MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Bukan Lawan Yang Sepadan



Bianca pikir semuanya akan mudah saat ia mengancam Axel dengan membuat berita yang menghancurkan namanya. Bianca sudah sangat yakin kalau Axel pasti akan memohon padanya. Jadi saat melihat pria itu mendatanginya, Bianca merasa sangat senang. Ia tidak pernah mengira Axel malah akan balik mengancamnya.


Apalagi pria itu tak main-main dengan apa yang dilakukan. Tubuh Bianca terasa sangat kaku karena moncong pistol itu terus ditekankan oleh Axel ke perutnya hingga mereka tiba disebuah bangunan yang sangat megah.


"Turun!" Bentakkan Axel kembali terdengar mengejutkannya yang sedang melamun.


Ia tentu sangat kesal namun tak membantah karena ia tak mau menyulut kemarahan Axel yang mengerikan. Saat turun, tangannya tiba-tiba di cekal oleh dua orang pengawal.


"Hei! Apa-apaan ini! Lepaskan aku" teriak Bianca meronta, ia merasa kesal tubuhnya disentuh orang jelek.


Para pengawal itu tak menggubris, ia langsung menyeret tubuh Bianca dengan kasar tak perduli wanita itu tersandung-sandung mengikutinya. Mereka bahkan langsung mendorong tubuh Bianca hingga tersungkur di lantai.


"Kurang ajar! Beraninya kalian!" teriak Bianca begitu kesalnya karena mendapatkan perlakukan kasar.


Pandangan Bianca lalu beralih pada Axel yang duduk dengan menghisap rokok ditangannya. Asap tampak mengepul menutupi wajahnya.


"Cepat katakan apa mau mu!" Ucapnya begitu geram.


"Kau sangat tau apa yang aku inginkan" sahut Axel masih dengan gayanya yang santai.


"Cih, Jika kau ingin balas dendam padaku silahkan. Kau bisa menyiksa bahkan membunuh ku pun tak akan mengembalikan nama mu yang sudah hancur" kata Bianca tersenyum sinis.


"Tentu, aku dengan senang hati akan melakukannya" kata Axel bangkit dari duduknya dan mendatangi Bianca yang mulai ketakutan namun sekuat tenaga ia berpura-pura tak takut.


"Kalau begitu kenapa kau tidak melakukannya! Dasar pria pengecut!" Bianca semakin tersulut emosinya karena sikap Axel yang tenang.


Axel hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Bianca. Ia segera menarik tubuh Bianca hingga membentur dadanya membuat Bianca panik, apalagi bau asap rokok yang menyengat membuatnya hingga terbatuk.


Tanpa ancaman atau perkataan, Axel tiba-tiba menekan rokoknya yang masih menyala ke lengan Bianca membuat wanita itu menjerit.


"Argh...! Brengsek! Kau benar-benar gila!" teriak Bianca melihat lengannya yang terbakar karena ulah Axel.


"Kau lihat? Begini saja kau sudah panik? Sepertinya bermain-main denganmu akan lebih menyenangkan" kata Axel menyeringai menikmati wajah Bianca yang ketakutan.


"Lalu kau mau apa? Mau menyiksaku? Lakukan saja! Pria gila!" kata Bianca dengan tatapan tajam menusuk seolah dia akan bisa menahan apa yang akan Axel lakukan padanya.


"Tentu itu hukuman yang rendah. Apa yang kau lakukan padaku tidak sebanding dengan hukuman itu. Tenanglah, Akan ku buat kematian mu tak akan mudah" kata Axel merasa suka sekali memainkan emosi Bianca.


"Lakukan jika itu mau mu! Ingat Axel, aku tak akan membiarkan hidupmu senang! Bahkan di alam sana aku akan menuntut balas pada mu dan wanita murahan itu!" Teriak Bianca begitu keras.


Axel sedikit mengerutkan dahinya mendengar ucapan Bianca. "Jangan banyak berbicara! Siapkan saja kata-kata terakhir mu!" kata Axel lagi.


"Hahaha, Kau pasti sangat takut sekarang. Bagaimana kalau wanita yang puja itu sampai tau apa yang sudah kau lakukan?" Bianca tertawa melihat wajah Axel yang mulai berubah. "Ternyata kau memang ba ji ngan. Bagaimana bisa kau menghamili anak kecil itu. Dan, oh aku turut berduka atas kematian anak haram mu...


Axel begitu marah mendengar Bianca menyebutnya anaknya haram. Ia langsung mencekik leher wanita itu hingga membuatnya berhenti bicara.


