
Karin masih terdiam setelah panggilan itu berakhir, ia mengingat kalau selama ini, Dio jarang berbicara tentang Papanya. Hubungan keduanya tampak canggung dan asing, padahal seharusnya seorang anak laki-laki paling dekat dengan Papanya. Tapi berbeda dengan Dio, semenjak SMP Dio memutuskan untuk tinggal bersama neneknya yang berada di Jakarta di banding tinggal bersama orang tuanya di Kalimantan.
Karin pernah bertanya apa alasan suaminya meninggalkan rumah, tapi Dio hanya mengatakan kalau neneknya yang sudah tua ingin di temani. Meskipun itu cukup tak masuk akal, Karin tetap mempercayainya. Apalagi setelah Papanya ketahuan menyembunyikan rahasia besar itu, membuat hubungan mereka menjauh.
"Sayang...." Dio bergumam seraya menguyel-uyel pipi Karin. Tangannya bergerak liar menggerayangi tubuh istrinya.
"Hmm.....Bangun Abang..." kata Karin sedikit menggeliat karena godaan suaminya.
"Dingin, males mau bangun" kata Dio semakin mengeratkan pelukannya.
"Hari ini nggak ke kantor?" tanya Karin tersenyum tipis saat melihat wajah bangun tidur Dio yang imut.
"Ke kantor"
"Yaudah, lepasin kalau gitu. Aku buatin sarapan buat Abang"
"Enggak, gini aja" sahut Dio masih enggan merubah posisinya.
"Nanti kesiangan lagi" kata Karin menggelengkan kepalanya.
"Ya, tapi cium dulu..." kata Dio memasang tampang manjanya.
Karin tertawa kecil, ia memberi ciuman di bibir suaminya tapi seperti biasa, Dio tak akan mudah melepaskannya begitu saja. Ia malah menciumnya dengan cepat dan panas, namun hanya sekejap dan melepaskannya.
"Masak yang enak ya, Aku mau mandi dulu" kata Dio mengedipkan matanya pada Karin yang masih mencoba mengatur nafasnya.
Pukul delapan pagi, Karin sudah menyelesaikan semua menu masakannya. Ia memang punya pembantu, tapi untuk memasak, Karin lebih suka memasak sendiri.
"Abang besok ada acara nggak?" Karin memulai pembicaraan saat keduanya menikmati sarapan pagi.
"Enggak"
"Ehm...Aku mau ngomong sesuatu sama Abang" kata Karin menatap suaminya ragu. Ia menyusun kalimat yang pas untuk membuat suaminya mau di ajak ke rumah Papa Abimanyu.
"Ngomong apa?" tanya Dio melirik Karin.
"Tapi Abang janji nggak boleh marah"
Dio mengerutkan dahinya, menebak apa yang akan di bicarakan istrinya ini. "Memangnya mau ngomong tentang apa?"
"Abang janji dulu kalau nggak akan marah" kata Karin sedikit mendesak.
"Ya tergantung, kalau yang mau kamu omongin tentang cowok, aku pasti marah" kata Dio tersenyum menggoda istrinya.
"Ish, ya enggak lah. Aku mau ngomong tentang Papa" kata Karin pelan.
"Kenapa dengan Papa? Apa kolesterolnya tinggi lagi" kata Dio berpikir mertuanya yang Karin bicarakan.
"Bukan, Ini bukan tentang Papa Raimond, tapi Papa Abimanyu" kata Karin sontak membuat Dio menghentikan sarapannya. Ia menatap Karin sedikit tajam membuat Karin gugup.
"Apa dia menghubungimu?" tanya Dio dengan wajah sedikit kesal.
"Ya, Papa mau kita datang ke acara ulang tahunnya" kata Karin jujur saja.
"Tidak" kata Dio langsung.
"Kenapa? Ini acara ulang tahun Papa Abang sendiri loh, Apa Abang nggak pengen ketemu sama dia" kata Karin sebenarnya sudah tau kalau suaminya pasti menolak.
"Apa kau sudah selesai bicara? Aku akan berangkat ke kantor" kata Dio tak ingin membahas hal yang akan membuat moodnya buruk.
