MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Kejadian Di Vila.



"Halo?" kata Karin menerima panggilan dari suaminya.


"Apa saja yang kau beli hari ini?" tanya Dio penasaran kenapa istrinya bisa menghabiskan uang segitu banyaknya dalam waktu sehari.


Bukan masalah apa, Dio hanya heran karena istrinya ini tak suka menghamburkan uang dan membeli barang yang tak penting. Jadi melihat hal itu membuat Dio kaget.


"Abang, nanti aku akan jelaskan. Apa kau marah?" suara Karin terdengar takut karena ia menghabiskan banyak uang hari ini.


"Marah untuk apa? Aku malah senang, habiskan saja uangku tapi kau harus menghabiskan waktumu bersamaku" kata Dio tersenyum tipis.


Karin terdiam sesaat mendengar ucapan suaminya, tapi kemudian tersenyum. "Kalau begitu pulanglah lebih awal hari ini, aku akan menghabiskan malam ini bersamamu" kata Karin mesra.


Dio semakin melebarkan senyumnya. "Aku pasti akan secepatnya pulang" kata Dio sebelum mengakhiri panggilan itu. Ia bahkan masih tersenyum setelah panggilan itu berakhir membuat Angga yang berada disampingnya heran.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Dio mengangkat alisnya.


"Tidak apa-apa, Karin sudah pulang?" kata Angga.


"Kenapa kau ingin tau istriku sudah pulang atau belum?" kata Dio mendadak dingin. Ia menatap Angga sedikit tajam.


"Aku hanya bertanya" kata Angga biasa aja. Tak terpengaruh dengan sikap Dio.


"Ya sudah, semua sudah bereskan? Aku ingin langsung pulang sekarang" kata Dio melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul enam sore.


Angga mengangguk tipis, setelah semuanya beres mereka berdua berjalan untuk meninggalkan kantor Papa Abimanyu. Dio bahkan sudah tak sabar ingin segera menemui istrinya itu, Angga pun begitu, ia juga sudah merindukan Tiara, padahal belum genap sehari mereka tidak bertemu.


"Tuan Dio?" Terdengar suara asisten Papa Abimanyu memanggil membuat langkah mereka terhenti.


"Ada apa?" tanya Dio.


"Anda di panggil Tuan Abimanyu, beliau mengatakan kalau ada beberapa hal yang harus di bahas"


Dio menghela nafas, sepertinya keinginannya pulang lebih awal tidak bisa di lakukan. Padahal ia sudah membayangkan wajah cantik istrinya dan ingin menemui wanita itu segera.


*****


Divila, Karin tampak masih mengembangkan senyumnya ketika panggilan itu berakhir. Ia kemudian beranjak dari kasurnya untuk membuka kantong belanjaannya tadi. Karin tersenyum geli saat melihat apa yang sengaja di belinya tadi. Yaitu sebuah lingerie tipis berwarna merah maroon.


Lingerie itu sangat seksi sekali, bahkan Karin merasa lingerie itu tak akan menutupi apapun jika di pakai karena bermodel menerawang. Karin yakin, suaminya pasti tak akan tahan jika melihatnya memakai lingerie itu.


Karin kemudian mandi dan memakai parfum yang sangat di sukai Dio. Ia menyemprotkan di area leher dan tangannya karena Dio sering sekali menciumi daerah itu. Karin menatap dirinya kembali di cermin, benar-benar seksi sekali, warna maroon itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih membuat Karin tampak bersinar.


Saat dirasa sudah cukup, Karin segera keluar kamar mandi, ia mengerutkan dahinya saat melihat lampu ruangan dimatikan.


"Abang?" panggilnya berfikir Dio sudah pulang. Apa mungkin Dio yang mematikannya?.


Tak ada jawaban membuat Karin semakin mengerutkan dahinya. "Abang?" panggil Karin lagi melangkah memasuki kamar tapi seketika langkahnya terhenti saat ada yang memeluknya dari belakang.


"Abang? Ish, ngagetin aja sih" kata Karin kesal dan memukul tangan pria yang melingkari tubuhnya.


