MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Karin, Kembalilah Padaku.



"Benarkah?" kata Dio tampak lebih semangat mendengar hal itu. Sepanjang waktu ia menunggu Karin dari balik kaca itu dengan perasaan tak menentu. Sekarang adalah waktunya ia bisa benar-benar disamping wanita itu.


"Ya Benar Tuan, Saya akan mengizinkan anda masuk" kata Dokter sedikit tersenyum tipis.


"Terima kasih Dokter" kata Dio lagi segera mengikuti Dokter itu.


Dio harus mematuhi peraturan yang ada, dia mencuci bersih tangannya, juga menggunakan pakaian khusus untuk menemui Karin. Perlahan ia mendekat pada sosok istrinya yang masih tertidur damai dengan alat bantu penyambung kehidupan di tubuhnya.


"Karin, cepatlah sadar" ucapnya dengan suara serak dan berat. Ia mengulurkan tangannya untuk memegang lembut tangan Istrinya.


Suasana hening tanpa jawaban apapun, hanya ada suara mesin yang menemani Dio.


"Karin, Kau sudah sangat hebat karena telah mengandung anak kita dan kau juga bisa melawan rasa sakit itu sendirian" kata Dio lagi terbata, menahan gejolak yang membuat nafasnya berat hingga ia kesusahan hanya untuk mengucap satu persatu kata.


"Karin, sekarang kembalilah padaku, jangan terlalu lama tidur, aku yakin kau disana bisa mendengar ku. Karin, Aku ada disini, kembalilah, buka matamu, bukankah kau sudah berjanji untuk terus bersamaku" kata Dio, air matanya ternyata tak bisa di bendungnya, mengalir begitu saja membasahi wajahnya.


Dio kembali menarik nafasnya dan mengusap air matanya pelan, ia lalu mengulurkan tangannya berganti mengelus rambut Karin.


"Karin bangunlah, Aku akan marah padamu kalau kau tidak segera sadar! Ayo bangun Karin, jangan menyiksaku seperti ini. Aku disini untukmu, jangan pernah berani meninggalkanku Karin, Aku tidak akan memaafkan mu untuk alasan apapun! Aku pasti akan marah padamu Karin, tolong kembalilah padaku" kata Dio dengan suara yang sedikit meninggi. Dengan emosi yang coba ia tahan, tapi di akhir suaranya terdengar sangat putus asa.


Hening sejenak, tapi seolah mendengar kata-kata Dio, monitor pemantau kehidupan Karin berbunyi dengan sangat cepat dan menjadi sangat keras. Dio kaget melihat hal itu, ia lalu menatap Dokter yang baru saja masuk bersama beberapa perawat.


"Tuan Dio, Anda harus menunggu di luar dulu" kata Dokter itu membuat Dio melepaskan tangannya karena Dokter itu menggeser tempatnya.


Dio masih tak rela saat perawat menyuruhnya keluar diantara kesibukan dokter dan suara lengkingan panjang monitor itu. Di luar, Dio menyandarkan kepalanya di dinding kaca melihat tubuh Karin yang terhentak beberapa kali saat Dokter memberikan tekanan pada dadanya.


Dio membesarkan matanya saat melihat tubuh kecil istrinya harus di tekan seperti itu. Dio memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, apa yang baru saja dilakukannya? dia yang sudah menyebabkan Karin seperti ini, seharusnya dia tak memaksa Karin.


"Dio, Ada apa nak?" Kedua orang tua Karin terlihat terburu-buru datang saat mendengar kesibukan di lorong itu.


Dio hanya menggeleng lemah, ia hanya terus menatap ke arah kaca itu. "Karin, bertahanlah, aku berjanji tidak akan memarahimu nanti".


Cukup lama Dokter itu melakukan tindakan di dalam sebelum keluar menemui Dio dan kedua orang tua Karin yang sedang menunggu.


"Bagaimana Dok?" tanya ketiganya hampir secara bersamaan.


"Kita bisa bicara di ruangan saya" kata Dokter itu membuat mereka bertiga saling pandang.


******


Setelah sampai di dalam ruangan dokter, mereka bertiga segera duduk dengan tegang menunggu hasil pemeriksaan Dokter tentang keadaan Karin.


