MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Hunian Baru



"Kenapa makanannya di aduk-aduk aja? Apa kamu nggak suka lauknya sayang?" Tanya Mama Anita mengetahui sejak tadi Bella hanya mengacak-acak isi piringnya.


"Ah, Enggak Ma, Bella nggak selera aja" jawab Bella dengan wajah kaku.


"Kenapa? Mau menu yang lain? Kasian loh baby-nya kalau Mamanya nggak makan, Apalagi kamu punya magh" kata Mama Anita merasa sedikit khawatir mengingat jika putrinya membutuhkan asupan nutrisi.


"Nggak perlu Ma" tolak Bella memberi senyum sedikit untuk mengusir kegusaran Mamanya.


"Yaudah, kamu makan dong, sedikit aja yang penting perutnya ke isi" ujar Mama Anita lagi.


"Iya Ma" sahut Bella dengan nada malasnya.


"Nggak makan kenapa? Mau aku suapi?" suara Axel terdengar mampir di telinga Bella membuat ia melirik kesamping, mendapati Axel yang tersenyum lebar padanya.


"Cih, Nggak Sudi" cetus Bella memutar bola matanya, merasa jengkel setiap berbicara pada Axel.


Axel mengembangkan senyum tipisnya, dia kembali melanjutkan acara sarapan paginya. Baginya ini adalah hal yang istimewa, bisa sarapan bersama keluarga tanpa ada ketegangan diantara mereka. Meskipun dia termasuk orang baru disini, tapi sikap orang tua Bella yang santai membuatnya nyaman diantara mereka. Axel merasa telah kembali kerumah yang hangat.


****


"Ada beberapa hal yang ingin Papa bicarakan pada kalian" Papa Nugraha mengawali percakapan setelah semua orang menyelesaikan sarapan. Dia menatap Bella dan Axel bergantian.


"Apa yang ingin Papa bicarakan?" tanya Bella mengerutkan dahinya.


"Yang pertama, Mengenai sekolahmu, Seminggu ini Papa sudah meminta izin kepada pihak sekolah atas ketidakhadiranmu. Papa juga mendapat kabar kalau ujian akan diselenggarakan dua bulan lagi. Jadi kemungkinan besar perutmu masih bisa di tutupi dan kau bisa melanjutkan sekolahmu" ujar Papa Nugraha di ikuti helaan nafas berat. Baginya cukup sulit untuk menyembunyikan hal ini. Mengingat Perut Bella yang akan semakin besar. Tapi jika masih dua bulan lagi, sepertinya masih bisa. Setidaknya anaknya tidak sampai putus sekolah.


Bella menudukkan wajahnya, dia tak menyangka kalau Papanya memikirkan semua masa depannya. Hal itu membuat dirinya begitu lega, dan tak di hantui rasa takut kalau sampai ia putus sekolah. Karena jika sampai itu terjadi, pasti akan banyak pertanyaan dan semuanya akan terbongkar sebelum waktunya. Kenapa dulu dia berpikiran begitu sempit hingga ingin menggugurkan anak yang tak berdosa ini.


"Yang kedua, Mungkin hal ini akan membuat kau tak suka. Tapi Papa sudah memikirkan segalanya" Kata Papa Nugraha lagi, hembusan nafasnya kian berat.


"Semalam Om Danang telepon, mengatakan kalau Nenek kamu tiba-tiba drop. Jadi hari ini Papa sama Mama mau pergi ke Bandung untuk melihat nenek"


"Apa? Nenek drop? Lalu bagaimana keadaanya sekarang Pa?" tanya Bella dengan wajah kaget dan cemasnya.


"Papa belum tau, Tapi sekarang Nenek sudah ada di rumah sakit, Kita doa' kan yang terbaik untuk Nenek" kata Papa Nugraha lagi.


"Jadi Bella, Selama Papa dan Mama di Bandung Kamu tinggal bersama suami kamu, Apa kamu setuju?" Papa Nugraha mengutarakan Apa yang sejak kemarin ia pikirkan. Dia tentu tak bisa meninggalkan Bella sendirian. Karena dia sendiri tak tau kapan Nenek akan sembuh.


"Ha? Tinggal dimana maksud Papa? Bukannya Bella tetep tinggal disini?" Bella tentu kaget dengan keputusan Papanya.


"Jarak rumah kita dengan kantor nak Axel jauh, Dan sekolah kamu juga cukup jauh dari sini. Papa tak ingin nantinya nak Axel terpecah konsentrasinya antara menjaga kamu atau pekerjaannya" kata Papa Nugraha menjelaskan dengan nada pelan supaya putrinya mengerti.


Ya, semalam dia memang sudah memikirkan ini semua. Dia juga sudah berdiskusi dengan menantunya tentang tempat tinggal putrinya. Dan Papa Nugraha merasa tak masalah jika putrinya harus tinggal bersama Axel.


