
Flashback On
Dio memandang undangan ditangannya dengan ragu. Ia rasanya enggan sekali untuk datang ke pernikahan Bella. Ia merasa hatinya tak cukup kuat untuk melihat kebahagian mereka. Tapi ia juga merasa tak enak jika tak datang. Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk datang.
Baiklah. Setidaknya jika tak bisa memilikinya, melihatnya bahagia saja sudah cukup. Begitulah yang Dio pikir. Tapi sialnya bagi Dio adalah, ia tak berani menemui Bella secara langsung dan malah tenggelam dalam minuman alkohol bersama temannya yang lain hingga ia mabuk dan dia harus di bawa ke kamar hotel karena tidak ada yang tau rumahnya.
"Ck, Lo nyusahin aja" Angga berdecak kesal saat harus memapah tubuh Dio yang menurutnya berat.
"Kalau nggak kuat minum nggak usah sok ikutan" gerutunya lagi.
"Argh! Sialan! Kuncinya mana lagi" Angga berdecak sebal saat ingin membuka pintu kamar, malah kuncinya tak ada. Apa mungkin jatuh? Pikirnya.
"Lo diem disini dulu! Masih kuat berdiri kan lo! Kalau nggak, jadi cewek aja sana!" gerutunya sebal sekali lalu meninggalkan Dio untuk mencari kuncinya.
Dio tak menggubris perkataan temannya, Tapi ia masih bisa mendengar meskipun tak begitu jelas. Tapi berbicara dengan orang mabuk itu sebenarnya tak ada gunanya, karena bukannya tetap diam ditempatnya. Dio malah berjalan membuka semua pintu karena ia ingin sekali tidur.
Dan ia menemukan salah satu pintu kamar yang tak dikunci dan langsung masuk begitu saja dan menendang pintu itu dengan kakinya.
Brak!!
Kamar itu begitu gelap membuat Dio tak bisa melihat ada orang lain yang sudah terlelap. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di kasur ingin langsung tidur tapi dalam alam bawah sadarnya pun ia masih bisa merasakan bagaimana sakitnya saat melihat Bella bersanding dengan orang lain.
"Bella..." ucapnya lirih lalu menggulingkan tubuhnya dan ia sedikit kaget saat memeluk tubuh seseorang. "Bella..." ucapnya lagi berpikir mungkin itu Bella yang datang untuknya.
"Bella...Kau.. datang kesini? Bella..Apa kau tau..Aku masih sangat mencintaimu" ucapnya terbata benar-benar mengira jika berhadapan dengan Bella.
"Tapi..Kenapa kau meninggalkanku? Apa kau sudah tak mencintaiku? Apa perasaanmu memang sudah berubah?" ucapnya lagi terbayang wajah cantik Bella.
Dio lalu mencium bibir wanita yang ia pikir adalah Bella. Perlahan-lahan bibirnya mengekplorasi bibir itu dengan lembut namun juga panas. Tangannya bergerak liar menggerayangi tubuh wanita itu. Dio semakin tak terkendali saat mendapati wanita itu hanya menggunakan dalaman saja. Ia semakin memperdalamnya, Tapi wanita yang semula diam itu lalu berontak.
"Argh!Siapa lo! Brengsek" Dio mendengar wanita itu memaki tapi didalam otaknya hanya ada bayangan Bella pergi meninggalkannya.
Ia kembali mencium wanita itu semakin panas dan sedikit kasar. Tapi wanita itu terus menggelengkan kepala menghindari ciumannya membuat Dio begitu kesal karena merasa di tolak oleh Bella.
"Diam! Kenapa kau terus ingin lari dariku! Apa kau tak percaya kalau aku masih mencintaimu!" Ia tanpa sadar membentak membuat wanita itu terkejut.
Dan ia langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menciumnya kembali. Ia tak perduli wanita itu terus memukulinya. Dengan pukulan itu, ia malah semakin semangat dan bergairah. Ia lalu menurunkan ciumannya ke leher jenjang yang begitu harum, memberikan gigitan kecil disepanjang daerah yang terjamah bibirnya. Tangannya sudah tak terkendali me*emas benda padat yang begitu pas ditangannya.
"Dio! Lepasin gue!" Wanita itu semakin menangis saat ia membenamkan wajahnya di gudukan empuk nan hangat itu.
Tapi Dio seolah tuli dan terus saja melakukannya hingga pada saatnya ia melakukan penyatuan, wanita itu menjerit keras dan mencakar punggungnya.
