MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Lagi-Lagi Gagal.



Renata pun tak menyangka akan bertemu Karin, ia melirik Karin yang sedang menenteng cukup banyak kantong belanjaan itu. Renata tersenyum sinis, ia merasa masih kesal dengan wanita di depannya ini dan ingin sekali balas dendam.


"Oh, adik ipar. Aku tidak menyangka bertemu kau disini" ucap Renata berjalan menghampiri Karin.


"Ya, aku juga tidak menyangka ketemu kakak disini" kata Karin cuek saja. Tiara hanya diam menyimak.


"Sepertinya kau baru saja belanja banyak, Uang suami mu pasti sangat banyak sekarang, secara baru saja dapat warisan dari Papa" kata Renata sinis.


"Tentu saja, tapi tak sebanyak kak Elvan bukan?" kata Karin balas menyindir.


Mendengar itu Renata malah tersenyum sombong seraya mengibaskan rambutnya. "Memang seharusnya suamiku yang mendapatkan segalanya, tapi karena kami berbaik hati, jadi kami memberikan sedikit sedekah untuk kalian" kata Renata meremehkan Karin.


Karin hanya tersenyum menanggapinya. "Baiklah, terima kasih untuk sedekahnya kalau begitu, tidak aku sangka, kakak sangat baik sekali" kata Karin tersenyum manis, sangat manis namun matanya terlihat sangat sinis terlihat sekali mengejek Renata.


"Aku memang baik, kau baru tau ya?" kata Renata sebal juga melihat tingkah Karin yang selalu tenang.


"Hari ini, aku aku akan mentraktir kalian semua, belilah apapun yang kalian inginkan, aku akan membayarnya" kata Renata kepada teman-temannya, ia ingin menunjukkan pada Karin kalau dia punya banyak uang dan tentunya ia lebih punya segalanya dari pada Karin.


"Kau serius Renata?" tanya salah satu teman Renata. Mereka tentu kaget mendengar ucapan Renata.


"Ya, aku ingin adik iparku ini tau kalau aku memang sangat baik hati" kata Renata menarik salah satu sudut bibirnya. Ia tampak puas saat melihat ekspresi kaget Karin.


"Wah....Kau memang baik sekali, terima kasih ya" puji teman-teman Renata semakin membuat wanita itu besar kepala.


"You are welcome guys, Happy shopping" kata Renata lagi.


Karin hanya diam saja menatap apa yang dilakukan Renata, Tiara lalu menyenggol Karin yang hanya diam itu.


"Dia siapa?" tanya Tiara penasaran.


"Bukan orang penting, kita belanja saja" kata Karin tak ingin meladeni Renata.


"Hei adik ipar, kau mau kemana? Aku kan sudah bilang akan mentraktir semua hari ini, Ayo, kau juga akan mendapatkan jatah, pilihlah baju mana yang kau suka. Oh! Ajak temanmu itu juga" kata Renata menarik tangan Karin yang akan pergi meninggalkan outlet pakaian itu.


"Tidak terima kasih, aku akan membeli bajuku sendiri" kata Karin menolak tentunya, ia menghempaskan pelan tangan Renata.


"Ayolah adik ipar, aku tau kau pasti ingin membeli sesuatu disini, tenang saja. Uangku masih cukup kalau hanya membayar baju kalian berdua" kata Renata jelas sekali ingin mengejek Karin.


Karin memainkan mulutnya, sebenarnya apa sih maunya Renata ini. "Tapi baiklah, aku ikuti permainanmu Nona" kata Karin dalam hatinya.


"Baiklah, aku ingin membeli baju termahal disini" kata Karin tak ada salahnya memanfaatkan hal ini.


"Bukan masalah, pilihlah sesukamu" kata Renata puas karena Karin kau membeli baju karena traktirannya.


Karin tak menyahut, ia mengajak Tiara untuk memilih baju yang paling bagus dan harganya paling mahal. Sekalian saja mereka mengerjai Renata yang sombongnya tingkat Dewa itu.


"Karin, kau yakin? Gaun ini 50 juta?" tanya Tiara ragu saat Karin menyuruhnya memilih gaun itu.


