MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) The End.



Langkah kaki kecil seorang anak 4 tahun tampak berlari menuruni tangga yang melingkar. Rambutnya yang panjang ikut bergerak seiring langkah kakinya yang terus berjalan.


"Jingga! Jangan lari-lari nanti jatuh" Teriak Karin dari lantai atas, ia berjalan cepat untuk menyusul putrinya yang sudah berlari keluar kamar.


Jingga yang mendengar suara ibunya berhenti sejenak, wajahnya tampak tersenyum manis namun kembali melanjutkan langkah kecilnya, ia tumbuh sangat baik, semakin lama kecantikannya semakin bertambah, matanya yang indah keturunan dari sang ayah berbinar cerah, hidungnya mancung dan bibirnya yang kecil selalu merah seperti kelopak bunga mawar. Semakin besar, Jingga semakin mirip dengan ayahnya.


Saat Jingga sampai di lantai bawah, ia kaget saat tubuh kecilnya disambar seseorang, ia langsung tertawa senang lalu mengulurkan tangan kecilnya menyentuh Ayahnya yang sedang menggendongnya. Dio membalas tawa anaknya dan menciumi pipinya dengan gemas.


"Papi, Turunkan aku" kata Jingga di sela tawanya. Tapi Dio tak melepaskannya, ia malah terus menciumi Jingga hingga anak itu kegelian.


Karin tersenyum lembut saat melihat dua orang terpenting dalam hidupnya, ia kemudian mendekati keduanya yang masih tertawa di bawah sana. Dio yang melihat istrinya langsung memberikan ciuman di dahinya. Tapi dengan cepat Jingga memisahkannya, ia memasang wajahnya yang cemberut, ia cemburu karena Ayahnya memberikan ciuman untuk Ibunya.


"Kenapa? Jingga mau juga?" kata Dio tertawa saat melihat wajah anaknya yang cemberut.


"Mau" kata Jingga manja pada Ayahnya, ia kemudian menyodorkan pipinya.


Dio tertawa seraya melirik Karin yang juga tersenyum karena tingkah Jingga yang selalu cemburu jika Dio bersikap manis pada Karin, Dio akhirnya mau memberikan ciuman di pipi anaknya itu lagi.


"Sudah, Jingga kan udah di cium Papi, sekarang ganti baju dulu yuk, nanti kan Jingga mau tiup lilin" kata Karin mengingatkan anaknya.


Hari ini memang hari ulang tahun Jingga yang ke empat tahun. Mereka mengadakan acara ulang tahun ini dengan mengundang kerabat dekat dan juga sahabat. Halaman belakang rumah Karin tampak sudah di hias, selain itu juga ia membuatkan taman bermain dadakan untuk anak-anak yang akan datang nanti.


"Nanti Hazel juga kesini Mi?" tanya Jingga menatap ibunya.


"Iya, Ada kak Gwi, kak Rendra, sama kak Eril juga, Nanti Jingga harus jadi anak baik ya" kata Karin tersenyum tipis.


"Yeeeee.....Aku akan ganti sekarang, mau pakai baju yang cantik hadiah dari Papi" kata Jingga meminta turun dari gendongan Ayahnya lalu berlari masuk kedalam kamarnya. Dio tersenyum memandang putrinya yang sudah tumbuh besar.


"Abang kenapa pulangnya telat? Ini udah jam berapa? udah tau hari ini ada acara, kenapa pulangnya telat?" kata Karin sedikit mengomel pada suaminya.


"Kan acaranya belum di mulai, Udah nggak usah marah-marah, aku baru saja pulang bekerja, apa kau tidak ingin memelukku?" kata Dio menggoda istrinya.


"Enggak, mandi dulu sana, Aku sukanya yang wangi-wangi" kata Karin tak ingin meladeni suaminya. Ia ingin berjalan menuju kamar putrinya tapi Dio segera menghentikannya dengan memeluk pinggang istrinya lalu memposisikan istrinya hingga berada bersandar di tangga.


