MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Kemarahan Cindy.



Keesokan paginya, Karin terbangun terlebih dulu. Ia menatap Dio yang masih tertidur dengan tenang. Ia tersenyum tipis dan menyempatkan mencium pipi Dio sebelum turun dari ranjang dengan gerakan perlahan agar tak membangunkan Dio.


Karin langsung ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah ia rasa sudah segar, Karin ke luar kamar berniat untuk mencari makanan, tapi ia sedikit kaget saat melihat Angga ada disana.


"Angga, Kau sudah disini?" tanya Karin heran.


"Oh, ya Karin. Aku sudah biasa. Kau mau kemana?" tanya Angga yang memang sudah terbiasa bekerja pagi-pagi.


"Mau membeli sarapan" kata Karin seadanya.


"Biar aku saja yang membelikan, kau disini, temani Dio" kata Angga.


"Eh, Apa tidak merepotkanmu?" kata Karin merasa tak enak hati.


"Tidak, Santai aja Rin. Sekarang itu kau pacar bosku, jadi aku harus melayani mu kan" kata Angga sedikit bercanda.


"Bos apaan, ada-ada aja" kata Karin tertawa kecil karena ucapan Angga.


Angga ikut tersenyum sebelum berlalu untuk ke kantin. Karin juga langsung kembali ke kamar setelah Angga pergi, dilihatnya Dio yang sudah bangun tidur.


"Selamat pagi" kata Karin tersenyum manis, lalu membuka tirai jendela agar cahaya masuk.


"Selamat pagi" kata Dio ikut tersenyum saat melihat Karin.


"Bagaimana kabarmu? Sudah enakkan?" tanya Karin membantu Dio yang ingin duduk.


"Lumayan, sudah tidak terlalu nyeri" kata Dio merasa memiliki hidup yang indah karena di beri perhatian seperti ini oleh Karin.


"Baguslah, Setelah ini makan ya. Aku akan membantumu menyeka tubuhmu dulu" kata Karin sedikit merapikan rambut Dio yang acak-acakan khas bangun tidur.


Dio mengangguk setuju. Karin lalu mengambil kursi roda dan membantu Dio agar duduk disana lalu membawanya ke kamar mandi. Karin sedikit canggung sebenarnya, tapi ia tak mau terlalu memikirkannya.


Dio menatap Karin yang kini sedang membuka kancing kemejanya, tangan wanita itu tampak gemetaran membuat Dio tersenyum tipis. Karin benar-benar gugup saat ingin membuka baju Dio, kancing baju yang sebenarnya mudah malah terasa susah untuk di bukanya.


"Sudah, Aku akan membersihkan diriku sendiri" kata Dio mencoba mengerti kalau Karin belum terbiasa.


"Maaf...." kata Karin.


"Jangan pernah meminta maaf kalau bukan kesalahan mu. Kau sama sekali tidak salah" kata Dio.


"Emmmm...Apa kau yakin bisa sendiri?" kata Karin masih ragu.


"Iya, aku akan memanggilmu kalau sudah selesai" kata Dio lagi.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar"


******


Setelah membersihkan dirinya, Dio sudah kembali duduk diranjang dengan Karin yang menyuapi nya sarapan.


"Aku mau sakit terus kalau seperti ini" kata Dio tersenyum lembut pada Karin.


"Ish, Jangan dong. Aku tuh sedih tau kalau kamu sakit gini. Berjanjilah untuk tidak sakit lagi" kata Karin mengambil tangan Dio dan meletakkan dipipinya.


"Iya" kata Dio mengelus pelan pipi Karin dengan lembut.


Keduanya masih melempar senyum penuh cinta sebelum mendengar suara ribut-ribut dari luar.


"Aku akan melihatnya dulu" kata Karin kemudian bangkit dari duduknya.


"Aku ikut..." kata Dio.


Sementara di luar, Angga sedang mencegah Cindy yang ingin masuk kedalam ruangan Dio.


"Untuk apa lagi kau kesini?" kata Angga menatap Cindy tak suka.


"Tidak bisa. Dio sedang tidak bisa di ganggu oleh siapapun termasuk kau!" kata Angga membuat Cindy tersenyum sinis.