"Kenapa tidak? Kau tidak dengar wanita tadi bilang apa? Sudah, ambil saja sesukamu, dia yang akan bayar nanti" kata Karin melirik Renata yang kini duduk santai melihat mereka.


"Baiklah, aku pilih satu saja" kata Tiara segera mengambil gaun itu.


Karin mengangguk singkat, ia juga memilih gaun yang di incarnya tadi, ternyata harganya pun lumayan mahal, tapi tak masalah, bukan dia juga yang bayar.


"Sudah selesai?" tanya Renata tersenyum melihat kedatangan Karin dan teman-temannya.


Renata hanya mengibaskan tangannya, ia segera bangkit dari duduknya dan bersiap untuk membayar.


"Totalnya 300 juta seratus lima puluh ribu Nyonya" kata kasir menyerahkan struk pembayaran pada Renata.


"Hanya 300 juta? Murah sekali" kata Renata dengan gayanya yang membuat Karin muak sekali. Ia segera menyodorkan kartu platinum miliknya.


"Pinnya Nyonya" kata kasir itu.


Renata memasukan pin miliknya, tapi entah kenapa kartunya itu di tolak berkali-kali membuat ia heran dan panik tentunya.


"Coba yang ini" kata Renata menyerahkan kartu lain. Ia tentu tak ingin sampai malu kalau sampai kartunya tidak bisa membayar.


"Maaf Nyonya, ini di tolak juga" kata Kasir itu membuat Renata kaget.


"Apa? Ini tidak mungkin! Coba sekali lagi" kata Renata mulai kesal karena kartunya semua di tolak. Ia lalu melirik teman-temannya yang mulai berbisik-bisik sumbang.


"Tetap tidak bisa Nyonya" kata kasir itu memandang Renata kasihan.


"Rena, bagaimana ini? Kau bilang ingin mentraktir kita, tapi kenapa kartumu tidak bisa di pakai bayar" kata teman Renata.


"Bisa kok, kalian tenang aja. Mungkin ada masalah, coba sekali lagi" kata Renata panik sekali. Wajahnya pun kini memerah karena cemas dan malu tentunya jika sampai tidak bisa membayar.


"Maaf Nyonya, Kartu ini tetap tidak bisa" kata kasir itu lagi. Ia sudah mencoba semua kartu itu, tapi hasilnya nihil.


"Pakai ini aja kak" kata Karin maju kedepan dan menyerahkan black card miliknya.


"Eh? Kau mau apa? Biar aku saja yang bayar" kata Renata semakin kesal karena melihat Karin menyerahkan black card. Darimana anak itu punya kartu itu, pikirnya.


"Memangnya kakak bisa? Bukannya kartu kakak di tolak semua?" kata Karin kini gantian memasang senyum sombongnya.


"Kau----?" Renata ingin sekali mengumpat kasar tapi dia menahannya.


"Kakak tenang saja, hari ini biar aku yang bayar. Hanya 300 juta kan?" kata Karin mengelingkan matanya seraya memasukan kode pinnya.


"Terimakasih atas kunjungannya hari ini Nyonya , ini kartu anda" kata kasir tersenyum ramah pada Karin setelah menyelesaikan pembayaran.


"Duluan ya kak" kata Karin beranjak pergi darisana, tak lupa melemparkan senyum mengejek pada Renata yang memasang wajah marah itu.


"Lain kali kalau tidak punya uang tidak perlu bergaya, untung ada adik iparmu, kalau tidak bisa malu kita" teman-teman Renata kembali mencibir Renata membuat amarah Renata memuncak.


Lagi-lagi dia gagal untuk mempermalukan Karin, wanita itu benar-benar licin sekali.


"Aku pasti akan membalas mu Karin" batin Renata dengan tangan mengepal erat.


******


Dio membuka pesan di ponselnya yang berisi pemberitahuan dari kartu yang baru saja di gunakan Karin. Matanya terbelalak saat melihat nominal yang tertera disana.


"Kau sepertinya sedang mengerjai ku, Nyonya"


Happy Reading.


Tbc.