
"Iya Bu, Udah nggak muntah tapi Axel lemes banget. Bella kasih makan apa-apa nggak mau. Ini lagi tidur anaknya"
"Jadi, kalian nggak jadi pulang hari ini?"
"Ya enggak, Nunggu Axel sembuh dulu. Nanti Bella kabarin lagi ya" kata Bella menutup teleponnya.
Bella menelpon sang mertua karena setengah harian ini Axel muntah dan belum makan apapun. Setiap mencium bau makanan perutnya langsung mual dan muntah, membuat tubuhnya lemas. Bella sudah menawarkan ingin ke dokter, tapi Axel menolaknya.
"Nona, Ini makanan yang anda minta" ujar pelayan Vila membawa se nampan makanan.
"Oh iya, Langsung bawa masuk aja" Bella berjalan mendahului pelayan untuk masuk ke kamarnya. Dilihatnya Axel yang masih tertidur pulas. "Taruh situ saja" ujar Bella menunjukkan meja kecil di kamar.
Pelayan itu mengangguk dan segera meletakkannya. Setelah ia berpamitan undur diri. Bella menatap wajah suaminya yang pucat karena belum makan apapun sejak tadi.
"Sayang, Bangun..." ujarnya mengguncang pelan bahu suaminya.
"Hmm..." Axel bergumam dan membuka matanya.
"Gimana? Udah enakkan?" tanya Bella seraya menyodorkan air putih pada Axel.
Axel hanya menggeleng, Perutnya masih perih dan tidak enak. Mulutnya pun begitu pahit dan entah kenapa ingin sekali makan sesuatu yang asam atau pedas.
"Makan dulu ya, Biar cepet sembuh" kata Bella mengambil meja kecil dan meletakkannya di depan Axel.
"Aku sedang tidak ingin makan" kata Axel memang tak ingin makan apapun saat ini.
"Harus makan By, Sedikit aja. Aku suapi ya" kata Bella dengan lembut membujuk suaminya.
"Aku makan apa?" tanya Axel melirik makanan Bella bawa.
"Makan bubur dan sup. Mungkin kau punya magh, jadi harus makan makanan lembut dulu"kata Bella lagi lalu mulai menyuapi Axel.
Axel ingin protes namun dia hanya diam dan membuka mulutnya. Tapi baru saja ia makan satu suap, perutnya langsung mual. Bella yang melihat wajah Axel seperti itu langsung menyingkirkan meja keja didepan Axel dan suaminya itu langsung melesat pergi ke kamar mandi.
"Huek....Huek...." Axel kembali muntah padahal ia belum makan apapun.
"Kamu muntah parah gini By, Kita ke dokter aja ya" kata Bella kasihan melihat suaminya yang lemas.
"Aku tidak apa-apa. Besok juga akan sembuh" kata Axel menolak ide itu. "Singkirkan saja makanan itu, Aku tidak tahan dengan baunya" kata Axel lagi.
Bella mengeryitkan dahinya saat mendengar hal itu. Tak tahan baunya? Padahal bau masakan itu begitu menggoda selera. Tapi melihat wajah suaminya yang benar-benar pucat, Bella tak banyak bertanya dan membawa makanan itu keluar.
Ternyata Axel masih mengalami muntah-muntah selama tiga hari ini. Ia juga tak banyak makan membuat ia lemas kehabisan tenaga. Bella yang sudah tak tega melihat suaminya seperti itu langsung membawanya ke rumah sakit, tak perduli Axel yang merengek tidak mau dibawa.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter? Kenapa dia muntah-muntah terus?" Tanya Bella setelah suaminya di periksa. Ia berpikir kalau Axel salah makan atau apa.
"Apa sebelumnya Tuan Axel pernah mengalami hal seperti ini?" tanya Dokter dijawab gelengan oleh Axel.
"Kapan terakhir Nona datang bulan?" tanya Dokter itu membuat Bella bingung, kenapa malah ia yang ditanya tentang datang bulan.
"Mungkin 3 atau 4 minggu yang lalu saya dapat dok, saya juga lupa" kata Bella mengingat-ingat kapan terakhir menstruasi.