"Tutup mulutmu! Kau sama sekali tidak pantas menyebut atau bahkan menghinanya dengan mulut kotor mu!" teriak Axel tepat di depan muka Bianca.


"Le-pas-kan...." Bianca memukul-mukul tangan Axel agar pria itu melepaskannya.


"Kau sudah berani bermain-main denganku! Sekarang rasakan balasannya!" Axel mendorong tubuh kecil itu hingga limbung. Ia lalu memberikan gestur pada anak buahnya yang langsung sigap memencet tombol hingga dinding yang tadinya berisi lemari itu bergeser memperlihatkan singa- singa yang tampak menggeram di balik jeruji.


"Axel! Apa yang akan kau lakukan!" Bianca begitu panik melihat singa singa itu. Bahkan germanannya kini berubah menjadi auman yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Kau benar-benar sudah gila!" teriak Bianca menatap ngeri pada Axel.


"Aku memang gila! Dan kau salah memilih lawan, orang sepertimu bukan tandingan orang gila sepertiku! Lepaskan saja mereka" ucap Axel lagi membuat Bianca begitu kaget.


Bianca langsung menjatuhkan tubuhnya bersujud pada Axel. "Axel! Lepaskan aku! Aku minta maaf karena telah melakukan ini semua! Aku akan pergi dan tak akan mengusik kehidupan mu lagi. Bahkan bayanganku sekalipun tak akan mendekatimu lagi. Axel! Aku mohon maafkan aku" Bianca sudah membuang harga dirinya. Ia lebih sayang nyawanya dan tak ingin mati dengan cara yang begitu mengerikan.


"Sayangnya kau sudah terlambat! Lagipula aku tidak yakin kalau kau tidak ingkar janji nanti" kata Axel dengan tenang


"Tidak!Tidak! aku pasti akan menepati janjiku. Aku akan pergi sejauh mungkin. Aku bersungguh-sungguh Axel. Asal jangan lakukan itu padaku" kata Bianca tak ingin merasakan sakit yang lebih parah. Axel bukan tipe orang yang suka mengancam atau berbasa basi. Bahkan ia dengan tega menyulut lengannya langsung tanpa peringatan.


Axel menarik sudut bibirnya melihat wajah Bianca yang begitu ketakutan. Ia tentu tak akan melakukan hal segila itu.


"Baiklah, Aku tidak akan melakukan hal ini" kata Axel membuat Bianca mengendurkan bahunya. Hatinya begitu lega karena tidak jadi makan siang para singa itu.


"Tapi kau jangan senang dulu. Aku bukan berarti memaafkan mu. Kau harus melakukan satu hal untukku baru aku akan melepaskan mu" kata Axel dengan seringai liciknya.


"Apa itu?"


****


Bella masih berdiam diri di kamar selama beberapa hari ini. Ia malas sekali melakukan apapun. Hatinya masih merasa sakit dengan apa yang sudah Axel lakukan.


"Masih belum mau bangun juga?" terdengar suara Papa Nugraha baru saja masuk melihat Bella yang masih bergelung dengan selimut tebalnya. Padahal hari sudah cukup siang.


"Males" sahut Bella merasa mulutnya lengket karena sudah lama tak berbicara.


"Papa hari ini libur, Mau jalan kemana?" tanya Nugraha dengan lembut membuat Bella mengerutkan dahinya. Tak biasanya Papanya mengajak keluar, Seingatnya terakhir kali mereka pergi bersama adalah saat hari kelulusannya SMP.


"Papa mau ngajak Bella pergi?" Bella beringsut untuk duduk. Rasanya tak sopan berbicara dengan orang tua sambil duduk.


"Ya, Papa juga bosen di rumah terus. Pengen sekali-kali jalan keluar sama putri Papa yang cantik ini" sahut Nugraha tersenyum tipis mengelus kepala anaknya dengan sayang.


"Papa serius?" Bella menatap Papanya tak yakin.


"Serius dong, Sekarang kamu siap-siap. Papa juga harus izin Mama dulu"


"Mama nggak ikut?" tanya Bella cukup kaget.


"Nggak. Mama ditinggal di rumah aja. Ini saatnya kita kencan berdua aja" Papa Nugraha mengerling matanya pada Bella yang masih kaget dengan sikapnya.


***


Jangan lupa dukungan like dan komen..


Dikasih kopi othor juga mau.. hehehe


Happy Reading


TBC