"Kau mau kemana?" kata Dio memandang wajah istrinya dalam, rasanya sudah lama sekali mereka tak saling pandang seperti ini.


"Abang mau apa? Mandi dulu sana, nanti orang-orang keburu datang" kata Karin salah tingkah jika di tatap suaminya seperti ini. Meskipun sudah enam tahun menikah, ia tetap saja gugup jika suaminya bertingkah seperti ini.


"Kita sudah lama tidak bermesraan, aku jadi ingin mencium mu disini" kata Dio tersenyum saat melihat wajah gugup istrinya yang selalu ia sukai sejak dulu, ternyata ia masih bisa membuat istrinya salah tingkah.


"Jangan main-main Abang, nanti Jingga lihat" kata Karin menahan dada Dio saat pria itu mendekatkan wajahnya.


"Dia sedang mandi" kata Dio terus mendekatkan dirinya.


"Lalu mau apa? Di luar juga banyak orang, bagaimana nanti kalau ad...." ucapan Karin terhenti tatkala Dio langsung mencium bibir istrinya dengan lembut.


Karin sedikit kaget saat Dio sudah menciumnya, tapi ia kemudian membalas ciuman itu tak kalah lembutnya, tangan Dio menarik pinggang istrinya untuk merapatkan tubuhnya, membelai lembut punggung Karin dan memperdalam ciumannya, rasanya sudah lama sekali ia tak berciuman se nikmat ini dengan istrinya.


"Mami.....Upss..." terdengar suara kecil Jingga yang melihat kedua orang tuanya berciuman, Dio dan Karin segera melepaskan tautan bibir mereka dan menjadi salah tingkah karena ketahuan putrinya.


"Abang ish, Jingga lihat kan" kata Karin sedikit kesal lalu melepaskan dirinya dari Dio.


"Wah, anak Mami udah mandi ya, Ayo ganti baju dulu sama Mami" kata Karin mendatangi putrinya yang kini masih menatapnya dengan pandangan menuduh.


"Abang mandi sekarang, jangan sampai nanti orang pada dateng, Abang belum siap" ucap Karin pada Dio sebelum meninggalkan pria itu untuk membantu Jingga bersiap.


"Siap Nyonya" kata Dio tersenyum menggoda istrinya yang memasang wajah bersungut-sungut itu, namun meskipun begitu tetap saja wajahnya masih sangat cantik, Karin memang selalu cantik dalam keadaan apapun.


Wanita itu yang sudah mendampingi dirinya selama enam tahun, selama itu pula tak pernah sekalipun Karin mengecewakannya, Karin selalu menjadi istri dan juga sahabat yang baik untuk dirinya. Selalu ada untuknya dalam kondisi terburuk sekalipun.


"Masih belum siap juga? Di luar udah pada dateng loh" Karin terlihat memasuki kamarnya dan melihat Dio yang masih sibuk dengan dasinya.


"Aku tidak bisa memasang ini" Dio memang sudah sangat ketergantungan pada istrinya, bahkan ia tak pernah bisa menemukan barangnya sendiri karena ia selalu lupa kalau Karin tak mengingatkannya.


"Dasar manja" kata Karin pura-pura menggerutu, padahal ia senang jika Dio bersikap seperti ini padanya.


"Aku udah tau..." kata Karin memutar bola matanya malas.


"Aku juga sayang kamu"


"Iya tau, udah nggak usah gombal, di luar udah rame banget, ayo kita turun" kata Karin menepuk bahu suaminya setelah menyelesaikan simpulan dasinya.


Dio hanya tersenyum lalu mencium kening Karin sekilas sebelum mengajaknya turun ke bawah untuk memulai acara, ternyata sudah banyak sekali orang yang berkumpul, Papa Raimond, Mama Elmira, Mama Sofi lalu kerabat lainnya yang berkumpul disana.