"Ini sedikit aneh, Tapi Saya rasa, Tuan Axel mengalami sindrom couvade atau biasa disebut kehamilan simpatik" kata Dokter itu membuat kedua orang itu bingung.
"Kehamilan simpatik? Maksud dokter suami saya hamil?" tanya Bella dengan polosnya membuat dokter itu tersenyum. Sedangkan Axel semakin mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Bella yang absurd.
"Istri saya hamil dokter?" Wajah Axel berubah antusias saat mendengar penjelasan dokter itu.
"Ya, Sepertinya. Tapi Mungkin, Nona bisa mengeceknya dulu" kata Dokter itu menyerahkan sebuah testpack pada Bella yang terbengong-bengong.
"Eh? Saya...
"Ya, Sayang cobalah" kata Axel benar-benar bersemangat.
"Apakah saya boleh mencoba dirumah dokter?" tanya Bella merasa malu jika mengecek disini.
"Ya tidak apa-apa. Semoga hasilnya baik ya. Saya akan meresepkan obat untuk Tuan Axel untuk mengurangi mual dan muntahnya" kata Dokter itu mencoret-coret kertas lalu memberikannya.
"Terimakasih Dokter, Permisi" ujar Axel begitu tak sabar. Padahal tadi tubuhnya begitu lemas.
Sesampainya di Vila pun Axel langsung menyuruh Bella mengecek alat itu segera. Bella malah merasa Axel akan kecewa jika hasilnya ia tidak hamil.
"By...Bagaimana kalau aku tidak hamil?" tanya Bella membuat Axel bungkam.
"Coba saja dulu. Aku terima apapun hasilnya" kata Axel sedikit tersenyum.
Bella mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Ia meletakkan testpack itu ke dalam wadah yang berisi urinenya. Bella sendiri harap-harap cemas dengan hasilnya. Setelah beberapa saat Bella melihat hasilnya dan matanya membesar.
Axel menunggu diluar dengan tak sabar. Ia benar-benar sangat berharap jika Bella hamil. Tak lama pintu ruangan kamar mandi terbuka, Axel segera melihat wajah Bella yang tak bersemangat, Sepertinya ia tau apa yang terjadi.
"By...
"Iya. Tidak apa-apa. Mungkin belum rejeki kita" kata Axel entah menenangkan Bella atau diri sendiri. "Sepertinya, aku harus bekerja keras untuk membuatmu hamil nanti" kata Axel mencoba tertawa menutupi kekecewaannya.
"Ya, Kau memang harus bekerja keras untuk menjaga ku By. Karena... Hasilnya positif By! Aku hamil!!!" kata Bella dengan senyumannya yang lebar menunjukkan hasil testpacknya.
"Hamil? Apa kau serius Bella?"
Bella mengangguk dan tersenyum. Axel langsung menyambar tubuh Bella memeluknya dan memutar-memutarnya karena bersemangat sekali.
"Yes! Akhirnya aku akan menjadi Papa" teriak Axel begitu kegirangan.
"Terima kasih sayang. Aku berjanji akan menjagamu melebihi nyawaku sendiri. Aku mencintaimu" Axel memeluk Bella dengan penuh cinta. Mulutnya tak henti menciumi wajah istrinya.
"Aku juga mencintaimu By" Bella merasa terharu dan menangis dalam pelukan suaminya.
Disaat seperti ini, ia malah mengingat masa kehamilannya dulu yang begitu kacau. Sekarang kabar itu malah disambut keduanya dengan bahagia. Bella sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kepercayaan. Ia harus lebih menjaga dirinya baik-baik saat ini.
"Mulai sekarang kau tidak boleh melakukan apapun. Kau tidak boleh sampai kelelahan" titah Axel begitu serius.
"Astaga By! Aku ini hanya hamil bukan sakit, kenapa..
"Hanya katamu? Sayang, Aku mohon kali ini menurut lah. Aku sudah pernah kehilangan putriku dan aku tidak mau sampai terjadi apapun padamu"
Happy Reading.
Tbc.
Likenya jangan kelewatan ya ðŸ¤ðŸ˜‚😂