
"Tapi aku masih pengen ice cream By" kata Bella setelah melepaskan suaminya.
Axel menghembuskan nafas mendengar keinginan Bella. Ia lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam, itu artinya ia masih cukup waktu untuk membelikan ice cream untuk Bella.
"Baiklah, Aku akan membelikannya. Tapi kalau nggak dapet jangan ngambek lagi"
"Harus dapet By, Ini anakmu loh yang minta" Kata Bella merasa memang senang sekali melihat wajah Axel yang tertindas seperti itu.
"Baik Nyonya" sahut Axel memasang wajah masam, Keinginan Bella saja susah di tolak apalagi ditambah keinginan calon buah hati mereka.
"Yaudah By, Cepetan berangkat. Nanti keburu malem malah nggak dapet lagi" kata Bella lagi.
"Iya" Axel mendengus kecil karena Bella malah mengusirku. "Aku berangkat sekarang" kata Axel sebelum pergi.
*****
Sembari menunggu Axel pulang, Bella memutuskan untuk berendam karena seharian ini ia belum mandi. Terlalu larut dalam kekesalannya pada Axel membuat ia lupa mandi dari tadi sore. Selain itu, Jika tidak ada Axel begini barulah ia bisa mandi dengan tenang. Karena biasanya ada saja alasan suaminya untuk mengganggu nya.
Setelah hampir 30 menit, Bella menyudahi mandinya dan menggosok rambutnya yang basah. Ia baru saja akan mengambil pakaian saat mendengar pintu di ketuk.
"Itu pasti Axel" seru Bella merasa senang bukan kepalang karena Axel sudah pulang.
Dengan langkah ringan, Bella segera keluar kamar dan menyeberangi ruang tamu Vila yang kecil. Ia segera membuka pintunya dan siap untuk menerima ice creamnya. Tapi begitu pintu terbuka, ia kaget melihat sosok yang ada di depannya.
"Rafael?" ucapnya dengan wajah kaget.
"Selamat Malam Nona Bella" kata Rafael mengulas senyum manisnya. Namun matanya melirik tampilan Bella yang begitu cantik dan sexy dengan balutan handuk kimono.
"Ya Malam, Ada apa ya? Axel tidak ada di rumah" kata Bella sedikit was-was kedatangan tamu pria seperti ini.
"Aku tau, Aku kesini bukan untuk mencari Axel" kata Rafael berjalan mendekat dan Bella seketika mundur.
"Maaf Rafael, Kau bisa datang besok pagi. Kita sudah tidak punya urusan" sahut Bella merasa takut saat Rafael ingin mendekatinya. Ia bisa melihat tatapan pria itu yang berbeda. Bella segera ingin menutup pintunya tapi Rafael dengan sigap menahannya.
"Tunggu dulu Nona Bella, Aku kesini ingin mengajakmu bersenang-senang, Ayolah" Rafael menyeringai saat melihat wajah Bella yang ketakutan.
"Tidak! Jangan coba-coba masuk kau!"
Bella sekuat tenaga menahan pintu itu agar tidak terbuka. Tapi tentu ia kalah kuat dengan Rafael yang bertubuh besar, Satu kali dorongan pintu itu terbuka dengan kasar membuat Bella terhuyung ke belakang. Untung saja ia tidak sampai jatuh.
"Pergi dari sini Brengsek! Aku akan berteriak kalau kau macam-macam" Bella berjalan mundur saat Rafael mendekatinya. Matanya menatap sekeliling untuk mencari barang apa yang sekiranya bisa di gunakan untuk senjata.
"Teriaklah, Teriak yang kencang Sayang. Disini hanya ada kita berdua" kata Rafael tersenyum senang melihat Bella yang mulai panik.
Bella semakin takut dan ia segera berlari untuk masuk kedalam kamar. Tapi sialnya Rafael lebih dulu menangkap tangannya dan menariknya hingga tubuhnya membentur dada Rafael.
"Kau tau, semakin kau menolak semakin aku bergairah padamu Bella" bisik Rafael menatap Bella dengan tatapan mendamba. Ia meneliti wajah wanita cantik di depannya. Benar-benar sangat cantik membuat ia ingin sekali menciumnya.
"Tidak mau! Lepaskan aku pria gila!" Teriak Bella memberontak agar cengkeramannya terlepas.
"Ya, Aku memang tergila-gila padamu Bella, Ayolah, Jangan sok jual mahal padaku. Bukankah Axel juga membayar mu, Tenang saja dia tak akan marah kalau kau melayani aku malam ini" kata Rafael tersenyum licik dan ingin langsung mencium Bella tapi memalingkan wajahnya hingga ciumannya hanya mengenai pipi.
