
"Kamu terlalu berlebihan, Aku bisa menyelesaikan ini semua. Kamu nggak perlu ikut campur" kata Dio membuat Karin meradang.
"Nggak perlu ikut campur? Terus apa gunanya posisi sebagai istri kalau nggak pernah di ajak ngobrol masalah suami sendiri? Abang mau ngobrol sama siapa? Cewek lain?" kata Karin menatap Dio sengit.
Dio memandangnya tak percaya dan matanya berkilat marah namun ia menahannya. "Kamu ngomong apa sih, Aku cuma nyuruh kamu nggak terlalu memikirkan ini, sudah itu saja. Aku pasti akan menyelesaikan ini semua. Ini bukan masalah besar, jadi kamu nggak usah lebay"
"Lebay? Abang bilang aku lebay? Abang sebenarnya cinta nggak sih sama aku sampai keinginan aku buat menjadi teman ngobrol Abang anggap lebay" kata Karin mendadak menjadi sosok yang cengeng. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca.
"Kenapa malah melebar kemana-mana? Aku baik-baik saja Karin, Nggak ada yang perlu di khawatirkan tentang aku. Ini tuh nggak seperti yang kamu bayangkan dan aku minta sama kamu, jangan pernah lagi stalking meja kerja aku, ini area pribadi" kata Dio meraih berkas-berkas yang di bawa Karin dan memasukannya ke laci.
Ucapan Dio yang terakhir itu menyulut emosi Karin. "Aku istri Abang! Bukan stalker seperti wanita penggoda yang suka ganggu Abang dan suka mengirim pesan di tengah malam!" teriak Karin sangat kesal hingga ia menangis. Ia kesal karena Dio menganggapnya seorang penguntit.
"Apa?" Dio justru ikut marah karena Karin mengatakan hal itu. Ia berdecak dan menghela nafas. "Aku capek, besok aku ada meeting penting" kata Dio mendudukkan dirinya di kursi kerja.
"Dan aku bukan stalker" kata Karin masih dengan suara meninggi. "Kertas itu semua berserakan di meja dan aku tidak sengaja membacanya! Lain kali kalau nggak mau orang lain tau, beresin makanya mejanya" kata Karin lagi.
"Udah, aku nggak mau kita bertengkar. Mendingan kamu keluar dari ruangan aku, Kayaknya kita butuh waktu sendiri, malam ini aku tidur disini" kata Dio merasa lelah sekali dan tak ingin memperpanjang masalah dengan bertengkar dengan Karin.
Mendengar itu Karin menggelengkan kepalanya. Dio mengajaknya tidur terpisah?
"Kenapa nggak pisah rumah sekalian!" ucap Karin kemudian berlalu dari ruang kerja Dio dan membanting pintunya dengan keras.
Keesokan harinya, Karin sengaja mengabaikan Dio. Ia masih kesal dengan sikap pria itu yang mengajaknya tidur terpisah. Bahkan ia tak menyiapkan baju kerja Dio dan membuatkan sarapan, Karin masih menunjukkan aksi mogok bicaranya.
"Aku mau berangkat" kata Dio dengan suara datar, ia melirik Karin yang sejak tadi masih asyik bergelung dalam selimut tebalnya.
Karin tak menyahut, ia malah pura-pura bermain ponselnya. Karin pikir Dio akan membujuknya, tapi nyatanya pria itu langsung berangkat ke kantor.
"Aku berangkat sekarang, kamu baik-baik di rumah" kata Dio sebelum pergi dari kamar.
"Pergi yang jauh sana" teriaknya sebal, ia mengambil bantal dan melemparkannya ke bayangan pintu dimana Dio menghilang.
Selama di ke kantor, Karin mengisi waktunya untuk datang ke rumah sahabatnya Bella. Ia menceritakan semua yang di alaminya pada sahabatnya itu, meskipun tidak membantu tapi dengan bercerita, Karin bisa sedikit mengurai keresahan hatinya.
"Gwiyomi tidur?" tanya Karin melirik bayi mungil yang sejak tadi dalam belaian Bella.
