MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Anda Sudah Menikah?



Di sebuah kamar mewah terdengar benda-benda berjatuhan membuat kamar itu menjadi begitu berantakan. Bianca mengamuk melampiaskan amarahnya dengan membanting seluruh barang miliknya.


"Argh!!!" Dia juga berteriak-teriak seperti orang gila.


"Kenapa? Kenapa kau tidak membalas cintaku" Bianca menangis sesenggukan. Dia menjambak rambutnya frustasi karena tak mendapatkan cinta Axel.


"Berhentilah bersikap bodoh seperti itu" Suara Jordy Ayah Bianca terdengar, ia melihat kamar anaknya yang seperti kapal pecah. Penampilan Bianca pun terlihat awut awutan.


"Sekarang bukan saatnya kau menangisi hal yang tidak perlu, Sebaiknya kau lakukan sesuatu agar pria itu mau menikahi mu"


"Dengan cara apalagi? Aku sudah menggunakan berbagai macam cara, tapi apa yang aku dapat? Hanya rasa malu, karena Axel tak pernah melirikku sedikitpun" Bianca kembali marah jika mengingat sikap Axel selama ini.


"Seharusnya Ayah yang membujuk Om Indra untuk meneruskan pertunangan ini" kata Bianca lagi menatap Ayahnya yang hanya diam saja.


"Tidak perlu, karena Indra sendiri yang akan meminta Axel untuk menikah mu" kata Jordy mengisap dalam rokok di tangannya. Bibirnya tersenyum misterius membuat Bianca tak mengerti.


"Apa maksud Ayah? Apa Ayah punya rencana lain?" Bianca bergegas mendatangi Ayahnya untuk meminta penjelasan.


"Kau akan tau nanti, sekarang bersiaplah! Bersihkan tubuhmu. Ayah jijik melihat penampilanmu"


Bianca mendengus mendengar ucapan Ayahnya. Ia cukup penasaran dengan maksud perkataan Ayahnya. Tapi tak membantah, Ia yakin pasti Ayahnya melakukan hal yang terbaik untuknya.


***


Pukul dua siang saat Axel kembali dari meeting bersama Tuan Robert. Ia merasa puas karena sudah berhasil meyakinkan Tuan Robert untuk bekerja sama dengan perusahannya.


"Terimakasih atas kerjasama nya Tuan Robert, Besok Asisten saya akan mengantarkan berkas kontrak ke perusahaan Anda" Kata Axel menjabat tangan Tuan Robert dengan senyum tipis di bibirnya.


"Sama-Sama Tuan Axel, Saya juga senang bisa bekerja sama dengan pengusaha hebat seperti Anda" puji Tuan Robert seolah begitu kagum dengan Axel.


Axel hanya membalas dengan senyuman pujian itu. Hal itu sudah biasa dilontarkan untuk sekedar basa basi baginya. Axel lalu pamit undur diri karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Tuan Axel, Maaf jika Anda tidak keberatan, Malam ini saya mengadakan Acara Ulang tahun pernikahan. Bisakah Anda datang?" kata Tuan Robert mengehentikan Axel yang ingin keluar. Ia mengangsurkan sebuah undangan dengan desain minimalis dan cantik.


Axel menatap Tuan Robert yang menatapnya penuh harap. "Saya usahakan" jawab Axel tak bisa berjanji. Apalagi dia tak begitu suka pesta.


Axel menyandarkan kepalanya sejenak untuk menghilangkan rasa lelah yang mendera. Tak ada waktu istirahat baginya, Sekarang ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Tangerang untuk mengecek pembangunan Mall di sana. Namun dia teringat sesuatu.


"Berhenti Bram!" ucapnya secara tiba-tiba mengejutkan Bram yang sedang menyetir mobil.


"Ya Tuan?" Bram menatap Axel dengan wajah bertanya.


"Apa pengecekan Mall ini bisa di tunda?"


Bram mengerutkan dahinya mendengar perkataan Axel. Tak biasanya Axel menunda-nunda pekerjaan.


"Bisa saja Tuan, Kita harus menghubungi Kepala proyek di sana dulu"


Axel terdiam sesaat, Sebenarnya ia ingat jika harus menjemput Bella. Meskipun wanita itu mengatakan ingin naik taksi. Tetap saja ia merasa tak tenang. Tapi jika pun ia menjemputnya, pastilah Bella akan marah.


"Kenapa Tuan? Anda ingin membatalkannya?" tanya Bram seolah mengerti kebimbangan Axel.