"Apa wanita murahan itu ada di dalam bersama dengan Dio?" kata Cindy lagi.


"Siapa yang kau sebut murahan?" kata Dio keluar ruangan bersama Karin. Dio memegang tangan Karin erat membuat Cindy menatap mereka tajam.


Karin menatap Cindy yang kini jelas-jelas menatapnya penuh amarah. Karin mengigit bibirnya, apakah ia salah?


"Siapa lagi? Lihatlah, dia sama sekali tidak tau malu" kata Cindy berdecih.


"Jaga bicara mu Cindy! Kita sudah tidak punya hubungan apapun, sebaiknya kau pergi dari sini" kata Dio mengepalkan tangannya saat Cindy menatap Karin seperti itu.


"Kenapa kau mengusirku? Kau lebih memilih bersamanya?" kata Cindy berteriak karena emosi.


"Cindy! Ini di rumah sakit. Kendalikan dirimu" kata Dio.


"Aku tidak perduli ini dimana! Kenapa kau mengkhianati ku dengan dia" kata Cindy menatap Karin penuh kebencian. Seolah ia ingin membunuh wanita itu sekarang juga.


"Aku tidak mengkhianatimu, sejak awal aku memang tidak pernah punya perasaan padamu" kata Dio dengan tegas.


"Kau benar-benar wanita penggoda, Puas kau sekarang sudah merebut Dio dariku" kata Cindy begitu emosi.


"Cindy, aku tidak merebut Dio darimu. Dio yang datang padaku. Lagipula sebenarnya kau lah yang sudah merebut Dio dariku" kata Karin mencoba tenang menghadapi Cindy.


"Kau! Beraninya kau berkata seperti itu padaku! Dasar murahan!" Teriak Cindy merangsek maju ingin menyerang Karin tapi Angga dengan sigap menahannya.


Dio pun kaget dan langsung menarik Karin mundur. Cindy masih terus berontak saat Angga membawanya kesana. Karin melihat itu sedikit miris, sepetinya dia memang sudah menjadi wanita jahat.


"Hei, Kenapa wajahmu seperti itu" kata Dio saat melihat wajah Karin.


"Dia ingin bunuh diri karenamu?" tanya Karin dengan sorot mata suram.


"Dia memang sudah kehilangan akalnya, Aku yakin dia juga hanya menggertak ku saja, kalau memang dia berniat bunuh diri, dia pasti akan benar-benar memotong nadinya" kata Dio menjelaskan.


"Aku kasihan dengannya" kata Karin tau bagaimana sakitnya jika perasan cinta tak terbalas, karena ia pun pernah merasakannya.


Dio terdiam menatap Karin yang masih muram, ia mengangkat dagu wanita itu agar menatapnya.


"Dia pasti baik-baik saja, oke" kata Dio merasa gemas dengan wajah Karin, ia ingin mencium bibir Karin sebelum....


"Maaf Bos..." Angga tiba-tiba menyelonong masuk membuat Dio sebal. Tapi sedetik kemudian ia kaget saat melihat Angga datang tak sendiri.


"Mama" kata Dio kaget melihat Mamanya.


Karin yang mendengar ucapan Dio langsung menoleh dan ikut melihat sosok wanita paruh baya yang kini sedang menatap keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan. Karin buru-buru bangkit tapi Dio menahan tangannya.


"Bagaimana keadaanmu? Kenapa kau seperti ini tidak memberi tahu Mama" kata Mama Dio tak menyembunyikan wajah cemasnya.


"Aku tidak apa-apa Ma" kata Dio melirik Karin yang kini berdiri disampingnya.


"Tidak apa-apa gimana, Siapa yang sudah membuatmu seperti ini?" kata Mama Dio lagi.


"Bukan orang penting, Ada hal lain yang ingin Dio sampaikan sama Mama" kata Dio membuat Mamanya menyipitkan matanya menatap anaknya dan perempuan asing yang kini berada disampingnya.


"Namanya Karin Ma, Calon menantu Mama" kata Dio menarik tangan Karin lembut dan merangkul pinggangnya.


Karin dengan canggung mengulurkan tangannya bermaksud memberi salam. Ia mengulas senyum tipisnya menutupi kegugupan yang mendera.


Happy Reading.


Tbc.