
Dio semakin kebingungan, menekan giginya, ia tentu tak boleh gegabah dan akan memperburuk suasana. Ia melihat Angga yang ikut masuk karena mendengar suara Cindy.
"Cindy berhentilah bertingkah seperti ini" kata Dio serba salah rasanya.
"Biarkan, aku sudah tidak butuh apapun. Dio...Aku tidak main-main kali ini. Kalau kau tetap memutuskan ku, aku akan membunuh diriku" kata Cindy sudah seperti orang gila, berteriak dengan keras dan air matanya terus mengalir.
Dio menarik nafas sejenak. "Baiklah...Aku tidak akan pergi...Kemarikan pisau itu ya..." kata Dio mencoba berucap lembut dan perlahan-lahan mendekati Cindy.
Cindy diam menatap Dio sambil terus menekan pisau itu di tangannya.
"Cindy..Aku disini bukan? Aku disini untukmu" kata Dio mecoba merayu Cindy agar tak berbuat nekat.
Ia berjalan pelan mendekati Cindy dan begitu dia sampai, ia langsung merebut pisau itu dari tangan Cindy. Tapi karena mendapatkan perlawanan, Ia cukup kesusahan hingga ia kemudian kaget saat merasakan nyeri di perutnya.
Cindy pun langsung kaget karena tak sengaja melukai Dio. Matanya membesar melihat cairan yang keluar dari perut Dio hingga membasahi kemejanya.
"Astaga Dio! Aku akan membawamu ke rumah sakit" kata Angga tak kalah kagetnya. Ia langsung memapah tubuh bosnya untuk di bawa pergi dari sana.
_____***_____
Angga segera membawa Dio ke rumah sakit dan Dio harus di rawat inap sementara karena ternyata cukup dalam lukanya. Ia sudah berbaring dengan wajah pucatnya.
"Aku mau istirahat dulu, dan jangan sampai Karin tau masalah ini" kata Dio melirik Angga yang hanya diam saja.
"Ya" kata Angga lalu berjalan keluar ruangan.
Dio memejamkan matanya sebentar sebelum merasakan ponselnya bergetar. Ia langsung melihatnya dan tersenyum tipis saat melihat siapa yang menelpon. Dio langsung mengangkatnya.
"Halo..." ucapnya dengan nada lembut.
"Hai...Bagaimana kabarmu" terdengar suara merdu di seberang sana membuat senyum Dio semakin mengembang.
"Tidak baik"
"Benarkah? Apakah kau sakit?" suara Karin mendadak panik.
"Bukan sakit...Tapi aku merindukanmu" kata Dio membuat Karin terdiam.
"Aku juga...."
"Aku sudah menyelesaikan semuanya" kata Dio lagi.
"Ya....Aku menunggumu"
"Aku pasti datang"
"Katakanlah sesuatu?" kata Dio merasa belum puas berbicara dengan Karin. Ia sudah sangat merindukan wanita ini.
"Katakan apa?"
"Terserah, Aku pasti mendengar mu" kata Dio.
"Ehm...kau sedang apa?"
"Aku sedang mengerjakan pekerjaan sedikit" kata Dio terpaksa berbohong karena tak ingin Karin khawatir.
"Benarkah?"
"Iya, Mungkin besok aku juga belum bisa menemui karena pekerjaanku banyak" kata Dio lagi tapi Karin tak menjawab. Dio melihat ponselnya yang masih menyala.
"Halo...?" kata Dio lagi.
"Sejak kapan kau mulai jadi pembohong?" kata Karin membuat Dio kaget dan mengerutkan dahinya.
Belum hilang rasa kagetnya pintu ruangan terbuka, Dio melihat sosok Karin yang berdiri disana dengan telepon masih di telinganya.
"Karin..." ucap Dio kaget.
"Sejak kapan kau suka mengerjakan pekerjaanmu di rumah sakit?" kata Karin dengan wajah cemasnya.
Dio yang melihat Karin ingin mencoba duduk namun lukanya begitu nyeri.
Dio yang mendapatkan perlakuan dari Karin seperti ini tampak senang, ia hanya menatap Karin penuh cinta.
