
Axel tak henti memaki dan mengumpat saat anak tim pelacak belum menemukan dimana keberadaan Bella. Ia tampak begitu frustasi dan ingin secepatnya bertemu Bella.
"Bodoh! Sebenarnya apa yang kau lakukan! Mati saja kau!" teriaknya begitu emosi karena masih belum menemukan titik terang.
"Axel! Tenang dulu..
"Kau menyuruhku tenang? Apa kau gila? Istri dan anakku sekarang dalam bahaya bagaimana mungkin aku bisa tenang" Teriak Axel menendang salah satu kursi untuk meluapkan emosinya.
"Lalu apakah dengan emosi kau bisa menemukannya!" bentak Indra ikut emosi karena sikap sahabatnya.
"Aku sudah tau lokasinya" teriak salah satu orang dari tim pelacak.
"Dimana?" Axel langsung mendatangi orang itu.
"Ini belum lokasi pasti, tapi mereka sekarang ada di pinggiran kota" kata Orang itu.
"Kita akan kesana sekarang" kata Axel sudah tak memikirkan apapun lagi. Ia setengah berlari untuk sampai ke mobilnya, Jantungnya berdetak kencang berharap dia belum terlambat.
Indra dan yang lainnya pun ikut menyusul, Mereka sebelumnya sudah melakukan persiapan karena mengingat lawan kali ini bukan orang sembarangan.
"Gue ikut mobil lo, Biar Bram ngikutin di belakang" kata Indra.
Axel hanya mengangguk, dia langsung masuk ke mobil dan Indra segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Tunggu aku sayang" bisiknya dengan hati yang kalut.
Perjalanan itu seolah menjadi siksaan bagi Axel karena jalanan yang sulit dan sangat jauh. Padahal mereka akan segera sampai ketika terdengar suara tem ba kan dari arah belakangnya.
Axel dan Indra begitu panik saat melihat ada mobil SUV hitam yang kini berada di belakangnya.
"Brengsek! Mereka sengaja mau menghentikan kita!" maki Indra begitu emosi.
"Lo fokus ke jalanan aja, Biar gue yang ngatasin mereka" kata Axel menarik pis tol yang tersembunyi di mobilnya.
Aksi baku tem bak pun tak ter elakkan. Axel harus beberapa kali menunduk menghindari tem ba kan yang melesat ke arah mobilnya. Indra pun begitu, mobil mereka sudah terseok-seok karena Indra semakin tak fokus. Tapi saat mereka akan berbelok, tiba-tiba ada sebuah mobil dari sisi jalan lain membuat Indra kaget. Ia tak sempat mengelak membuat mobil mereka menghantam bodi mobil itu.
Di dalam mobil Axel menahan dirinya, Namun saat mobil mereka menabrak mobil di depannya tubuhnya langsung terdorong kedepan dan dan segera di sambut Airbag yang menghantam wajahnya membuat tubuh Axel seperti terlempar dengan keras ke jok belakang. Seketika suasana hening bagi Axel dan Indra membuat mereka tak sadarkan diri diantara ringseknya mobil mereka dan kaca-kaca yang bertaburan.
*****
Bella terus menangis saat tubuhnya di paksa oleh dua orang pengawal yang berbadan besar. Kondisi dirinya yang sedang hamil tak bisa banyak melawan karena Bella takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya. Setelah tadi ia di perlihatkan foto-foto yang mengerikan, kini tubuhnya di seret menuju ruangan lain. Bella harus tersandung-sandung seraya memegang perutnya yang nyeri.
"Menangislah! Menangis yang kencang, Panggil suamimu yang sombong itu!" kata Ayah Rafael begitu senang saat melihat air mata Bella yang terus mengalir.
"Tolong..jangan lakukan apapun padaku..Ampuni aku...tolong" Bella tak tau lagi apa yang harus di lakukan selain mengiba pada sosok di depannya ini.