"Lebih baik aku mati daripada di sentuh ba ji ngan sepertimu!" Teriak Bella begitu marah karena Rafael menyamakannya dengan wanita bayaran.
Tapi Bella tak sadar kalau ucapannya itu menyulut kemarahan dalam diri Rafael. Selama ini tidak ada satu orang pun wanita yang berbicara kasar padanya. Tapi wanita ini?
"Jangan pernah lagi kau ucapkan kata-kata itu padaku!" bentak Rafael dengan keras.
Plak
Pipi Bella tertoleh kesamping saat Rafael menamparnya dengan keras. Bella merasa kepalanya begitu pusing dan bibirnya perih karena robek. Rafael menamparnya dengan sangat keras.
"Aku sudah cukup bersabar padamu! Dasar wanita murahan!" Bentak Rafael memegang dagu Bella dengan keras hingga wanita itu meringis.
Rafael langsung mencium bibir Bella dengan ganas, ia mendorong tubuh wanita itu hingga tubuhnya terjatuh di sofa. Ia tak perduli dengan bibir Bella yang terluka. Justru karena luka itu membuatnya semakin bergairah.
Bella menangis karena Rafael memperlakukannya dengan sangat kasar. Ia menggelengkan kepalanya dan mengatupkan mulutnya menghindari ciuman Rafael. Bella ingin sekali berteriak tapi rasanya sia-sia.
Tangan Rafael ingin menarik kimono yang di pakai Bella, tapi Bella terus berontak. Rafael begitu kesal karena Bella terus berontak, ia menggigit pundak Bella untuk membuat wanita itu berhenti berontak.
"Argh!!!!!" Teriak Bella kesakitan karena gigitan Rafael dipundaknya. Tapi ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang bagian vital Rafael membuat pria itu mengerang kesakitan. Bella segera berlari saat Rafael mulai lengah.
"Sial!" umpat Rafael merasakan bagian vitalnya begitu sakit. Tapi ia tak menyerah dan mengejar wanita yang sudah berani menolaknya.
Bella sudah sampai di depan pintu saat Rafael sudah lebih dulu mencegah langkahnya. Ia menarik rambut Bella dengan kasar.
"Argh!! Lepaskan!!" Teriak Bella semakin menangis karena rambutnya di tarik oleh Rafael.
"Kau ini kenapa suka sekali dipaksa, Ayolah. Aku tidak akan kasar jika kau menurut padaku" Rafael semakin bengis menyerbu tubuh Bella.
"Axel!!!!!!"
*****
"Astaga! Hampir saja" Axel berseru kaget saat tak sengaja ada kucing hitam yang melintas di depan mobilnya.
"Kenapa perasaanku jadi tak enak seperti ini" gumam Axel mendadak cemas dan teringat akan istrinya. Tapi ia segera menghalau perasaan itu dan melanjutkan mobilnya.
Ia harus secepatnya pulang karena Bella pasti menunggunya. Saat di jalan depan Vila ia tak sengaja melihat seseorang yang sangat di kenal. Axel menajamkan penglihatannya.
"Indra?" panggilnya pada sosok pria yang kini tengah menurunkan bawaannya.
"Axel? Lo disini juga?" tanya Indra kaget melihat sahabatnya ada disini.
"Ya, Lo sendiri lagi apa?" kata Axel tersenyum dan turun dari mobilnya.
"Kebetulan gue ada proyek disini, Lo apa kabar?" Indra dan Axel ber give five lalu saling berpelukan.
"Baik, Gue lagi liburan sama istri gue, tapi nanti gue udah mau pulang" sahut Axel seadanya.
"Wah, Lagi Bulan madu? Bener-bener rasa penganten baru Lo" kata Indra meledek.
"Ya begitulah. Oh ya, Gue duluan. Istri gue pasti nungguin dari tadi. Kamar lo mana?" tanya Axel mengingat pesanan Bella.
"Belum tau gue, Barengan aja. Siapa tau deketan" kata Indra langsung di iyakan oleh Axel.
Mereka berjalan bersama seraya mengobrol ringan. Sampai tak terasa, Axel sudah ada di depan kamar Vila nya. Tapi ia sedikit mengerutkan dahinya saat melihat pintunya tak tertutup rapat. Seingatnya tadi ia menutup rapat.
Happy Reading.
Tbc.