Jingga yang sebelumnya berada di gendongan Papa Raimond tampak langsung turun dan beralih meminta gendong Ayahnya


"Papi gendong" kata Jingga manja. Dio mengangguk dan menuruti saja keinginan putrinya.


Tak lama setelah itu rombongan keluarga Bella tampak datang, Bella datang beserta suami dan ketiga anaknya membuat suasana semakin ramai.


"Anak cantik, selamat ulang tahun ya" kata Bella menjawil pipi Jingga yang masih bergelayut manja pada Ayahnya.


"Terimakasih Bella, Jingga ayo turun, ini ada kak Gwiyomi" kata Karin pada anaknya.


"Hai Jingga, main sama kakak yuk" kata Gwiyomi melambaikan tangannya, putri Bella yang ketiga ini juga tumbuh menjadi anak yang sangat cantik, memiliki segala kesempurnaan Axel dan Bella miliki, umurnya yang hanya terpaut satu tahun dari Jingga membuat keduanya tampak nyambung.


Berbeda dengan anak Tiara yang masih kecil, jadi tak begitu dekat, apalagi anak Tiara juga laki-laki.


"Aduh, Aku udah males kemana-mana sebenarnya, tapi karena ulang tahun anaknya Pak Bos, jadi harus terpaksa dateng" kata Tiara yang saat itu sedang hamil delapan bulan tampak kesusahan bergerak karena kehamilan kedua ini Tiara hamil anak kembar.


Lucu ya sebenarnya, Tiara yang menikahnya paling akhir tapi anaknya sudah mau tiga karena Tiara memang tidak memakai kontrasepsi, tentu saja Angga yang melarang karena ingin punya anak banyak.


Sedangkan Dio justru kebalikannya, ia tak mau lagi istrinya hamil karena trauma dengan kelahiran putrinya waktu lalu, selain itu juga ia tak ingin istrinya mengalami kesakitan lagi, meskipun Karin meyakinkan tidak apa-apa, tapi Dio juga meyakinkan Karin kalau satu anak sudah cukup, justru karena tak punya saudara kasih sayang mereka hanya berpusat pada Jingga.


"Karin, acaranya akan segera di mulai" kata Mama Elmira mendatangi Karin yang masih asyik mengobrol dengan sahabatnya.


"Iya, kita akan berkumpul" kata Karin mengangguk dan memanggil Dio yang juga masih terlihat mengobrol dengan Axel dan juga Angga.


Dio dan Karin berdiri di atas panggung kecil dengan Jingga berada ditengah mereka, ia tampak sangat antusias meniup lilin angka 4 di kue ulang tahun miliknya. Binar kebahagiaan tampak sangat jelas dimata semuanya, benar-benar sebuah momen yang sangat indah dan tak akan terlupakan sepanjang masa.


...Ini memang akhir sebuah kisah....


...Tapi bukan akhir sebuah cinta....


...Masih akan ada kisah yang akan tercipta...


...Tak mengapa, asalkan tokoh utamanya aku, kau dan KITA....


..._____________________________...


Akhirnya selesai juga kisah mereka berdua, Terimakasih yang sudah menemani perjalanan cinta Dio dan Karin sampai sejauh ini. Maaf kalau endingnya mengecewakan karena menurut othor kisah mereka ini sudah panjang kali lebar ya kak, mereka udah kebanyakan masalah, nanti kalau othor tambahin malah nggak selesai selesai, Hehehe..


Sekali lagi othor ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya Readers setia MARRIAGE BY MISTAKE. Terimakasih karena mau membaca karya othor yang banyak kekurangan ini.


Insya allah Othor bakal buat cerita anak-anak mereka semua, tapi nggak tau kapan, karena masih mau nerusin novel aku yang baru...


Sambil nunggu monggo mampir kalau berkenan, langsung klik profil othor ya.



Salam penulis


Virzha with love ❤️❤️


Bay bay....See you next story semuanya......


Happy Reading.


Tbc.