"Tidak perlu, kita lanjutkan saja"


****


Bella tiba di Apartemen Axel saat waktu sudah menjelang malam. Di tangannya terdapat beberapa kantong belanjaan yang entah apa saja isinya. Yang jelas ia baru saja me time bersama kedua sahabatnya dengan berbelanja.


Hari ini Bella merasa senang, sejenak melupakan kalau sekarang ia sedang hamil. Meskipun tadi ia sempat bermain kucing-kucingan dengan kedua sahabatnya karena Bella tak mau jika mereka tau kalau sekarang ia tinggal di Apartemen Axel.


Oh..Ngomong-ngomong tentang Axel, Bella baru ingat kalau ia belum melihat pria itu sama sekali. Tadi saat ia datang, lampu Apartemen juga masih padam. Menandakan kalau Axel belum pulang sama sekali. Ah..Sudahlah untuk apa juga dia memikirkan pria itu. Lebih baik sekarang ia mandi, karena tubuhnya sudah begitu lengket karena beraktivitas di luar seharian.


****


"Bram, Antarkan aku ke Apartemen saja" ucap Axel pada Bram yang setia bersamanya.


"Baik Tuan" kata Bram patuh, namun ia baru ingat jika ada hal lain yang mungkin bosnya lupakan.


"Maaf Tuan, Asisten Tuan Robert baru saja menelfon. Mengatakan jika kehadiran anda sangat dinanti oleh beliau"


Axel terdiam sesaat, ia benar-benar lupa jika mendapatkan undangan dari koleganya.


"Bagaimana Tuan? Apakah anda akan datang?"


"Dimana lokasinya?"


"Di hotel Dewarna Tuan"


Axel kembali diam, dia sebenarnya begitu malas. Tapi mengingat Tuan Robert tadi yang memberikan undangannya sendiri, Axel menjadi merasa tak enak. Lokasinya pun cukup dekat dengan Apartemennya, Jadi dia mungkin bisa menghadiri pesta itu sebentar.


"Baiklah, Aku akan datang"


****


Pesta yang di adakan termasuk pesta yang cukup mewah untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan. Tapi bagi orang seperi Tuan Robert, hal itu tentu tak masalah jika ia harus merogoh kocek yang cukup mahal. Selain itu banyak sponsor yang turut memeriahkan acara tersebut.


Axel langsung disambut oleh Tuan Robert sendiri saat dia datang. Banyak pasang mata yang memandang kagum pada dirinya, karena melihat Axel menghadiri pesta adalah hal yang cukup langka. Padahal Axel tak dandan paripurna, wajahnya pun terlihat begitu lelah dan dingin.


"Tuan Axel, Saya sangat senang anda bisa datang" Tuan Robert berbicara dengan penuh senyum menghiasi wajahnya.


"Ya, Saya ucapkan selamat untuk Anda dan Istri Anda" kata Axel seraya berjabat tangan dengan Tuan Robert.


"Terima kasih Tuan Axel, mari duduk dulu"


Axel tak sempat menolak saat Tuan Robert menarik tubuhnya untuk duduk di kursi tamu. "Maaf Tuan, tapi saya sedang buru-buru...


"Sebentar saja Tuan Axel, Sekalian kita merayakan kerja sama antara perusahaan kita" kata Tuan Robert sedikit memaksa.


Baiklah, Axel terpaksa menuruti permintaan orang tua itu meskipun hanya sekedar basa basi.


"Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan orang hebat seperti anda, Tak banyak loh orang muda seperti anda bisa mengolah bisnis sendiri"


"Anda terlalu berlebihan Tuan Robert" Axel mulai muak dengan sikap Tuan Robert yang ingin menjilatnya.


"Hahaha, Tapi sayang anda belum memiliki kekasih. Bagaimana kalau saya kenalkan pada putri saya?"


Akhirnya Tuan Robert mengutarakan apa maksud tujuannya mengundang Axel ke pesta itu. Lagipula siapa yang tak ingin mempunyai menantu kaya raya dan tampan seperti Axel. Bagi nya Axel adalah calon menantu yang sangat cocok.


Axel menarik salah satu sudut bibirnya. Terlihat senyumnya yang begitu sinis namun Tuan Robert tak menyadarinya. Ia sudah cukup hafal dengan trik seperti itu.


"Wah, Sayang sekali Tuan Robert, Saya memang belum memiliki kekasih" ucap Axel membuat Tuan Robert mendapatkan angin segar.


"Tapi saya sudah memiliki istri" kata Axel dengan senyuman manisnya tak perduli wajah Tuan Robert yang begitu terkejut.


"Anda sudah menikah?"


***


Happy Reading


TBC