"Kenapa berbohong padaku?" kata Karin tampak kesal namun banyak khawatirnya.
"Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir" kata Dio dengan tatapan mata yang bisa melelehkan hati semua wanita.
"Tapi aku akan lebih marah kalau kau tidak memberitahuku" kata Karin ingin menangis rasanya melihat Dio sakit seperti ini.
"Maafkan aku, Jangan marah ya" kata Dio menarik tangan Karin agar duduk di sampingnya.
"Lain kali beritahu aku apapun yang terjadi" kata Karin tak bisa menahan tangisnya, ia sangat takut jika kehilangan Dio.
"Hei, aku tidak apa-apa. Jangan menangis, aku senang kau ada disini" kata Dio tersenyum menenangkan.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" kata Karin mengusap pelan air matanya yang terus mengalir.
"Hanya sedikit akibat jika aku ingin mendapatkan mu" kata Dio tersenyum manis menatap Karin yang juga menatapnya.
Dio mendekatkan wajahnya, walaupun di saat bergerak lukanya terasa nyeri tapi dia tetap melanjutkannya. Mencium air mata Karin sebelum mencium bibir Karin yang sangat manis. Dio merasa ketagihan akan rasanya, bahkan rasa itu menjadi obat untuk melupakan rasa sakitnya.
Karin yang menerima ciuman dari Dio tampak ikut menikmati, Dio menciumnya dengan lembut, menyedot pelan agar Karin terasa nyaman dengannya. Saat ciuman itu menjadi panas, Dio merasa lukanya tertarik dan begitu nyeri.
"Apa kau baik-baik saja?" kata Karin khawatir saat melihat Dio yang kesakitan.
"Hanya sedikit nyeri" kata Dio.
"Jangan banyak bergerak dulu, Sudah makan belum? Aku suapi ya?" kata Karin melirik meja yang berisi makanan yang masih utuh.
"Boleh" kata Dio semakin senang di perhatikan Karin seperti ini.
Karin langsung mengambil makanan yang berada di meja, lalu menyuapi Dio dengan telaten. Dio hanya menatap Karin dengan lembut.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku gugup" kata Karin salah tingkah sendiri karena tatapan Dio.
"Jangan gugup, kau akan menyuapiku jika sakit dan tua nanti" kata Dio membuat hati Karin menghangat.
"Jangan sakit lagi" kata Karin sedikit tersipu karena perkataan Dio.
"Ya, Siapa yang memberitahumu kalau aku disini?" tanya Dio.
"Angga yang memberitahuku, tapi jangan marah padanya. Dia melakukan hal benar, kalau tidak memberitahuku, siapa yang akan menyuapi mu nanti, aku tidak ingin perawat yang menyuapi mu" kata Karin memasang wajah cemberutnya yang lucu.
"Hahaha....Aku makin cinta denganmu jika seperti ini" kata Dio tertawa karena sikap Karin yang menunjukkan kecemburuannya.
Karin hanya tersenyum lalu membersihkan sisa makanan dan membuangnya ke tempat sampah.
"Malam ini temani aku disini ya" kata Dio menatap apa yang di lakukan Karin.
"Iya" kata Karin menurut saja. Ia juga tak tega meninggalkan Dio sendirian.
"Sini..." kata Dio kembali menarik tangan Karin agar kembali duduk disampingya.
Dio menggeser tubuhnya dan memberikan sedikit ruang disebelahnya.
"Bagaimana kalau nanti suster tau" kata Karin sedikit ragu jika harus tidur di ranjang pasien.
"Tidak akan" kata Dio sebenarnya tak yakin, tapi ia hanya ingin tidur memeluk Karin malam ini.
Karin masih ragu sebenarnya, tapi ia setuju saja saat Dio menyuruhnya untuk tidur di situ. Perlahan-lahan ia merebahkan tubuhnya disamping Dio, ia sangat berhati-hati agar tak sampai terkena luka Dio.
"Aku sangat mencintaimu" kata Dio mencium kening Karin penuh kasih saat wanita itu sudah berada di pelukannya.
"Aku juga..."
Happy Reading.
Tbc.