"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya Raimond was-was.


"Lalu apa efeknya Dok?" tanya Dio yang sangat khawatir akan kembali mendengar kabar buruk.


"Nona Karin mengalami kerusakan motorik yang menggangu sistem kerja otak kiri. Hal ini menyebabkan Nona Karin mengalami kesulitan berbicara dan yang paling parah, Nona Karin mengalami kelumpuhan" kata Dokter membuat tangis Elmira kembali pecah.


Dio kembali mengepalkan tangannya menahan perasaannya, Ia sama sekali tak menyangka kalau efek racun yang di suntikan Cindy akan sangat mengerikan ini.


"Apakah tidak ada second opinion Dokter? Apa hal itu akan bersifat selamanya?" tanya Dio.


"Sejauh ini belum ada yang mengalami kasus seperti ini Tuan, Tapi menurut saya, jika Nona Karin terus berlatih, beliau akan segera sembuh. Sekarang juga sudah banyak obat-obatan yang bisa mendukung kesembuhan itu. Meskipun tidak 100 persen, tapi kita harus tetap mencobanya" kata Dokter.


Dio tampak tak lagi bisa berkata-kata, hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan Dokter itu. Kepalanya mulai panas karena terllau banyak yang di terima hari ini.


"Dio" ucap Raimond menarik nafas panjang dan berat.


Dio memalingkan wajahnya yang tampak penuh kesedihan, menatap Raimond yang juga sangat terpukul dengan berita yang di dengarnya.


"Jika kau ingin melepaskan putriku, Kami akan menerimanya dengan lapang dada" kata Raimond tercekat. Sebuah keputusan yang pasti akan melukai putrinya, tapi ia juga tak ingin memaksa Dio untuk terus bersama putrinya karena bagaimanapun juga, Karin tidak bisa memberikan masa depan untuk Dio.


"Tidak, Tidak ada yang perlu di lepaskan. Karin sudah menjadi istriku Pa, Mau dia bisa berjalan atau tidak itu tidak akan mengubah apapun" kata Dio menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Raimond dengan tatapan tegas dimatanya yang merah karena tangis. Suaranya bahkan terdengar bergetar.


Raimond terdiam menatap Dio dengan segala emosinya itu, rasa pedihnya seolah tersalurkan hanya dengan tatapan mata itu.


"Papa! Aku sudah pernah meminta izin untuk menjaganya padamu. Sekarang aku kembali meminta izin padamu, Papa, Apa kau mengizinkanku terus menjaganya?" kata Dio kembali dengan suara tegasnya. Tatapan matanya memancarkan keseriusan yang sangat.


Raimond dan Elmira tampak tak percaya, Bagaimana Dio masih ingin mempertahankan putri mereka. Tapi melihat sorot mata itu membuat mereka sangat yakin.


"Papa akan mengizinkanmu"


******


Karin sudah di pindahkan di ruang perawatan, wanita itu sudah sadar dana Mama Elmira yang pertama kali langsung memeluk anaknya dengan tangis bahagia.


"Karin, Karin sudah bangun Nak? Bagaimana perasaanmu?" ucap Mama Elmira menciumi wajah anaknya seolah sudah sangat lama tak bisa lagi mencium anaknya itu.


Karin membuka mulutnya tapi ia tak mengatakan apapun, air matanya bergulir jatuh begitu saja membasahi pipinya. Karin lalu mengambil tangan Mamanya dan menciumnya, tau jika wanita ini pasti sangat mencemaskannya.


Karin lalu melirik sosok pria gagah di belakang Mamanya. Papanya memandangnya penuh haru, dan ada sosok lain yang bahkan tanpa Karin melihatnya, ia tau kalau pria itu sangat mengkhawatirkannya. Suara Dio pun masih sangat di ingatnya, Karin ingin bangun tapi rasanya tak sanggup, ia merasa sangat lelah dan juga tak bertenaga. Rasanya benar-benar ingin menyerah, tapi ia kembali mendengar suara Dio yang terus memintanya kembali dan pria itu akan menunggunya. Karena itulah Karin berusaha kembali membuka matanya hingga akhirnya ia kembali sadar.


Happy Reading.


Tbc.