MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Road To Rinjani...



Berada di Bandara seperti ini, Mengingatkan Karin pada kejadian lima tahun lalu. Dimana ia harus meminum pil kontrasepsi dan menolak mentah-mentah pertanggung jawaban dari Dio. Sebenarnya hal itu sangat menyakitkan, tapi Karin merasa akan lebih sakit jika bersama Dio sedangkan pria itu mencintai wanita lain. Bukankah hal itu akan sangat menyakitkan?


"Udah lama?" Angga baru datang langsung duduk di samping Karin.


"Enggak" sahut Karin melihat beberapa crew yang ikut datang bersama Angga. Mereka tampak membawa cukup banyak barang.


"So, Udah siap buat petualangan?" kata Angga kini menatap Karin dengan senyumnya yang menawan.


"Siap dong" sahut Karin tersenyum tipis.


Interaksi keduanya itu tak luput dari pengamatan Dio yang sejak tadi memang menatap Karin terus. Ada rasa tak senang saat melihat bagaimana Karin bisa tersenyum dan mengobrol dengan nyaman bersama Angga. Tapi kenapa jika bertemu dengannya Karin terlihat sangat dingin.


Tak lama terdengar suara pengumuman untuk melakukan boarding pass, Dio lebih dulu bangkit dan di ikuti yang lainnya. Setelah semua pengecekan selesai, mereka langsung di arahkan untuk naik pesawat. Karin mengambil duduk didekat jendela, tapi saat matanya tak sengaja menoleh, ia melihat Dio dan Cindy yang ternyata duduknya berada disampingnya.


Karin sempat baru pandang dengan Dio tapi hanya sebentar karena Angga tiba-tiba duduk disampingnya.


"Udah naik semua?" tanya Dio saat melihat Angga datang.


"Udah siap semua Bro, Road to Rinjani... Go" kata Angga kepada Dio yang berada di sampingnya. Dio mengangguk singkat.


Tak lama setelah semuanya masuk, Pramugari disana mengatakan untuk memakai sabuk pengaman masing-masing karena pesawat akan segera mengudara.


Perjalanan dari Jakarta ke Lombok memakan waktu dua jam, Karin yang pagi tadi terbangun lebih awal membuat dirinya mengantuk dan malah tertidur, Kepalanya beberapa kali terbentur jendela pesawat tapi matanya terasa sangat berat.


Dio terus melihat wanita itu, Ia kemudian melirik Cindy yang juga tertidur di bahunya. Dengan perlahan, ia memindahkan kepala Cindy lalu melihat Angga yang duduk dengan tenang.


"Ngga, Kau pindah kesini" ucap Dio membuat Angga bingung.


"Kenapa?"


"Nggak usah banyak tanya!" seru Dio dengan suara tertahan.


Angga tak membantah, Ia kemudian bangkit dan berpindah posisi dengan Dio.


"Kau mau selingkuh?" tuduh Angga membuat Dio langsung meliriknya tajam. Tanpa mengatakan apapun, Ia kemudian duduk di samping Karin lalu mengulurkan tangannya untuk menarik kepala wanita itu agar tertidur di bahunya.


Karin tampak sedikit menggeliat namun langsung tidur kembali. Dio tersenyum tipis melihat wajah Karin yang begitu dekat dengannya. Padahal hanya dengan seperti ini, Hatinya sudah menghangat. Ya, ternyata benar hanya Karin yang dia butuhkan.


******


Karin terbangun saat merasakan tepukan di bahunya, Ia mengerjapkan matanya bekali-kali untuk menyesuaikan cahaya lampu.


"Angga!" serunya kaget saat melihat wajah Angga di depannya.


Tapi kenapa tadi ia merasa mencium parfum Dio yang sangat ia kenal? Bahkan kini ia masih merasakan wangi segar itu, Apakah ia hanya bermimpi? Karin lalu melirik Dio yang masih duduk tenang di kursinya.


"Mungkin aku terlalu memikirkannya" ucap Karin dalam hatinya.


"Kita udah hampir sampai" kata Angga membuat Karin melihat ke luar jendela.


Dio kembali mengulas senyumnya saat melihat wajah Karin yang kebingungan. Untung saja Angga mau di ajak kerja sama, Ia jadi bisa mencuri waktu untuk dekat dengan Karin meskipun hanya satu jam.


