
Dio masih di ajak Papanya untuk berkenalan dengan beberapa koleganya. Sebenarnya ia sudah bosan dan ingin bertemu istrinya, tapi Dio juga cukup sungkan jika pergi begitu saja. Hatinya tak tenang jika membiarkan istrinya sendirian bersama orang-orang tidak di kenal itu.
"Tuan Dio...." terlihat seorang berkemeja batik menghampirinya membuat semua perhatian jatuh ke arahnya.
"Ya?" Dio menatap pria itu, ia merasa tidak kenal.
"Anda di tunggu Nona Karin" kata pria berkemeja batik itu menunjuk sosok Karin yang sedang berada disamping panggung, wanita itu tampak melambaikan tangan padanya.
Dio mengerutkan dahinya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum manis saat tau apa yang di inginkan istrinya. Setelah berpamitan pada Papanya, Dio segera pergi untuk menghampiri istrinya.
"Ada apa?" tanya Dio ketika sampai didepan Karin.
"Abang udah lama nggak konser, Gimana kalau Abang nyanyiin satu lagu sebagai hadiah untuk Papa" kata Karin.
"Aku nggak bisa nyanyi" kata Dio menolak.
"Bohong, lalu siapa cowok yang dulu nyanyi di festival lampion. Suara Abang bagus loh, Nyanyi ya?" kata Karin membujuk suaminya.
"Baiklah, Aku akan bernyanyi tapi jika kau menemaniku Nyonya, Ayo" kata Dio menarik tangan Karin agar naik ke panggung kecil itu.
"Eh? Aku nggak bisa Nyanyi Abang" kata Karin kaget dengan tingkah impulsif Dio.
"Pasti bisa, Katanya mau kasih kado buat Papa" kata Dio mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah" Karin akhirnya menyetujui saja membuat Dio tersenyum senang.
"Selamat malam, Disini aku dan istriku ingin membawakan satu untuk Papaku yang sedang berulang tahun. Sebelumnya, Aku ucapkan selamat ulang tahun untuk Papa, semoga Papa panjang umur dan di beri kesehatan selalu" Dio mengucapkan kata itu tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. Karena memang ia sangat menghormati dan menyayangi Papanya. Tapi sepertinya ia memang masih mencampur adukan perasaannya.
Abimanyu tampak kaget saat melihat Dio berada disana dan mengucapkan kata itu. Tapi ia tersenyum bangga. Tak lama kemudian musik mengalun dan sebagian besar tamu undangan langsung bertepuk tangan riuh.
I wanna take forever tonight.
( Aku ingin mengambil selamanya malam ini )
Wanna stay in this moment forever.
( Ingin tinggal di saat ini selamanya )
I'm gonna give you all the love that I've got.
( Aku akan memberimu semua cinta yang ku miliki )
I wanna take forever tonight.
( Aku ingin mengambil selamanya malam ini)
Fill you up, Fill you up with love.
( Mengisi mu dengan cinta )
When we close the door all i need is in your eyes.
( Saat kita menutup pintu, yang aku butuhkan hanyalah di matamu )
owww...I wanna take forever tonight.
( owww...Aku akan mengambil selamanya malam ini )
Judul lagu : (I wanna take ) Forever Tonight By : Peter Cetera & Crsytal Bernard.
Dio menggenggam tangan Karin dengan lembut, mata mereka tak lepas saling memandang, bibir mereka saling melempar senyum penuh cinta. Mereka menyanyikan lagu itu dengan perasaan yang di miliki. Suara mereka pun terdengar cukup merdu.
Semua orang tampak menikmati alunan lagu itu, tapi tidak dengan Rossi dan Renata yang tampak semakin membenci Karin. Renata mengepalkan tangannya, merasa harus membalas perbuatan Karin yang menghinanya.
Setelah lagu itu selesai, Karin dan Dio turun dari panggung. Dio terus menatap istrinya penuh cinta.
"Suara kamu bagus" kata Dio dengan senyum tipisnya.
"Biasa aja, Suara Abang lebih bagus" kata Karin sedikit tersipu karena godaan suaminya.
"Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja" kata Dio merengkuh pinggang Karin agar merapat dengannya.
"Enggak ah, Kalau kita pulang sekarang, Abang pasti akan langsung mencampakkan ku ke ranjang. Aku masih mau menikmati pestanya" kata Karin mengerlingkan matanya.
"Hahaha, Malam ini aku nggak mau main disana. Mau cari suasana baru" bisik Dio tepat di telinga istrinya.
Karin hanya tertawa menanggapinya, mereka berdua masih asyik saling menggoda ketika seorang pria yang merupakan asisten Papa Abimanyu datang menghampiri mereka.
"Aku tinggal sebentar ya, habis ini kita pulang" kata Dio pada Karin. Sepertinya Papanya ingin mengatakan sesuatu.
"Iya, aku juga mau ngambil minum. Haus" kata Karin mengangguk tipis.
Setelah meninggalkannya, Karin segera mencari minuman. Habis nyanyi haus juga ternyata pikirnya.
"Tidak ingin minum anggur?" terdengar sapaan dari arah belakang membuat Karin menoleh.
"Kak Elvan?" kata Karin kaget saat melihat Elvan berada disana.
"Kau akan tetap haus jika terus minum jus, Cobalah minum anggur ini, aku rasa kau akan suka" kata Elvan menyodorkan segelas minuman pada Karin.
Karin mengangkat alisnya, kenapa Elvan tiba-tiba sok perhatian padanya seperti ini. Lagipula apa yang di pikirkan Elvan, apa dia pikir Karin dengan mudah akan menerimanya.
"Aku tidak suka minum anggur" kata Karin singkat.
"Kenapa? Apa Dio melarang mu? Suamimu itu posesif juga ya ternyata" kata Elvan tersenyum.
"Tentu, dia mencintaiku makanya dia melakukan itu" kata Karin cuek saja.
"Hahaha, apa kau yakin Dio mencintaimu?" kata Elvan sedikit mengejek.
"Kenapa kakak mengatakan itu?" Karin menatap Elvan tajam.
"Bukankah kau tau siapa Dio sebelum menikah denganmu? Satu wanita? aku rasa tak akan cukup untuk pria sepertinya" kata Elvan dengan sengaja memanasi Karin, ia segera pergi darisana setelah mengatakan hal itu.
Karin menatap kepergian Elvan dengan aneh, ia pikir Karin akan terpengaruh begitu? Sampai detik ini, tak pernah sedikitpun Karin meragukan suaminya. Karin percaya sepenuhnya pada Dio.
*****
Renata menarik tangan Elvan setelah melihat suaminya itu berada di dekatnya. Ia menatap pria itu tajam.
"Kenapa kau mendekati Karin?" tanyanya langsung. Ia sudah sangat hafal dengan gelagat suaminya ini.
"Kau ini apa-apaan, jangan membuatku kesal kalau kau masih ingin tetap menjadi istriku" kata Elvan menghempaskan tangan Renata kasar. Ia malah kembali pergi meninggalkan istrinya membuat Renata semakin marah.
Renata kini mengalihkan pandangannya pada Karin yang berdiri tak jauh darinya, kebenciannya semakin menjadi pada wanita itu.
"Adik ipar, ternyata kau disini. Aku sejak tadi mencari" Renata terlihat datang menghampiri Karin, wajahnya tampak mengembangkan senyum manis membuat Karin menekuk wajahnya.
"Ada apa kakak mencari ku?" tanya Karin meskipun sebal tapi tak kehilangan tata krama nya untuk memanggil Renata kakak.
"Aku ingin minta maaf padamu Adik ipar, Aku rasa kita perlu mengawali semua dari awal" kata Renata semakin membuat Karin menekuk wajahnya.
"Aneh, kenapa kakak cepat sekali berubah pikiran, apa kakak merencanakan sesuatu?" kata Karin menatap Renata dengan tajam. Ia tentu tak akan percaya begitu saja saat Renata tiba-tiba baik padanya.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya Karin, bukankah kita ini saudara?" kata Renata memasang wajahnya yang polos dengan senyum tipisnya.
Happy Reading.
Tbc.