
Dibalik suka cita pernikahan Axel dan Bella ada seseorang yang begitu sakit hatinya. Seseorang itu tak lain adalah Karin. Ia memang mengatakan sudah bisa ikhlas menerima tentang hubungan keduanya. Tapi hatinya tak bisa di bohongi kalau ia ternyata masih belum rela. Ia masih menyukai Axel sama seperti pertama kali mereka bertemu.
Malah Karin merasa cintanya semakin dalam. Karin tau jika hal itu tidak dibenarkan, Tapi ia sudah mencoba melupakan namun nyatanya semakin dia ingin, maka akan semakin kuat rasa itu.
"Selamat ya atas pernikahan kalian" ujarnya mengulas senyum manis pada sahabatnya. Ia tak mau berlama-lama ada disana karena merasa hatinya tak cukup kuat untuk menyaksikan kebahagiaan mereka berdua.
Bella terdiam sesaat melihat uluran tangan Karin, Ia tak menyambutnya. Ia lebih memilih memeluk sahabatnya dengan penuh rasa haru. "Makasih Rin." ucapnya tulus.
"Iya sama-sama. Oh ya. Gue mau sekalian pamitan" ucap Karin sesaat setelah pelukan mereka terlepas. Matanya sempat melirik Axel yang malam itu semakin tampan dimatanya.
"Lo mau pulang?" tanya Bella.
"Ya. Sekalian kita ketemu disini. Gue cuma mau ngomong kalau besok gue mau ke Swiss" kata Karin membuat Bella terkejut.
"Lo mau ke Swiss?" Bella menatap Karin tak percaya.
"Iya. Gue mau nerusin kuliah disana. Jadi sorry, Gue nggak bisa lama-lama ya. Oh iya. Ini gue kasih kado buat lo, Gue yakin lo pasti suka" kata Karin lagi menyerahkan sesuatu yang sejak tadi di bawa.
"Rin! Lo serius mau ke Swiss? Kenapa jauh banget, Lo nggak kuliah disini aja?" tanya Bella merasa Karin berbohong padanya. Meskipun wanita itu tersenyum manis padanya namun sorot matanya jelas begitu suram.
"Serius Bel. Disini udah bosen gue, Mau cari pacar yang bule-bule gitu" kata Karin tertawa kecil. "Udah, Ini lo terima ya. Gue pulang dulu. Salam buat Om Nugraha sama Tante Anita" ujar Karin secepatnya pergi karena ia sudah tak sanggup lagi berbohong.
Begitu ia berbalik, air mata yang susah payah dibendungnya akhirnya jebol juga. Hilang sudah senyum manis yang sejak tadi tersungging di bibirnya. Ia berjalan cepat keluar dari ballroom, Ia ingin secepatnya pulang tapi karena malam itu Jakarta sedang diguyur hujan, Akhirnya Karin memutuskan untuk menginap di hotel.
Ya memang di membawa mobil sendiri, tapi Karin cukup takut untuk pulang sendirian, apalagi malam sudah cukup larut. Sesampainya di kamar, Karin langsung membersihkan diri. Jika sedang sakit hati begini, Karin lebih memilih tidur untuk sedikit melupakan rasa sakit hatinya. Karena bagi Karin mimpinya lebih indah dari kenyataan.
Tapi dalam mimpinya, Karin merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Ia juga merasakan bibirnya serasa dicium oleh seseorang diiringi sentuhan lembut yang tubuh Karin bergetar. Apaan ini? Kenapa ia bisa bermimpi seperti ini? Tapi tunggu dulu, Sentuhan ini begitu nyata dan pasti ini bukan mimpi.
Karin langsung membuka matanya dan ia begitu kaget saat melihat sosok pria yang kini berada di atas tubuhnya. Ia tak bisa melihat wajahnya karena lampu ruangan itu cukup gelap karena ia memang sengaja mematikan lampu. Karin mencoba berteriak namun mulutnya sudah terkunci oleh ciuman pria itu.
"Emmmm.." Karin berontak sekuat tenaga karena pria itu terus menciuminya.
Tangan pria itu bahkan sudah tak terkendali menyentuh tubuhnya. Karin semakin panik saat menyadari ia hanya menggunakan dalaman saja membuat pria itu dengan mudah menarik kacamatanya hingga kedua asetnya terpampang.
