MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Welcome To Kalimantan.



Di perjalanan ke kantor, Dio segera mengubungi Papanya dan mengatakan akan datang. Pria yang sejatinya menjadi panutannya itu tampak sangat senang mendengarnya, Papanya bahkan sempat ingin mengirimkan pesawat pribadi untuk menjemput Dio dan Karin, tapi Dio melarangnya, dan mengatakan untuk naik pesawat biasa.


Dio memilih jam penerbangan pagi, agar mereka bisa beristirahat dulu sebelum mengikuti acara pesta itu. Mereka berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul delapan pagi, dan akan sampai di Kalimantan setelah 1jam 45 menit perjalanan.


"Kamu tidur dulu aja, Kamu tadi bangunnya pagi banget" ucap Dio pada istrinya yang terlihat sangat bersemangat itu.


"Iya" kata Karin mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Abang inget nggak waktu kita perjalanan ke Gunung Rinjani dulu" kata Karin.


"Pasti inget dong, kenapa?" tanya Dio merangkul bahu istrinya.


"Waktu itu aku tuh mimpi aneh banget"


"Mimpi apa?"


"Ya, aku mimpi kalau Abang meluk aku di pesawat, tapi mimpi itu kayak nyata banget" kata Karin membuat Dio tersenyum.


"Itu bukan mimpi" kata Dio tersenyum tipis.


"Maksud Abang?" tanya Karin mendongak menatap suaminya penuh rasa ingin tau.


"Ya, waktu itu aku emang meluk kamu" kata Dio tersenyum mengingat tingkahnya waktu itu.


"Ha? Bukannya waktu itu Abang sama Cindy?"


"Memang, tapi aku sengaja tukeran posisi sama Angga biar bisa deket sama kamu"


"Kenapa Abang ngelakuin itu?"


"Ya kamu kalau aku deketin kabur terus, aku jadi takut, dan memilih untuk memperhatikan kamu dari jauh. Aku takut kalau kamu kembali menjauh sebelum aku mendekat" kata Dio.


"Aku rese banget ya dulu" kata Karin tersenyum mengingat sikapnya dulu.


"Jangan ditanya kalau itu"


"Kalau sekarang gimana?"


"Kalau sekarang, malah rese banget" kata Dio tertawa saat melihat wajah Karin yang mulai kesal.


"Abang ih, Kalau aku rese kenapa Abang cinta?" seru Karin kesal.


"Cinta itu buta dan tuli, tak melihat, tak mendengar, namun datangnya dari hati. Tidak bisa di pungkiri"


"Kalau itu lirik lagu Abang ish" kata Karin semakin sebal.


"Tapi itu kan beneran sayang, Cinta itu emang nggak ada yang tau datangnya darimana, tapi yang jelas, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu sebuah kebahagiaan. Dan itulah yang aku rasakan saat bersamamu, aku selalu bahagia saat bersamamu dan aku selalu mencari mu disaat kamu nggak ada" kata Dio kini memandang teduh pada istrinya.


Karin tersenyum mendengar perkataan suaminya. "Abang emang jago banget kalau di suruh nge gombal" kata Karin.


"Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sampai detik ini aku tidak pernah berbohong padamu Nyonya" kata Dio santai saja.


Karin tak menyahut, ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Dio. "Aku mau tidur dulu, Nanti bangunin ya" ucapnya mencium harum tubuh suaminya yang selalu membuatnya candu.


"Sweet dreams Wifey...." bisik Dio mengecup pelan kening istrinya.


Pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandara Tjilik Riwut saat waktu menunjukkan pukul 09.45. Dio sudah ingin membangunkan istrinya tapi ternyata Karin sudah terbangun terlebih dulu.


"Udah bangun ternyata, Aku baru aja mau gendong kamu" ucap Dio membuat Karin mencibir.


"Ya, nanti malemnya kita nginep di hotel aja" kata Dio menggandeng tangan istrinya. Tapi seketika langkahnya terhenti saat melihat sosok Papa Abimanyu yang sudah menunggunya di lounge Bandara.


"Papa!" kata Dio sedikit kaget.


Abimanyu tersenyum dan langsung memeluk putranya. "Selamat datang Dio, Papa senang kalian datang" kata Abimanyu menepuk punggung Dio seraya memberikan senyum tipis pada menantunya.


"Terima kasih, Kenapa harus repot-repot jemput" kata Dio membalas pelukan itu.


