MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Birthday Party.



"Tak bisakah kau menghargai waktu, Kau membiarkan kami menunggu orang tidak penting sepertimu" sambutan pertama yang langsung didapatkan Dio dari kakak tirinya yaitu Elvan.


"Jangan membuat keributan Elvan, Papa mohon hari ini bekerja samalah" kata Abimanyu langsung melirik Elvan tajam.


"Dio, Karin. Terima kasih sudah datang. Papa senang kalian mau menghadiri pesta ini" kata Abimanyu tersenyum tipis.


"Tidak perlu begitu Pa, Kita ini kan keluarga. Jadi sudah sewajarnya kita melakukan ini" Karin menyahut karena Dio hanya diam saja.


"Baiklah, Karena kalian sudah datang, kapan acaranya di mulai? Semua tamu pasti sudah menunggu" kata Rossi angkat bicara.


"Kita akan lakukan sekarang, Dio hari ini Papa akan mengenalkan kamu dan kakakmu kepada rekan bisnis Papa, semoga kamu tidak keberatan" kata Abimanyu menatap Dio yang memasang wajah dingin.


"Terserah Papa saja" kata Dio meskipun enggan tapi dia malas untuk berdebat.


Abimanyu tampak senang mendengar persetujuan dari Dio, dia kemudian berjalan dahulu keluar dari ruangan itu menuju Ballroom hotel, Rossi seperti biasa langsung menggandeng tangan suaminya di ikuti Elvan dan Istrinya, barulah Dio dan Karin. Tapi Karin lagi-lagi heran saat melihat tatapan Elvan yang selalu aneh jika melihat dirinya.


Karin tak mau memikirkannya, ia hanya menatap lurus dengan dagu terangkat. Ia harus tampil elegan sebagai istri dari seorang Ardio Abimanyu Putra.


Kehadiran keluarga besar itu langsung di sambut antusias oleh para tamu undangan karena mereka penasaran siapa sosok pewaris keluarga Abimanyu. Banyak orang yang berdecak kagum saat melihat tampilan keluarga kelas atas itu.


"Selamat malam semuanya, Di acara ulang tahunku yang ke lima puluh tahun ini. Aku ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada sang maha pencipta yang telah memberiku panjang umur dan kesehatan hingga aku bisa berdiri disini menyambut hadirin sekalian. Di acara ini juga, aku akan mengenalkan kedua putraku yang akan menjadi penerus ku kelak" kata Abimanyu membuka acara itu dengan suaranya yang kharismatik.


Elvan dan Dio segera naik ke atas panggung saat Abimanyu menyebut nama mereka. Tepuk tangan langsung riuh saat melihat rupa calon pewaris keluarga kaya raya itu. Apalagi wajah keduanya yang sama-sama tampan membuat wanita disana terpesona, terutama saat melihat wajah Dio yang dingin namun sangat menawan.


Acara itu segera di lanjutkan dengan acara yang lebih santai. Dio masih di ajak Papa Abimanyu untuk berbincang dengan para koleganya membuat Karin sendirian disana, tapi ia tak ambil pusing, ia juga cukup luwes untuk berbicara para istri pebisnis yang tak sengaja mengajaknya mengobrol.


"Oh, disini rupanya wanita tidak tau malu ini" suara Rossi terdengar mendekati Karin yang sedang mengobrol ringan dengan salah satu wanita.


Karin melirik Rossi dan Renata dengan malas, untuk apalagi dua perempuan licik ini, pikirknya.


"Jeng Rossi, Akhirnya bisa ketemu juga, kemana aja Jeng kok nggak pernah ikutan arisan lagi sih" ucap wanita yang tadi mengajak ngobrol Karin.


"Biasa jeng, Kamu tau sendiri gimana sibuknya aku, Apalagi Papanya Elvan baru aja buka cabang baru" kata Rossi memberikan cipika cipiki pada teman sosialitanya.


"Suami jeng emang keren banget, oh ya, Jeng kok nggak bilang sih kalau Elvan itu punya adik, mana Adiknya ganteng banget gitu, bolehlah jeng kalau di kenalin ke anak aku" kata wanita sosialita itu.


