
Dio segera menggiring istrinya untuk masuk kedalam toilet yang letaknya tak jauh darisana. Tak lupa ia mengunci pintunya, setelah pintu itu tertutup, Dio kembali mencium bibir istrinya dengan panas.
"Ah.....Dio....Emh...." Karin men de sah dan mendongakkan kepalanya, memberikan akses pada Dio yang mengecup lehernya.
Dio memberikan kecupan-kecupan kecil di leher Karin lalu beralih ke telinga Karin dan berbisik lembut. "Sudah, hentikan. Akting mu sungguh buruk Nyonya" kata Dio menggigit pelan telinga istrinya.
Karin yang tadinya menikmati sentuhan suaminya langsung membuka mata, ia kemudian menatap Dio dan tersenyum. Sesaat kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Abang tau darimana aku cuma akting?" kata Karin berpikir ia sudah sangat bagus berpura-pura, tapi kenapa suaminya bisa tau.
"Tentu, Sudah aku bilang, kau itu tidak pandai berbohong" kata Dio mencubit pelan hidung istrinya.
"Benarkah? Tapi buktinya tadi semua orang percaya padaku, Abang juga kenapa harus menyiram Renata pakai jus itu, Abang lihat nggak mukanya tadi? Kesel banget kan?" kata Karin kembali tertawa mengingat wajah Renata tadi.
"Ya, sepertinya memberi pelajaran sedikit untuk wanita itu cukup menyenangkan" kata Dio tersenyum tipis.
"Abang benar, Dia yang sudah mulai duluan jadi bukan salah kita jika mengikuti permainannya" kata Karin juga sangat puas karena rencana mempermalukan Renata berhasil.
Ia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika ia ke toilet dan tak sengaja melihat Renata yang menyuruh seorang pelayan untuk mencampur minumannya, Karin tentu kaget tapi ia segera memutar otaknya.
Dengan tambahan sedikit uang, akhirnya Karin berhasil membuat pelayan itu beralih memihak kepadanya. Tapi rasanya Karin tak puas jika hanya ganti membuat Renata mabuk, ia dengan sengaja menambahkan sedikit obat yang nanti akan membuat Renata sakit perut.
"Setelah ini, dia pasti akan bolak-balik kamar mandi" kata Karin terbahak membayangkan apa yang akan terjadi pada Renata.
"Karin, kau...?" Dio menatap istrinya tak percaya.
"Ya, aku juga sudah memasukan obat diare ke dalam minumannya, dan aku rasa obatnya kini sudah mulai bekerja" kata Karin masih dengan tawanya.
Dio semakin tak percaya dengan apa yang di perbuat Karin, bagaimana bisa istrinya yang lemah lembut ini bisa berbuat licik seperti ini. Semua ini sungguh di luar dugaannya.
"Kenapa Abang menatapku seperti itu? Terpesona ya?" kata Karin mengedipkan matanya.
"Ya, aku tidak menyangka saja kau bisa melakukan hal ini, kau memang sangat berbahaya Nyonya, sepertinya aku harus berhati-hati padamu" kata Dio bercanda.
"Hahaha, ada-ada saja, Aku hanya membalas apa yang sudah di perbuat nya. Dengan begini aku bisa tidur dengan tenang, Ayo" kata Karin tertawa kecil lalu menggandeng tangan suaminya untuk mengajaknya pulang.
"Eh? kau mau kemana?" kata Dio menghentikan langkah istrinya.
"Tentu saja pulang" sahut Karin sedikit mengernyit.
"Kenapa terburu-buru, Kita belum menyelesaikan ini" kata Dio memerangkap tubuh istrinya di wastafel.
"Jangan gila Abang, kita selesaikan di hotel nanti" kata Karin kaget hingga matanya membesar karena tingkah Dio.
"Aku tidak sedang memberi penawaran, dan aku sangat menginginkanmu saat ini" kata Dio tanpa memberi kesempatan untuk Karin protes, ia segera membungkam mulut istrinya dengan ciuman panasnya.
"Ah...Dio...Bagaimana kalau ada petugas" Karin mencoba berbicara di antara serangan Dio yang membabi buta.
"Aku sudah mengunci pintunya" kata Dio dengan tergesa membalikkan tubuh Karin untuk mencari resleting gaunnya.
"Aku harus melepaskan ini dulu, gaun mahal tapi sangat mengganggu" bisik Dio seraya menatap pantulan wajah istrinya di cermin.