"Sakit...Lepas!...Jangan Dio..Aku mohon..Hiks" Wanita itu menangis dan ia merasakan tubuh wanita itu bergetar.
"Kenapa susah sekali" desisnya merasa jalannya itu belum tertembus membuat ia harus menekannya lebih kuat Dan...
"Akhh!!! Sakit .....
FlashBack Off
Dio mengutuk perbuatannya yang sudah melakukan hal be jat itu. Pantaslah Karin begitu marah padanya. Dia sudah memperkosa wanita itu dan parahnya Karin masih perawan.
Dio segera memakai bajunya kembali dan menunggu Karin. Tak selang berapa lama Karin keluar dengan matanya yang sembab. Dio langsung mendatanginya.
"Rin! Gue minta Maaf, Gue semalem nggak tau..
"Cukup! Apa dengan permintaan maaf lo bakal balikin semua yang udah terjadi!" Bentak Karin sudah begitu muak.
"Iya, Tapi setidaknya biarin gue tanggung jawab" kata Dio memegang tangan Karin agar wanita itu tak pergi.
"Gue nggak butuh tanggung jawab dari lo! Dan gue harap, gue nggak akan ketemu ba ji ngan kayak lo lagi" Bentak Karin menarik tangannya dengan kasar dan bergegas pergi. Dadanya terasa begitu sesak saat melihat wajah Dio.
Dio masih berdiri ditempatnya saat melihat punggung Karin sudah hilang dibalik pintu yang tertutup. Kenapa Karin menolak pertanggung jawabannya? Dan bagaimana kalau wanita itu sampai hamil mengingat semalam ia tak menggunakan pengaman. Dio semakin gusar memikirkan kemungkinan itu.
*****
Sesampainya di rumah, Karin langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur dan menangis sejadi-jadinya. Katakanlah, Apakah ada hal yang lebih buruk dari yang Karin alami. Luka patah hatinya yang belum sembuh, kini harus ditambah dengan kejadian buruk yang menghancurkan seluruh harapannya yang tersisa.
Bagi Karin, kemarin adalah hari paling buruk sepanjang hidupnya. Dalam satu hari dia harus kehilangan dan juga merelakan.
Tok Tok Tok
Pintu kamarnya diketuk membuat Karin mengusap air matanya. Ia beranjak turun untuk membuka pintu dan menunjukkan sosok Mamanya.
"Mama"
"Kamu sudah pulang? Kenapa tidur lagi? Sakit?" tanya Mama Karin melihat wajah anaknya yang pucat dan matanya yang sembab.
"Enggak apa-apa. Cuma kurang tidur doang" kata Karin berbohong.
Mama Karin tak percaya dengan ucapan anaknya. Padahal terlihat jelas kalau Karin habis menangis.
"Ada apa? Cerita sama Mama. Kamu ada masalah?" ujar Mama Karin mengajak anaknya untuk duduk di ranjang agar lebih nyaman untuk berbicara.
Karin menatap wajah Mamanya. Melihat wajah itu membuat mata Karin mengembun. Bagaimana kalau Mamanya tau tentang apa yang terjadi padanya? Karin tak bisa membayangkan hancurnya hati Mamanya saat mengetahui yang sebenarnya.
"Enggak ada masalah Kok Ma, Karin habis nonton drama nih makanya nangis begini" kata Karin mengulas senyum tipis menutupi perasaannya. "Oh, Ya. Mama ada apa kesini?" tanya Karin mengalihkan pembicaraan.
Mama Karin tampak belum puas, tapi ia tak lagi bertanya. "Mama cuma mau ngingetin kalau nanti sore penerbangan kamu. Kamu udah yakin dengan keputusanmu?" Kata Mama Karin menunjukkan apa maksud kedatangannya.
Karin sedikit kaget saat mendengar ucapan Mamanya. Dia bahkan sampai lupa kalau hari ini ia akan berangkat ke Swiss untuk kuliah. Sebenarnya Karin masih ragu dengan hal itu, Karena niatnya ia memang ingin melupakan Axel dengan pergi menjauh dari pria itu.
Tapi setelah apa yang dialaminya semalam, Karin merasa keputusannya itu sangat tepat agar ia bisa melupakan semua hal buruk itu. Ia harus menghela nafas panjang sebelum menjawab.
"Yakin"
Happy Reading
Tbc