo apapun caranya! Camkan itu baik-baik!" Ucap Dio tanpa ragu. Ia kemudian pergi meninggalkan Mereka berdua.
Sebenarnya ia masih belum puas menghajar Axel. Tapi ia juga tak suka karena Axel hanya diam saja tak melawannya. Yang penting ia sudah memberi pelajaran kepada pria itu karena sudah menyakiti wanita yang di cintainya.
"Gimana bisa kaya gini" Jofan segera membantu Axel untuk berdiri.
"Anterin gue pulang" desis Axel menahan rasa sakit yang mendera.
"Sebenarnya dia nggak mau sampai orang lain tau" Jofan memutuskan memanggil seseorang yang menurutnya dibutuhkan Axel saat ini. "Tapi, Dia juga butuh support dari kamu" ujarnya lagi pada Bella yang ia temui keesokan harinya.
"Sekarang keadaanya udah agak mendingan. Kau bisa menemuinya. Kabari aku kalau ada apa-apa" ujarnya lagi merasa tak tega melihat wajah Bella yang begitu suram.
"Terima kasih kakak udah bantu aku" ujar Bella tak tau bersikap bagaimana.
"Ya, Good luck ya. Aku cabut dulu" kata Jofan menepuk pelan pundak Bella untuk sekedar memberi semangat.
****
Axel merasa tubuhnya sangat sakit semua. Selain itu kata-kata Dio kemarin terus terngiang di kepalanya. Apa memang dia se ba ji ngan itu? Apakah dia memang pria yang tak pantas untuk Bella?. Axel terus memikirkan hal itu hingga kepalanya begitu pusing. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ah! Ya di lupa belum minum obatnya.
Axel segera mencari obat yang bisa membuatnya tenang. Tapi ia sama sekali tak menemukan dimana pun?. Axel mulai cemas, Ia butuh obat itu sekarang. Ia membuka seluruh laci dan lemari untuk mencarinya. Namun masih tak menemukannya. Axel mulai kesal karena tak mendapatkan yang dia mau.
"Dimana? Dimana obat itu?" Axel terus mencari seperti orang gila. Ia bahkan hampir menumpahkan seluruh isi lemarinya.
"Apa ini yang sedang kau cari?" ucap Bella terdengar dari arah pintu membuat Axel langsung menatapnya. Bella membawa obat yang kemarin di temuinya.
"Bella! Berikan itu padaku" ucap Axel kaget melihat Bella ada disana. Namun ia lebih mementingkan obat yang saat ini ada ditangan Bella.
"Nggak! Kau harus berhenti meminum obat ini!" Kata Bella dengan serius. Namun matanya menatap Axel dengan penuh rasa iba.
Sudah hampir dua minggu tak bertemu, Axel terlihat semakin kurus. Selain itu yang membuat hati Bella lebih sakit adalah ketika wajah Axel yang lebam semua. Di pelipis pria itu terlihat plaster yang menempel. Axel, Bagaimana kau bisa seperti ini.
"Bella jangan main-main! Aku sangat membutuhkan obat itu" Kata Axel mulai tak mengontrol nada bicaranya. Keringat dingin mulai menghiasi wajahnya.
"Berhenti minum ini Axel! Ini bukan obat, Ini hanya racun! Sampai kapan pun aku tak akan memberikannya" kata Bella ingin membuang obat itu. Tapi Axel langsung mencegahnya.
"Jangan memancingku Bella! Berikan obat itu! Atau kau akan tau akibatnya!" Bentak Axel mencoba merebut obat itu dari tangan Bella.
"Nggak akan!" Bella sekuat tenaga mempertahankan obat itu ditangannya. Tapi Axel terus menerus ingin merebutnya. Bella dengan kesal langsung melemparkan obat itu dari balkon hingga obat itu jatuh entah kemana.
"Sial! Bella kau keterlaluan!" umpat Axel begitu kesal. Ia bergegas ingin turun dan mencari obat itu tapi Bella dengan sigap mengunci pintu kamar membuat Axel tak bisa keluar.
"Pergi dari sini atau kau akan menyesal!" Bentak Axel masih bisa menahan dirinya. Tapi sedikit lagi saja ia tak akan menjamin apa yang akan terjadi pada Bella.
Happy Reading
Tbc