Karin mengigit bibirnya saat dengan perlahan Dio membuka resleting gaunnya, de sa han langsung lolos dari mulutnya saat Dio menciumi setiap jengkal tubuhnya dari belakang tanpa terkecuali.
Mendengar rintihan istrinya, Dio segera bangkit, Karin yang sudah tak sabar segera menarik Dio untuk kembali mencium bibirnya. Dio pun tak tinggal Diam, ia segera mengangkat kaki Karin untuk mendorong miliknya seraya perlahan kedalam lembah hangat yang siap menyambutnya.
"Ouh....Sh it.....Kau seksi sekali sweetie" Dio ikut men de sah saat miliknya terasa di jepit oleh milik Karin.
"Dio...lebih cepat....sepertinya...ada..petugas" kata Karin berganti menautkan kedua kakinya di pinggang Dio. Ia memberi kecupan kecil di sepanjang dada suaminya untuk memancing suaminya.
"Argh....Jangan menjepit ku sweetie....Argh...." Dio merasa tak kuat saat merasakan denyutan dari milik istrinya. Ia segera mempercepat gerakannya seraya memeluk tubuh istrinya erat saat dirinya sampai puncak.
"Kau curang Nyonya, seharusnya kau menungguku dulu" kata Dio memberi ciuman singkat di dahi Istrinya yang basah.
"Aku mendengar ada orang di luar, Ayo kita keluar sekarang, jangan sampai petugas hotel menangkap kita.
Baru saja Karin mengatakan hal itu, pintu toilet di ketuk dari luar. "Tuan? Nyonya? Apakah ada orang di dalam?"
Karin dan Dio saling pandang, mereka segera memakai baju mereka masing-masing. Karin lalu membasahi bajunya di bagian depan.
"Abang! Kau harus menggendongku, bilang pada mereka kalau istrimu pingsan" kata Karin panik.
"Ya" sahut Dio menyetujui saja dan menggendong tubuh Karin.
"Eh, tunggu dulu. Underwear ku tertinggal Abang" kata Karin mengumpat saat melihat kain tipis hitam miliknya teronggok di sudut ruangan.
Dio segera mengambilnya dan memasukan kedalam saku celana lalu kembali menggendong Karin dan membawanya keluar. Di depan sana, sudah ada dua petugas hotel yang menatap mereka curiga.
"Maaf, istriku baru saja muntah-muntah dan dia pingsan, saya permisi dulu" kata Dio mengangguk singkat pada kedua petugas itu sebelum berlalu pergi.
Karin tersenyum dalam gendongan suaminya, ia terus menenggelamkan wajahnya di leher Dio, hal itu membuat Dio gemas dan mengambil kesempatan untuk menciumi kepala istrinya. Dio bahkan terus menggendong Karin sampai mereka sampai di mobil dan membawanya pulang ke hotel tempat mereka menginap.
Sedangkan disisi lain, Renata tampak masih sangat marah, ia baru saja membersihkan dirinya yang lengket karena siraman jus yang di lakukan Dio.
"Kenapa kau diam saja tadi saat melihatku di permalukan seperti itu" kata Renata marah pada Elvan yang benar-benar tak perduli dengannya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? kau yang sudah mempermalukan dirimu sendiri" kata Elvan melirik Renata malas.
"Tapi setidaknya kau itu membelaku, Ini semua gara-gara wanita licik itu, Aku harus membalas perbuatan mereka" kata Renata mengepalkan tangannya erat.
"Lakukanlah sesukamu, tapi jangan sampai membuatku malu, sudah itu saja, apa kau mengerti?" kata Elvan.
"Kenapa kau mengatakan hal itu? Kau ingin main-main denganku Elvan? Apa kau lupa, aduh....." Renata masih ingin marah tapi tiba-tiba perutnya terasa sakit.
"Kau kenapa?" tanya Elvan.
Renata ingin menjawab tapi tiba-tiba terdengar suara aneh di susul bau tak sedap yang membuat ia kaget.
"Kau menjijikan!" kata Elvan menutup hidungnya saat mencium bau kentut Renata.
Renata tampak mengumpat kesal dan segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya, tapi setiap sudah selesai, ia kembali sakit perut, membuat ia harus bolak balik kamar mandi semalaman.
Happy Reading.
Tbc.