Rossi tersenyum sedikit sinis dan melirik Karin yang hanya diam saja. "Kamu serius jeng mau punya menantu kayak anak itu, Aku kasih tau ya jeng, Anak itu bukan anak sah suami aku, Dia cuma mau ngambil warisan doang dari Papanya Elvan" kata Rossi sengaja ingin memprovokasi Karin.


Karin masih diam saja meskipun kini dadanya bergemuruh karena emosi saat mendengar suaminya di hina seperti itu.


"Tante nggak boleh gitu, kasihan loh tan. Disini ada istrinya juga, nanti dia nangis lagi setelah acara ini" Renata yang sejak tadi diam kini ikut menyahut untuk membuat Karin malu.


"Istri? Jadi anak itu sudah punya istri, dia juga bawa istrinya kesini. Nggak tau malu parah sih, yang mana orangnya?" kata wanita itu lagi. Sepertinya mereka bertiga itu golongan orang yang suka menggunjing orang lain.


"Itu yang ada di sebelah Tante, pastinya udah nggak punya malu, dia kan sama aja sama suaminya yang suka merebut hak orang lain. Lagipula, wanita seperti dia pasti butuh banyak uang untuk perawatan wajahnya, lihatlah. Wajahnya cantik sekali bukan, tangannya saja mulus begini" kata Renata berjalan mengitari Karin dan mengangkat tangannya dengan ekspresi mengejek.


Rossi dan temannya itu tampak tersenyum senang saat berhasil mempermalukan Karin.


"Kau benar sayang, Aku yakin, dia pasti sudah banyak menghabiskan banyak uang untuk mengoperasi wajahnya ini. Hei, wanita, berapa yang Dio berikan padamu sampai kau mau menjadi istrinya?" kata Rossi semakin menghina Karin.


Kini bahkan beberapa teman-teman sosialitanya tampak ikut menatap Karin dengan ekspresi tak suka.


Karin mengepalkan tangannya, ia melirik Dio yang sepertinya masih sibuk dengan Papanya. Ia harus tenang dan jangan sampai terpancing untuk membuat keributan disini.


"Ah, Mama memang benar. Suamiku memang selalu menghabiskan uangnya untuk menyenangkan ku. Punya suami kaya tentu harus di manfaatkan bukan? Sama seperti Mama yang suka memanfaatkan Papa" kata Karin dengan santainya.


"Jaga bicaramu perempuan tidak tahu diri" kata Rossi cukup emosi mendengar ucapan Karin.


"Ayolah Ma, Mama tidak perlu berpura-pura seperti itu. Bukannya Mama ingat kalau sebenarnya Mama itu juga anak dari keluarga sederhana. Kalau saja Mama tidak menjebak Papa, mungkin saat ini Mama tidak akan berada disini" kata Karin memandang Rossi dengan tatapan kasihan membuat Rossi sangat emosi, bagaimana Karin bisa tahu, pikirnya.


Untung saja ia sudah Papa Abimanyu sudah menceritakan padanya tentang hubungan rumit antara Papa dan Mama Sofi di masa lalu. Sekarang ia cukup puas karena bisa menggunakan hal itu senjata untuk membalas Mama Rossi.


"Jangan bicara sembarangan, Kau itu yang seharusnya malu, suami mu itu hanya seorang anak haram" kata Renata ikut membela Mama mertuanya, ia mencengkeram erat tangan Karin.


Karin sedikit kaget, ia segera melepaskan tangannya dari jeratan Renata lalu mengambil antiseptik di tasnya dan menyemprotkannya di tangan yang baru di sentuh Renata seolah ingin menghapus semua bakteri yang ditinggalkan Renata di kulitnya.


Renata dan yang lainnya pun syok melihat tingkah Karin itu. Ia geram karena Karin menganggapnya seperti kotoran.


"Hah, Kakak ipar. Sepertinya kau mengotori tanganku. Maafkan aku harus membersihkannya, suamiku sangat tidak suka jika kulitku kotor" kata Karin membuang sapu tangannya dengan Anggun, ia memasang wajahnya yang sangat menyebalkan.


Renata merangsek maju ingin menampar Karin, tapi Rossi segera mencegahnya.


"Kenapa tidak jadi, Kakak ingin menamparku? Silahkan, tapi Kakak tau sendiri kan posisiku disini seperti apa?" bisik Karin melempar senyum sinisnya membuat kedua wanita itu emosi tapi juga tidak berdaya.


Happy Reading.


Tbc.