"Kalau gitu, mending dia yang tinggal di sana sendirian dan aku disini. Lagipula aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri" cetus Bella melirik kesal pada Axel yang ia pikir telah bersekongkol dengan Papanya.


"Apa kamu lupa kalau kamu sekarang sedang hamil. Setidaknya jika bersama nak Axel kamu akan. Kalian juga sudah menikah, jadi tak ada salahnya untuk tinggal bersama" Mama Anita ikut menimpali karena merasa cukup susah untuk membujuk anaknya.


*****


"Apa tidak ada barang lagi yang mau kau bawa?"


Axel sedang menyusun beberapa koper yang berisi baju dan keperluan Bella di bagasi mobilnya. Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang. Akhirnya Bella mau tinggal di Apartemennya.


"Nggak" jawab Bella singkat padat dan jelas.


"Baiklah, jika kau ingin sesuatu katakan saja" kata Axel lagi.


Bella tak menggubris, dia beralu pergi untuk segera masuk kedalam mobil. Axel mengulum bibirnya, melihat sikap Bella yang mengacuhkannya. Ia segera menyusul masuk mobil, tak ingin Sampai memancing kemarahan Bella yang bersumbu pendek itu.


Perjalanan menuju Apartemen dilalui tanpa insiden apapun. Baik Bella maupun Axel sepertinya tak ingin mengawali percakapan, membuat suasana di mobil begitu sunyi dan canggung.


"Biar aku saja" Axel langsung mencegah Bella yang hendak membawa kopernya sendiri.


Lagi lagi Bella tak menggubrisnya. Dia memilih menyeret kopernya sendiri. Lagipula dia hanya hamil, bukan orang sakit yang semuanya harus di layani.


"Baiklah, lakukan sesukamu Nona keras kepala" gerutu Axel di ikuti dengusan kecil melihat tingkah Bella.


***


"Disini hanya ada satu kamar tidur, Kau bisa menggunakannya" kata Axel menunjukan kamar utama yang selama ini ia tempati.


"Maaf, aku tidak punya perabotan untuk keperluanmu, Sementara ini kau bisa menaruh bajumu di lemariku dulu" kata Axel lagi menatap seluruh kamarnya yang hanya terisi perarobatan monoton khas kamar pria.


Bella tak menyahut, dia menyelonong masuk ke kamar yang sebenarnya sangat luas. Kamar dengan desain klasik namun elegan. Di sisi ruangan ada jendela besar yang ada balkonnya. Kesan dingin sangat kental di kamar Axel ini. Bella melirik Axel yang sibuk memasukan kopernya kedalam kamar.


Tadi Axel bilang, disini hanya ada satu kamar. Lalu jika ia yang menempati? Dia akan tidur Dimana?.


"Kau tidur dimana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Bella, membuat dirinya sendiri kaget.


"Bodoh, Apa yang kau lakukan Bella!" kutuk Bella dalam hatinya.


Axel mengehentikan aktivitasnya sejenak, dia sempat mengernyit mendengar pertanyaan Bella. Sedetik kemudian menyeringai.


"Memangnya kau ingin aku tidur dimana?"


"Ya mana aku tau, ini kan kamar kamu" Hell No, Bahkan sekarang Bella memanggil Axel dengan "Aku-kamu"


"Aku tidur dimana kau tidur" kata Axel tersenyum tipis.


"Ha? Kau juga akan tidur disini?" Mata Bella membesar, membayangkan harus tidur bersama pria itu lagi.


Axel tersenyum lebar, melihat wajah Bella yang mulai panik. "Ya, tentu" jawab Axel sekenannya.


"Mana bisa begitu? Kau pasti mau macam-macam ya?" tuduh Bella menyipitkan matanya melihat sikap Axel.


"Hahaha, Bella Bella, Kau ini lucu sekali. Sudah Aku hanya menggodamu. Nanti aku bisa tidur di sofa ruang tengah. Tenang saja, aku tidak akan macam macam padamu" Kata Axel tertawa lepas.


Sepertinya ini adalah tawa pertamanya. Begitu lepas seolah tiada beban apapun. Bella menatap Axel dalam dalam, Ia juga baru melihat pria itu tertawa. Tawa yang begitu manis. Membuat yang melihatnya akan tertular akan tawanya.


Selama mengenal Axel, Bella juga belum pernah melihat wajah Axel terlihat jelek. Bahkan dalam keadaan babak belur pun masih tampan. Kenapa ia baru sadar kalau ia memiliki suami yang begitu menarik.


"What?? Dia baru saja menyebut pria itu sebagai suaminya? Hell No, sepertinya otaknya benar-benar sudah tak berfungsi"


****


**Happy Reading


TBC**