"Abang udah pulang? Kenapa nggak panggil aku? Ini juga kenapa lampu di matiin?" kata Karin setengah menggerutu.


Namun orang itu tak menjawab, tapi ia malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Karin. Bibir orang itu juga tampak mulai menyentuh pundak Karin dengan kecupan-kecupan kecil. Karin merasa aneh, kenapa Dio hanya diam saja?


Seketika otaknya langsung bekerja, ia merasakan orang itu semakin menciumi tengkuknya dan tangan orang itu bergerak liar.


"Tidak, ini bukan Dio" batin Karin saat tidak mencium bau harum cendana mint segar khas suaminya.


"Argh......Siapa kau? Lepaskan!!! Tolong" Karin berteriak dan terus berontak dari pelukan orang itu. Ia sangat panik dan ingat traumanya dulu saat ia di perkosa di ruangan gelap.


Tapi seketika matanya membesar saat tiga orang pria asing berdiri di depannya saat cahaya lampu kamar mandi tak sengaja mengenai bagian kamar.


"AAAAAAAAAA.......SIAPA KALIAN???" Karin semakin panik dan berusaha keras melepaskan diri dari pria yang memeluknya.


"DIOOOO.....TOLONGGGGGG?!!!!!!


Ia menendang dan memukul dengan membabi buta tapi tak bisa melepaskan jeratan itu sama sekali. Karin kemudian menggigit tangan pria itu membuat jeratan itu terlepas, dan secepat mungkin ia berlari ke arah sumber cahaya.


"JANGAN LARI KAMU! SIALAN!!" Pria yang tadi menjerat Karin tampak memaki dan emosi.


Mendengar makian pria itu membuat tiga pria yang tadi berdiri di depan Karin bergerak untuk menangkap Karin. Tapi Karin masih lebih dulu sampai di kamar mandi dan menutup pintu. Tiga orang itu tampak menahan pintu itu tapi Karin sekuat tenaga mendorongnya.


Brak!!!!!


"SIALAN!!!!"


"BUKA PINTUNYA"


DAK DAK DAK DAK


Karin langsung mengunci pintunya dan menangis didalam kamar mandi. "Abang dimana? Aku takut" ucap Karin berjongkok seraya menutup telinga rapat tak ingin mendengar orang yang saling memaki dari luar.


"Buka perempuan murahan!" teriak orang itu lagi di susul gedoran pintu yang sangat keras.


Tapi tak lama setelah itu, Karin mendengar suara orang yang seperti bertengkar disertai umpatan dan makian yang membuat Karin tak tahan dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia akan selalu seperti ini jika mendapatkan tekanan yang berlebihan.


"Anjing! Berani sekali kau mengganggu istriku!" itu jelas suara Dio lalu terdengar kembali keributan yang cukup lama.


"Karin? Karin? Kamu dimana?" terdengar suara Dio yang sangat khawatir.


"Karin?" itu benar-benar suara Dio membuat Karin memberanikan diri untuk menyahut dari dalam kamar mandi.


"Abang...?" ucapnya seraya menahan tangis. Tubuhnya bahkan masih gemetar karena rasa takut.


"Karin? kamu di dalam?" Dio segera mendatangi kamar mandi dan mengetuknya. "Buka pintu sayang...ini aku" kata Dio lagi lebih lembut.


Karin mengusap air matanya dan membuka pintu itu perlahan dengan sisa tenaga yang tersisa. Begitu pintu terbuka, Dio langsung merengkuh tubuhnya dalam pelukannya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dio menciumi rambutnya berkali-kali. Suara pria itu terdengar bergetar karena amarah.


"Kamu nggak apa-apa?" ulang Dio lagi.


Karin menggeleng lemah seraya terisak dalam pelukan suaminya, ia memeluk tubuh Dio erat untuk menyalurkan rasa takut yang masih melanda dirinya.


"Syukurlah..." Dio bernafas lega, ia tak henti menciumi puncak kepala Karin. "Kamu beneran nggak apa?"


Karin kembali menggeleng namun masih terus terisak, perasaannya campur aduk. Antara syok, takut, sekaligus lega karena bisa bertemu Dio.


Happy Reading.


Tbc.