"Tidur, kalau pagi suka banget tidur, tapi kalau malam nggak mau tidur" sahut Bella mencubit gemas pipi anaknya yang menggeliat karena ulahnya itu.
"Bergadang terus dong?" kata Karin ikut memegang lembut bayi mungil itu.
"Aku sih enggak, Papanya yang bagian jaga malam" kata Bella tertawa kecil mengingat setiap malam suaminya selalu tersiksa karena harus terus menggendong Gwiyomi yang sering rewel jika malam hari.
"Suami siaga itu namanya" kata Karin tersenyum kecil.
"Ya harus, kan dia yang buat, jadi dia juga yang harus tanggung jawab" kata Bella.
"Kelihatan banget ya?" kata Karin sedikit tersenyum kecut.
"Ya, cerita aja" kata Bella pengertian.
"Dio lagi kena masalah, dia...." Karin pun menceritakan semua masalah yang melibatkan suaminya itu.
"Apa semua suami di dunia ini begitu? Kenapa coba harus nutupin masalah ini dari istrinya" kata Karin tak mengerti kenapa Dio sampai merahasiakan hal sebesar ini padanya.
"Axel juga dulu gitu waktu pertama kita nikah, Aku juga merasa nggak di hargai sebagai istri, tapi kamu jangan mikir macem-macem, Dio mungkin nggak mau kamu khawatir" kata Bella mengingat bagaimana dulu Axel yang tak pernah melibatkan dia dalam hal apapun.
"Ya, semoga masalah ini cepat selesai. Aku bener-bener capek ngelihat Dio harus bolak-balik ke Kalimantan. Aku lihatnya aja capek, apalagi dia" kata Karin menghela nafas pelan.
Bella mengangguk tipis, ia juga mendoakan semoga masalah sahabatnya ini cepat selesai.
"Mama! Aku pulang...." terdengar suara riuh anak-anak berlarian ke ruang tengah.
Karin langsung mengembangkan senyumnya saat melihat kedatangan Rendra dan Eril. "Hai Rendra, Eril, baru pulang?" kata Karin mengulurkan tangannya ketika Rendra dan Eril meminta bersalaman.
"Iya, Aunty tumben kesini? Mau main game bareng aku ya?" kata Rendra bersemangat karena ia senang saat Karin mengajaknya bermain dulu.
"Wah, Emang masih berani lawan aunty?" kata Karin tertawa kecil seraya mengerlingkan matanya pada Bella yang ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Beranilah, Aku udah di ajarin sama Papa. Aku pasti bisa ngalahin Aunty" kata Rendra lagi.
"Benarkah? Aunty jadi takut nih kalau nanti kalah" kata Karin menggoda Rendra.
"Alah, gitu aja Aunty takut. Aku yakin kalau Aunty pasti menang hari ini. Kakak belum jago kok" sahut Eril tampak mencibir.
"Enak aja, kamu lupa, aku kemarin udah ngalahin Papa" kata Rendra tak terima.
"Bisa jadi Kakak hanya beruntung. Ayo sekarang, kakak lawan Aunty Karin, nanti kalau Kakak kalah, Kakak harus traktir aku es boba" kata Eril membuat Bella tertawa karena merasa putra keduanya ini memang persis sekali seperti dirinya. Selalu tak mau kalah.
"Oke, tapi kalau aku menang. Kamu yang harus traktir aku" kata Rendra siap saja. Ia percaya diri kalau dia akan menang.
"Siapa takut, Kak Karin pasti menang" kata Eril lagi membuat Karin dan Bella tertawa. Dia yang menantang, tapi malah mengajukan orang lain untuk bermain.
Di umurnya yang masih enam tahun, Rendra memang sudah sangat pintar bermain game. Saat Axel membelikan seperangkat komputer untuk Rendra, Bella langsung marah karena Rendra masih terlalu kecil, tapi menurut Axel, hal itu justru akan melatih kecerdasan otak Rendra karena bermain game juga perlu trik dan kejeniusan.
Bella tak mendebat, tapi ia sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu sering dan jangan sampai melupakan tugas sekolah.
Happy Reading.
Tbc.