"Argh!! Siapa lo! Brengsek!" maki Karin begitu pria itu melepaskan ciumannya. Ia begitu geram karena pria itu seenaknya saja mengambil ciuman pertamanya.
Bukannya menjawab, pria itu malah kembali mencium bibir Karin lebih ganas dari sebelumnya. Karin semakin marah, Ia menggelengkan kepalanya untuk menghindari ciuman itu. Tangannya sekuat tenaga mendorong tubuh itu agar menyingkir dari atas tubuhnya.
"Diam! Kenapa kau terus ingin lari dariku! Apa kau tak percaya kalau aku masih mencintaimu!" bentak pria itu membuat Karin begitu kaget, suara itu?
Tapi sialnya pria itu malah memanfaatkan kekagetan Karin untuk menyergap tubuhnya tanpa ampun. Seberapa pun Karin berontak dan memukul tak menghentikan pria itu untuk melakukan hal be*at itu. Karin akhirnya harus menyerah karena kehabisan tenaga.
Berteriak pun percuma karena kamar ini memiliki peredam suara. Menangis dan hanya menangis yang Karin lakukan saat miliknya yang begitu berharga terenggut dengan cara sangat menyakitkan.
****
"Jangan dipikirin terus, Dia pasti akan kembali suatu saat nanti. Sekarang dia masih menyembuhkan luka. Jadi kau harus menghargai pilihannya" kata Axel melirik wajah istrinya yang sedih setelah Karin datang tadi.
"Ya, semoga dia bisa secepatnya menemukan kebahagiannya" kata Bella tersenyum kecut.
"Ya semoga. Tapi sepertinya kau harus ikut aku dulu. Ada yang pingin aku tunjukkin" kata Axel mengerlingkan matanya.
"Nujukkin apa?" tanya Bella dengan dahi berkerut.
"Apa yang kau bayangkan?" kata Axel lagi membuat Bella berpikir.
"Kamar tidur kita?" tebak Bella merasa mungkin hal itu yang ingin Axel tunjukkan. Mengingat jika suaminya ini pasti tak jauh dari kata ranjang.
"Yang lebih indah dari itu, Ayo" kata Axel menarik lembut pinggang istrinya untuk turun dari pelaminan.
"Eh? Tapi acaranya belum selesai" kata Bella merasa tak enak harus meninggalkan sebagian tamu yang masih tinggal untuk sekedar bercengkrama.
"Nanti kalau udah capek juga pulang sendiri" kata Axel santai saja.
Ternyata tebakan Bella benar kalau Axel memang membawanya ke kamar.
"Sudah aku duga, Kau pasti akan membawa ku kemari" cibir Bella begitu keduanya sampai. Dan Axel hanya tergelak saat mendengar cibiran istrinya.
"Memangnya apalagi yang kau inginkan Nyonya Leander?" bisik Axel menarik tubuh istrinya agar mendekat.
"Tidak ada lagi yang aku inginkan. Semua yang kau miliki sudah cukup untukku. Mr. Leander I Love You more and more" bisik Bella melemparkan senyum manisnya.
"Kau sudah berani menggodaku ya? Jangan harap aku akan membiarkanmu tidur malam ini" bisik Axel menunduk dan menggigit pelan telinga istrinya.
Mata Bella terpejam menikmati ciuman yang dijatuhkan suaminya di sepanjang leher hingga ke pangkal tulang selangka. Ia sampai mengerang saat merasakan geli yang menerpa.
Axel lalu menegakkan kepalanya dan langsung membenamkan ciuman dibibir istinya. Bella berjalan mundur saat Axel terus merangsek maju hingga punggungnya mengenai pintu. Axel lalu mengambil tangan Bella yang sejak tadi mencengkeram kemejanya dan meletakkan kedua tangan itu menempel pada pintu.
Bibir Bella setengah terbuka dengan mata terpejam menikmati sapuan lidah dan seruputan bibir suaminya. Ia mendongak untuk memberikan akses untuk gigitan kecil yang suaminya berikan dilehernya.
"Aku harus melepaskan ini dulu. Gaun ini sungguh menggangu" kata Axel dengan nafas yang terengah-engah. Dengan terburu-buru dan tanpa disadari.
BRAK!!!
Kedua tangan Bella menghantam pintu dengan keras.
Happy Reading
Tbc