
Karin masih menunggu di sofa itu dan terus mendengar kedua resepsionis yang mengoceh. Telinganya rasanya sudah cukup panas mendengarnya.
"Karin?" Angga terlihat kaget saat melihat Karin berada disana.
"Hai ngga" kata Karin mengulas senyum tipis.
"Kamu ngapain disini? Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Angga. Ia membayangkan kalau sampai Dio tau, pasti akan marah besar karena sudah membuat istrinya menunggu.
Karin melirik dua resepsionis yang kini menatapnya dengan raut wajah kaget itu. "Ya, katanya Dio sedang ada tamu, jadi aku menunggu disini" kata Karin dengan nada tenangnya.
"Nggak apa-apa. Kamu kan istrinya. Udah, masuk aja" kata Angga lagi.
"Enggak usah, Aku nunggu disini nggak apa-apa. Nanti aku malah menganggu lagi" kata Karin.
"Nggak akan ganggu" kata Angga mengajak Karin untuk masuk kedalam ruangan. Karin sempat melihat kedua resepsionis yang memasang wajah paniknya itu sebelum masuk kedalam ruangan Dio.
*****
Dio mengerutkan dahinya saat melihat Sherly yang sengaja menempelkan tubuh padanya. Dio menggeser duduknya.
"Nona Sherly, Tolong jaga sikap anda" ucap Dio menatap Sherly dengan tajam.
"Sikap yang mana yang harus saya jaga Tuan Dio? Bukankah anda sudah terbiasa dengan hal seperti ini?" kata Sherly mengibaskan pelan rambutnya.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan. Sepertinya anda sudah cukup paham tentang pekerjaan ini, Saya akan menghubungi lagi nanti untuk menentukan kapan kita bisa memulai proyek ini" kata Dio merasa harus menyudahi pertemuan ini. Bukan, bukan ia tergoda, ia malah merasa risih jika ada wanita yang bersikap seperti ini.
"Baiklah, saya juga sudah tak sabar untuk segera bekerja sama dengan anda" kata Sherly bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Dio.
"Ya, semoga semua berjalan baik" kata Dio menyambut uluran itu sebagai formalitas. Tapi Sherly malah mengelus-elus tangannya membuat Dio mengangkat alisnya lalu menarik uluran tangan itu.
Sherly tersenyum tipis melihat sikap Dio yang menolak dirinya itu. Hal itu malah membuatnya semakin penasaran.
"Ehm, Tuan Dio maaf, Dasi anda sepertinya kurang rapi, biar saya bantu untuk merapikannya" kata Sherly langsung menyentuh dasi Dio.
"Oh, ini memang sengaja ingin saya lepas" kata Dio langsung menarik dasinya sebelum Sherly menyentuh dirinya. Ia sudah sangat hafal trik murahan yang seperti ini, karena hampir setiap model yang bekerja sama dengannya pasti akan terang-terangan menggodanya.
Sherly terlihat masih ingin mendekati Dio, tapi pintu ruangan terbuka membuat keduanya langsung menoleh. Dio kaget melihat sosok Karin disana. Sherly pun menekuk wajahnya saat melihat wanita asing yang tak di kenalnya.
Karin menatap Dio dan Sherly tajam, hatinya panas saat melihat suaminya berdekatan dengan wanita lain, tapi ia harus tenang.
"Abang!" ucap Karin tersenyum manis lalu berjalan mendekati Dio dan langsung memeluknya erat membuat Sherly kaget.
Dio pun kaget namun ikut tersenyum dan membalas pelukan istrinya. "Kenapa nggak ngabarin dulu, Kesini sama siapa?" tanya Dio setelah melepaskan pelukan mereka, namun ia tetap merangkul kan tangannya di pinggang Karin.
"Sengaja, Aku mau nganterin makan siang sama Abang. Kesini di anter sama supir, nanti pulangnya mau bareng Abang" kata Karin dengan manjanya. Dalam hati ia tertawa puas saat melihat wajah syok Sherly.
Sherly tampak kesal karena Dio bisa dekat dengan wanita yang entah darimana asalnya itu, Ia penasaran siapa sebenarnya wanita ini.