Setelah dari Bandara, mereka kembali melakukan perjalanan darat selama hampir tiga jam ke lokasi Vila yang paling dekat dengan Gunung Rinjani. Suasana disana masih tampak asri dan sejuk karena sekelilingnya masih banyak pepohonan hijau yang menyegarkan mata.


Mereka tiba di Vila setelah hari sudah cukup siang, Karin langsung merebahkan tubuhnya yang terasa cukup lelah karena sejak tadi melakukan pelajaran terus.


Tok Tok Tok


"Ada apa Angga?" tanyanya dengan malas.


"Oh maaf aku mengganggumu, Dio menyuruhku memanggilmu untuk makan siang, mereka sudah menunggu" kata Angga sedikit tak enak karena melihat wajah Karin.


"Iya, nanti aku akan menyusul" kata Karin merasa perutnya cukup lapar juga.


Karin kembali ke kamar untuk mencuci muka dan mengganti bajunya. Ia menambahkan sedikit lipstik di bibirnya karena terlihat pucat. Setelah merasa tampilannya sudah rapi, Karin keluar dari kamarnya untuk bergabung bersama yang lain di restoran yang sudah tergabung menjadi satu dengan Vila ini.


Tapi ternyata sudah tidak ada orang disana, hanya tinggal Dio yang duduk diam seraya memandang pemandangan di luar.


"Dimana yang lain?" tanya Karin rasanya tak enak jika langsung duduk dan makan, sedangkan ada Dio disana.


"Istirahat mungkin" kata Dio sedikit tersenyum karena Karin mau berbicara padanya.


Karin mengangguk dan mengambil piring lalu mengambil makan siangnya. Karin makan dalam diam, ia menganggap Dio seolah tidak ada.


"Apa kau suka pemandangan?" tanya Dio setelah keheningan cukup lama.


"Suka" kata Karin singkat saja.


"Mau lihat pemandangan di sekitar sini?" kata Dio lagi.


"Ha?" Karin terbengong sesaat.


"Ya, Apa kau mau melihat pemandangan disini, Aku bisa mengajakmu melihatnya naik motor" kata Dio dengan suara lembut dan nada bersahabat. Sungguh, dia ingin memperbaiki segala yang sudah terjadi dengan Karin.


"Apa kau gila mengajakku? Bagaimana kalau kekasihmu tau? Aku tidak mau" kata Karin merasa ide Dio itu konyol sekali. Lagipula Dio pikir, Karin wanita apa yang mau-mau saja di ajak jalan oleh kekasih wanita lain dan ya.. Karin juga masih merasa tak nyaman dengan Dio.


"Biarkan saja, Kita hanya melihat pemandangan, bukan berselingkuh. Ayo" kata Dio langsung menarik tangan Karin agar ikut berdiri.


"Dio! Kau ini apaan sih" kata Karin sedikit berontak.


"Kau yakin tidak mau? Disini ada air terjun yang cukup dekat, Apa kau tidak ingin melihatnya?" kata Dio menatap Karin yang kini memasang wajah berpikirnya.


"Aku mau, tapi lain kali saja.. aku


"Jangan banyak alasan, Ayo" kata Dio kembali menarik tangan Karin dengan lembut.


Karin sebenarnya ingin menolak, tapi kenapa ia hanya diam saja mengikuti Dio. Ia bahkan menurut saja saat Dio memakaikan helm untuknya. Hatinya sepertinya sudah mulai lelah melawan rasa yang selalu ia coba tekan dalam-dalam.


"Udah siap?" Dio menoleh ke belakang, dimana Karin sudah duduk dengan tenang di boncengannya.


"Iya" sahut Karin mengangguk.


"Pegangan" kata Dio sebelum menjalankan motor trail yang sengaja ia sewa.


"Nggak usah, jalan aja" kata Karin memilih berpegangan pada demper belakang motor.


Dio sedikit tersenyum, ia kemudian melajukan motornya dengan mendadak membuat Karin kaget hingga reflek langsung memeluk tubuh dari belakang. Dio sedikit kaget saat merasakan benda empuk yang menempel punggungnya.


Happy Reading.


Tbc.