"Aku hanya ingin memberi pelajaran pada suamimu itu. Aku ingin tau bagaimana perasaan suamimu saat melihat tubuh te lan jang istri yang di pujanya ini tersebar diseluruh penjuru kota. Menyenangkan sekali bukan?" kata Ayah Rafael menyeringai keji saat membayangkan pembalasan yang sangat cocok untuk Axel.
"Tidak akan, Aku akan membunuhmu setelah aku puas melihat kalian menderita" kata Ayah Rafael seperti kesetanan ia tak perduli Bella yang sedang hamil tua. Ia malah menjambak rambut wanita itu dan mendorongnya ke tiang yang berada ditengah ruangan dan mengikat tangannya ke atas membuat Bella tak bisa bergerak.
"Bagaimana kau bisa begitu kejam pada seorang wanita hamil! Kau juga lahir dari seorang wanita!" kata Bella di antara ketakutannya ia mencoba mengulur waktu berharap anak ada seseorang yang akan datang menolongnya.
"Aku tidak perduli! Suami mu yang lebih dulu mengusikku, jadi bukan salahku kalau aku membalasnya" kata Ayah Rafael tak terpengaruh dengan perkataan Bella.
"Ternyata benar kalau buah itu tidak akan jatuh, jauh dari pohonnya! Pantaslah Rafael menjadi pria ba ji ngan karena Ayahnya pun sama saja!" kata Bella langsung menyulut emosi Ayah Rafael.
"Kurang ajar! Berani sekali kau berkata seperti itu padaku! Aku pastikan kau akan menyesal" bentak Ayah Rafael kembali menampar pipi Bella lebih keras dari sebelumnya hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Bella tak mengaduh, ia hanya menatap tajam pada Ayah Rafael.
"Ken!!" Teriak Ayah Rafael memanggil asistennya.
"Ya Tuan" Ken langsung sigap saat namanya di panggil.
"Lucuti pakaiannya! Buat, Wanita tak tau diri ini menyesal karena sudah menghina putraku" kata Ayah Rafael lalu meludahi di depan wajah Bella.
*****
Axel membuka matanya melihat asap yang mengepul dari mobilnya. Ia memegang kepalanya yang berdarah membuatnya merasa pusing. Tubuhnya sudah di keluarkan oleh anak buahnya dari mobil itu, begitu pun Indra yang masih tak sadarkan diri.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Bram mendatangi Axel yang terlihat baru sadar.
"Aku baik-baik saja, Aku harus menyelamatkan istriku" kata Axel langsung berdiri meskipun dengan sedikit terhuyung karena rasa sakit di kepalanya.
"Tapi luka anda Tuan?" kata Bram cemas saat melihat kepala Axel yang berdarah.
"Aku tidak perduli, Cepat bawa mobilnya sekarang" kata Axel menahan rasa sakitnya yang menurutnya tak seberapa. Istri dan anaknya lebih penting dari rasa sakit itu.
Bram tak bisa mencegah, Ia segera mengendarai mobilnya di ikuti anak buah yang lain. Setelah beberapa saat, mobil mereka berhenti di bangunan rumah yang tua dan sangat kotor. Axel setengah meloncat saat turun dari mobilnya.
"Tuan, Anda sepertinya butuh ini untuk menjemput istri anda" kata Bram menyerahkan sebuah pis tol pada Axel yang langsung di genggamnya dengan mantap.
Ia kemudian berjalan lebih dulu, di belakangnya sudah ada pengawalnya yang berjaga. Ia memberikan gestur pada Bram untuk bersiap, Ia kemudian mundur kebelakang dan Bram dengan aba-aba yang jelas menendang pintu yang sudah berumur itu dengan keras membuat orang yang berada didalamnya kaget.
Axel langsung mengacungkan pis tolnya membuat tiga orang yang sedang menunggu itu kaget. Bram dan para anak buahnya juga dengan sigap melumpuhkan pergerakan mereka.
"Hei...Ini apa-apan" teriak salah satu orang yang berperawakan berewok, sepertinya dia ketua dari kelompok itu.
"Dimana istriku?" tanya Axel dengan wajahnya yang dingin, sorot matanya tampak mengerikan.
Happy Reading.
Tbc.