
Proyek pemotretan Karin berjalan tanpa kendala apapun. Mungkin ia beberapa kali gagal karena masih grogi, tapi ia sudah cukup pandai menguasai diri. Kini ia tinggal menyelesaikan satu pemotretan, Ia harus sedikit melompat dan memasang senyumnya paling bagus.
"Tropical Adventure? Hanya EIGER pilihannya!"
"Cut!" Teriak Angga tampak puas dan lega saat Karin sudah menyelesaikan semuanya. Karin benar-benar pilihan yang tepat, pikirnya.
Semua crew juga tampak ikut puas karena pekerjaan mereka juga selesai. Karin ikut lega karena berhasil menjalankan pekerjaan pertamanya tanpa halangan.
Karin masih mengembangkan senyumnya ketika Dio datang dan memeluknya dari belakang.
"Dio? Apa yang kau lakukan?" ucap Karin merasa tak enak karena kini beberapa orang tampak melirik mereka.
"Hanya ingin memelukmu" kata Dio mengeratkan pelukannya.
"Lepas ah, Aku malu di lihatin orang" kata Karin benar-benar tak biasa seperti ini.
"Malu kenapa? mereka nggak akan berani macem-macem" kata Dio santai saja.
"Tetep aja nggak enak, Kamu juga nggak bantuin beres-beres" kata Karin melirik Dio yang masih bermanja di pundaknya.
"Biarkan saja, Kan aku bosnya disini" kata Dio membuat Karin langsung mencibir karena tingkah Dio yang sombong.
"Bos! Kita kayaknya nggak bisa pulang sekarang karena sekarang udah jam lima, nanti pasti kemalaman di jalan. Kata Febri kalau malem kabutnya tebal banget, dia nyaranin buat pulang besok, gimana?" kata Angga terpaksa menggangu dua orang yang sedang di mabuk asmara itu karena harus menyampaikan informasi penting.
Dio dan Karin saling pandang. "Gimana? Kamu nggak apa-apa kalau nginep?" tanya Dio tentu mementingkan orang tercintanya dulu.
"Gimana baiknya aja, Aku ikut" kata Karin pasrah saja.
"Baiklah, Kita menginap disini kalau begitu" kata Dio memutuskan.
Dio lalu ikut bergabung untuk mendirikan tenda untuk tempat mereka tidur nanti. Untung saja Febri tadi menyarankan membawa tenda untuk berjaga-jaga. Dan ternyata benar, mereka membutuhkannya.
Mereka berbagi tugas, ada yang mencari kayu bakar untuk api unggun nanti. Sedangkan Karin yang satu-satunya wanita disana memutuskan untuk memasak mie instan menggunakan kompor listrik yang di bawa. Mereka benar-benar seperti piknik.
Pukul setengah tujuh malam, semua sudah siap dan semua orang berkumpul di depan Api unggun yang membantu menghangatkan tubuh mereka yang seperti beku karena udara yang sangat dingin.
"Makan dulu" ucapnya memberikan satu mangkok mie goreng pada Dio.
"Makasih udah dimasakkan" kata Dio tersenyum tipis.
"Cuma mie instan doang" kata Karin mengambil duduk disamping Dio.
"Apa aja kalau kamu yang masak pasti enak" kata Dio mengulas senyumnya.
"Gombal, Aku nggak bisa masak" kata Karin mencibir karena merasa ucapan Dio begitu gombal.
"Nggak apa-apa, Kalau kita nikah nanti, aku mau kamu masakin gini terus ya" kata Dio membuat Karin bungkam.
Dio sendiri baru sadar akan ucapannya itu. Bagaimana mungkin akan menikah kalau waktunya mencintai Karin bahkan hanya tinggal malam ini saja.
"Jangan menangis, Ini malam terakhir kita bersama dan aku tidak ingin mengakhirinya dengan membuatmu menangis, aku ingin membuatmu senang agar aku bisa tenang nantinya" kata Dio mengusap air mata Karin lalu merentangkan tangannya agar Karin memeluknya.