"Ini pertama kalinya kalian datang kesini, jadi Papa sengaja menjemput kalian. Ayo, kita makan dulu, kalian pasti belum makan kan?" kata Abimanyu tak bisa menyembunyikan binar kebahagiannya. Ia senang karena setelah sekian lama, Akhirnya Dio mau mengunjunginya ke Kalimantan.


Dio sempat melirik Karin yang mengangguk dan tersenyum pertanda ia tak keberatan dengan ajakan Papa mertuanya.


Abimanyu banyak mengajak Dio mengobrol untuk mengurangi kecanggungan antara mereka, meskipun Dio hanya menjawab sedikit-sedikit tapi hal itu sudah membuat Abimanyu senang. Tapi Dio dan Karin sedikit heran saat Abimanyu mengajak mereka ke restoran friend chicken yang ada taman bermainnya.


"Papa serius kita makan disini?" tanya Dio menatap Papanya tak percaya.


"Ya, kamu dulu suka banget ajak Papa kesini. Kamu bilang makan disini suka dapet hadiah banyak, tiap bulan hadiahnya ganti-gantikan?" kata Abimanyu membuat Dio tercengang.


"Papa pikir aku anak kecil" seru Dio sedikit sinis.


"Abang!" bisik Karin memberi tatapan memperingatkan pada suaminya saat melihat raut wajah Papa Abimanyu yang berubah.


"Jadi kamu nggak mau makan disini?" kata Abimanyu menatap putranya yang ternyata sudah sangat dewasa. Padahal sepertinya baru kemarin saat Dio suka merayunya jika menginginkan sesuatu.


"Mau kok Pa, Abang itu suka makanan apa aja, Ayo, Aku juga udah laper" sahut Karin tak ingin membuat mertuanya kecewa. Ia segera menarik tangan Dio yang ogah-ogahan.


Abimanyu tersenyum saat melihat Dio menurut pada istrinya, sepertinya menantunya memang satu-satunya wanita yang cocok untuk mendampingi putranya.


"Abang mau pilih mainan apa? Kata Papa Abang suka banget mengoleksi mainan darisini, bener kan Pa?" kata Karin melirik Papa Abimanyu.


"Bener, tiap minggu pasti Dio suka ngajak makan disini. Papa ingat entah berapa banyak mainannya waktu dulu" kata Abimanyu sedikit tersenyum mengingat tingkah putranya dulu.


"Dulu dan sekarang itu berbeda, Aku nggak suka mainan, aku udah laper, kamu mau pesen apa?" Dio sengaja mengabaikan Papanya karena sebenarnya kini hatinya mulai diliputi oleh perasaan aneh saat mengingat kedekatan mereka dulu.


"Samain sama Abang aja, Tapi aku juga mau dapet hadiah, coba Abang yang pilihin" kata Karin.


Dio menekuk wajahnya, ia menatap beberapa hadiah yang di sengaja di pajang untuk menarik perhatian anak-anak. "Yang benar saja, ini mainan anak-anak sayang, Untuk apa kau menginginkannya?" kata Dio menatap Karin bingung.


"Ya kan aku juga pengen, kalau Abang nggak mau pilihin biar aku aja yang pilih kalau gitu" kata Karin memandang satu persatu hadiah yang berjejer, ada action figur, lampu tumbler, dan bermacam-macam hadiah lainnya.


Dan Karin menjatuhkan pilihannya pada bunny hat yang terlihat sangat lucu. "Bagus kan? coba Abang pakai, pasti lucu" kata Karin memasang bunny hat itu di kepala suaminya.


"Karin, Apaan ini, Aku nggak mau" kata Dio ingin melepas bunny hat itu, tapi Karin langsung mencegahnya.


"Biarin aja, lucu banget tau Abang" kata Karin benar-benar gemas melihat wajah suaminya yang imut saat menggunakan bunny hat itu.


"Yaudah, kalau gitu kamu juga harus pakai. Mba, kasih satu hadiah lagi yang sama kayak gini" kata Dio meminta satu bunny hat lagi dan memakaikan pada Karin.


Karin malah tersenyum senang saat memakai bunny hat itu, ia menekan-nekan tombol yang membuat telinga bunny hat itu bergerak-gerak. Ekspresi Karin tampak sangat lucu membuat Dio gemas.


"Udah, malah kamu yang keasikan, Kita harus makan dulu, kasihan Papa daritadi nungguin" kata Dio melirik Papa Abimanyu yang hanya tersenyum tipis melihat interaksi keduanya.


Happy Reading.


Tbc.