"Aku tidak membencinya, Tapi aku hanya belum bisa menerima apa yang dilakukannya. Karin, tolong mengertilah" kata Dio dengan tatapan sendunya.
"Iya, Tapi bukan berarti Abang harus mengabaikan Papa Abang sendiri. Abang mungkin sekarang hanya ingat hal buruk yang di perbuat Papa, tapi apa Abang lupa kalau Papa adalah seorang pria yang pertama kali menggendong Abang waktu baru lahir. Dia pria pertama yang Abang kenal sebagai seorang Ayah" kata Karin dengan suara lembutnya, tangannya terulur untuk menggenggam tangan suaminya.
Dio terdiam menatap wajah Karin yang, ingatannya melayang saat dirinya masih kecil, dimana Papanya mengajarinya naik sepeda dan saat ia terluka atau jatuh, Papanya menjadi orang yang paling khawatir.
"Tapi aku belum bisa kalau harus ketemu keluarga Papa, Kamu tau sendiri bagaimana pertemuan kita terakhir kali" kata Dio membuat Karin tersenyum.
"Justru kalau Abang terus menghindar, mereka akan senang karena berpikir Abang takut, Ini saatnya Abang tunjukkin sama mereka kalau Abang itu hebat, buktinya Abang tetap bisa berdiri dengan kaki sendiri meskipun tanpa bantuan dari Papa, benar kan pak suami?" kata Karin lembut sekali, ia sengaja menggoda suaminya untuk merayu hatinya.
Terbukti wajah Dio sudah tak sekeras tadi, ia kini tersenyum manis menatap istrinya.
"Baiklah, kita akan datang" kata Dio mengangguk singkat.
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya suamiku" kata Karin mengelingkan matanya membuat Dio tertawa.
"Sudah berani ya?" kata Dio menarik tangan Karin hingga duduk di pangkuannya.
"Abang ih, Turunin nggak" kata Karin menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan diri.
"Enggak, siapa suruh kau menggodaku. Sekarang kau harus tanggung jawab Nyonya" kata Dio mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada empuk istrinya.
"Tanggung jawab apa? Udah sana berangkat, udah siang banget loh ini"
"Biarkan saja, Aku kan CEO nya, jadi terserah aku mau berangkat jam berapa" kata Dio enteng.
"Hmm...Kalau bosnya males gini, gimana anak buahnya nanti, harusnya Abang itu kasih contoh yang bagus" kata Karin sedikit mendorong wajah Dio yang bermain di dadanya.
"Apa? Aku masih mau ini, Kamu hari ini wangi banget, aku suka" kata Dio malah semakin menguyel-uyel dada istrinya.
"Alesan aja, udah sana berangkat. Aku juga mau hubungin Papa kalau kita bisa datang besok, Papa pasti seneng banget"
"Nggak usah, Biar aku aja yang hubungin nanti" kata Dio.
"Baiklah, Aku akan mempersiapkan keperluan kita kalau begitu" kata Karin.
"Nggak usah bawa banyak barang, kita cuma sehari disana"
"Kenapa cuma sehari? Aku juga mau lihat kota kelahiran Abang, disana pasti masih asri banget kan? Deket hutan-hutan gitu ya" kata Karin membayangkan pulau Kalimantan yang memiliki lahan pohon kelapa sawit, pasti udara disana sangat sejuk, pikirnya.
"Enggak, Disana panas, Kan rumah aku di ibu kotanya, lagipula ngapain lihat hutan" kata Dio lagi.
"Tapi pasti ada tempat bagus , Abang nggak pengen apa ngajak aku jalan-jalan" kata Karin memasang wajah cemberutnya.
"Langsung gitu mukanya, Baiklah, aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti, tapi tidak gratis ya" bisik Dio dengan sengaja.
"Sama istri sendiri perhitungan" kata Karin mencibir membuat Dio tergelak.
"Kalau itu beda sistemnya Nyonya, Apa sekarang aku ambil dp nya aja" kata Dio menaik turunkan alisnya.
"Dp Ap...." Karin langsung menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Dio mencium bibirnya.
"Makasih, Dp nya luar biasa" bisik Dio setelah membuat Karin kalang kabut dengan tingkah impulsif nya.
Happy Reading.
Tbc.