"Ehem...Tuan Dio, Kalau begitu saya permisi dulu. Kabari saja kapanpun anda mau, Saya pasti akan siap untuk Anda" kata Sherly sengaja mengucapkan kata ambigu agar membuat Karin berpikir yang aneh-aneh. "Anda sudah tau kan jika harus mencari saya kemana?" sambungnya lagi seraya mengedipkan matanya pada Dio membuat pria itu kaget.
Setelah mengucapkan itu, Sherly segera pergi meninggalkan ruangan, ia mengulas senyum yang seolah mengejek Karin.
"Masak Apa hari ini? Kebetulan banget aku belum makan siang, Sini" kata Dio mengalihkan Karin dari lamunannya. Ia menuntun tubuh Karin agar duduk di sofa.
"Siapa wanita tadi?" tanya Karin kesal.
"Bukan siapa-siapa, Dia model baru disini" kata Dio mulai mencium gelagat tak mengenakkan dari Karin.
"Pantes Abang betah disini, tiap hari pasti ketemu cewek-cewek cantik terus kan" kata Karin semakin kesal membayangkan kalau setiap hari suaminya pasti bertemu dengan artis atau model.
"Apa kau cemas kalau suamimu akan tergoda dengan wanita lain Nyonya?" kata Dio menatap Karin yang memasang wajah merajuknya yang imut.
"Tidak, tapi aku takut mereka jatuh cinta padamu. Beberapa orang terlihat dingin seperti gunung es, tapi diam-diam mereka bisa meraih hati para wanita lain. Itu yang membuat orang khawatir" kata Karin mengerucutkan bibirnya kesal. Menurut survey yang Karin pernah tau, Hampir semua wanita itu lebih suka dengan pria yang misterius karena membuat mereka penasaran.
Dio mengembangkan senyumnya, Ia lalu menagkup kedua pipi Karin agar menatapnya. "Apa kau cemburu?" kata Dio tersenyum manis.
"Tidak" kata Karin mengelak.
Dio tersenyum dan mencium bibir Karin pelan lalu melepaskannya. "Aku tau kamu cemburu Nyonya, Tapi percayalah aku tidak akan tergoda oleh mereka, Aku sudah punya yang lebih menggoda dan lebih dari segalanya" ucap Dio berbisik mesra dan menggigit pelan telinga istrinya.
Karin tersenyum manis dan menatap Dio yang menatapnya sayu. "Aku percaya sama Abang!" kata Karin lalu mengingat apa tujuannya kemari.
"Oh ya, katanya Abang belum makan, Hari ini aku masak salmon kesukaan Abang" ucap Karin membuka kotak bekalnya dan menjejernya di meja.
"Pasti enak, Apalagi kalau di suapin" kata Dio menaik turunkan alisnya.
"Dasar manja" kata Karin tersenyum dan mengambil makanannya.
"Manja sama istri sendiri boleh kan, sini" kata Dio tiba-tiba menarik Karin agar duduk di pengakuannya.
"Abang ih, katanya mau makan" Karin memekik kaget saat melihat moving tak terduga dari Dio.
"Gini juga bisa sambil makan, mana makananku? Aaaaa......" Dio tersenyum dan membuka mulutnya.
Karin tertawa kecil melihat tingkah Dio ini, ia meniup-niup nasi yang masih cukup panas itu. Ia kemudian tersenyum jahil dan sengaja memasukan suapan itu ke mulutnya sendiri.
"Yah..." kata Karin memasang wajah pura-pura menyesal.
Dio mendesis jengkel, ia mengeratkan pelukannya. "Jangan menggodaku Nyonya, Ayo berikan makananku, Aku sangat lapar" kata Dio cemberut.
"Hahaha...Baiklah, Abang harus habisin" kata Karin kali ini benar-benar menyuapi Dio hingga makanannya habis.
Karin masih duduk manja di pangkuan Dio setelah menyuapi makan, pria itu masih belum mengijinkannya beranjak. Karin pun tak keberatan, ia malah menyandarkan kepalanya di pundak Dio.
"Bibir Abang kering banget" ucap Karin saat melihat bibir Dio sedikit terkelupas.
Happy Reading.
Tbc.