Karin menarik nafasnya, dia tersenyum namun sedih. Ia langsung masuk ke pelukan hangat Dio. Entah kenapa, sekarang ia tak rela jika semua ini hanya terjadi semalam. Dio pun ikut tersenyum namun mata mereka tak bisa membohongi perasaannya.
Semua orang tampak sudah masuk ke tenda masing-masing karena malam semakin larut semakin dingin pula udara disana. Dio dan Karin masih duduk dengan saling berpelukan di depan api unggun yang sebentar lagi akan padam seperti cinta mereka yang harus terpaksa dipadamkan.
Karin terus memeluk tubuh Dio dengan erat, sesekali tautan bibir mereka tercipta, sekejap saja namun seperti tak pernah puas.
"Dingin?" tanya Dio saat melihat wajah Karin yang pucat. Karin mengangguk, udara disana benar-benar dingin sekali.
"Masuk ya, Tidur. Udah malem banget" kata Dio mengusap-usap pipi Karin yang dingin.
"Aku ingin tidur memelukmu" kata Karin menatap mata Dio yang bergerak-gerak menatap dirinya.
"Baiklah, Ayo masuk Disini sangat dingin" kata Dio langsung mengajak Karin masuk kedalam tenda.
Karin tersenyum lalu meminta Dio memeluknya kembali di dalam sleeping bag yang sebenarnya hanya muat satu orang, tapi Karin ingin tidur bersama Dio malam ini. Dio tersenyum manis dan melepas jaketnya sebelum ikut masuk kedalam sleeping bag itu. Ia memposisikan dirinya agar nyaman di peluk oleh Karin.
Karin meringkuk di pelukan Dio yang hangat, ia memejamkan matanya menikmati elusan tangan Dio di kepalanya. Ia menghirup wangi tubuh Dio yang sangat ia sukai.
"Setelah malam ini, berjanjilah untuk melupakanku dan melupakan semua yang terjadi" kata Karin sebenarnya sedih saat mengatakan itu.
"Apa kau juga bisa berjanji untuk melupakanku?" kata Dio.
Karin mendengar itu hanya menggigit bibirnya seperti ada sesuatu yang memancing air matanya keluar. Dio terus mengelus kepala Karin untuk membuat wanita itu nyaman di pelukannya.
"Dio...Cium aku" kata Karin menatap Dio dengan mata sayunya.
Dio terdiam sebentar sebelum membenamkan bibirnya ke bibir Karin. Mereka saling berciuman meluapkan rasa cinta yang tak pernah bertepi. Cinta yang tak mungkin bersatu.
Karin hanya ingin memuaskan hatinya kalau mereka benar-benar berpisah. Ia masih menyimpan kenangan manis dengan orang tercintanya.
Dio rasanya ingin berteriak untuk melampiaskan emosinya. Ia mencumbu tubuh Karin dengan mata terpejam, ia tak ingin sedikitpun mengeluarkan air matanya. Kenapa cinta se bia dab ini.
Semalaman mereka terus bergumul dengan panas, Hanya jeda lima menit untuk merenggangkan ototnya dan mengatur nafasnya, Dio akan kembali menyentuh Karin dan memuaskan has ratnya. Namun rasanya tak pernah puas.
Karin tak perduli dengan tubuhnya yang sakit dan nyeri semua. Ia membiarkan Dio melakukannya berulang kali. Sampai ia merasakan pundaknya begitu nyeri karena Dio menggigitnya terlalu keras. Dio langsung tumbang begitu saja di sampingnya.
Karin menatap wajah Dio yang berada disampingnya, ia ingin mengukir wajah itu selamanya di hatinya. Dio memang bukan cinta pertamanya, tapi Dio adalah ciuman pertama, pelukan pertama dan Dio satu-satunya pria yang bisa membuatnya merasa nyaman namun juga takut secara bersamaan.
Membayangkan pria ini akan menjadi milik orang lain membuat tangis tak terbendung. Dio yang mendengar Karin menangis itu membuka matanya.
"Kenapa menangis? Aku tidak ingin kau menangis, Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak akan melepas mu dengan tenang kalau kau tidak tersenyum" kata Dio.
Happy Reading.
Tbc.