MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Menikah Besok.



Setibanya di rumah Karin, Dio tak membuang waktunya. Ia segera mengetuk pintu dengan sedikit tak sabar. Saat pintu rumah terbuka, Elmira sedikit mengerutkan dahinya karena merasa tak kenal dengan Dio.


"Selamat siang Tante" ucap Dio mengulas senyum manis.


"Siang, kamu siapa?" tanya Mama Elmira seperti pernah bertemu pria ini, tapi ia lupa. pikirnya.


"Saya Dio tante"


Elmira sedikit kaget mendengar nama Dio, ia lalu menatap keseluruhan tampilan Dio yang datang dengan tangan di sangga dan wajah cukup babak belur. Sepertinya pria ini yang memang sudah di tunggu oleh anaknya.


"Karin ada disana" kata Elmira mengajak Dio ke taman belakang rumahnya.


"Terima kasih tante" kata Dio mengangguk sopan.


"Dia sudah menunggumu" kata Elmira menepuk pelan pundak Dio sebelum pergi meninggalkan keduanya untuk memberi waktu.


Perlahan Dio mendekat ke arah Karin yang terlihat sedang duduk di kursi taman belakang rumahnya. Wajahnya tampak kuyu dan pucat karena tidak bisa tidur sejak kejadian penculikan Dio waktu lalu.


Karin rasanya tak kuat setiap detik yang berlalu tanpa Dio membuatnya hampir gila. Ia sudah sangat merindukan pria itu, ia rindu ingin menghambur pelukan lengan kokoh yang membuatnya sangat nyaman.


"Kamu apa kabar?" ucapnya kembali menetaskan air matanya.


"Karin" kata Dio berdiri tepat di belakang Karin.


Mendengar suara berat yang khas itu membuat mata Karin membesar. Suara itu? Apakah dia hanya salah dengar dan kembali berhalusinasi. Karin menggelengkan kepalanya, sepertinya ia memang salah dengar.


"Karin" bisik Dio lagi membuat Karin seketika menoleh.


Jantung Karin terasa berhenti berdetak dan matanya membesar melihat sosok yang di nantikan. Pria ini memenuhi pikirannya, bahkan pria ini membuat dia tak memikirkan apapun lagi bahkan dirinya sendiri. Sekarang pria itu berdiri tepat di belakangnya.


Dio yang melihat wajah wanitanya tampak begitu tertekan dan juga lelah. Dia tau Karin pasti sangat tersiksa seperti dia yang juga tersiksa karena tak bisa melihat cintanya dari kemarin.


Dio menyunggingkan senyum manisnya, matanya ternyata sudah basah karena pertemuan ini. Karin bahkan sudah berlinangan air mata saat pertama melihat Dio, apalagi melihat tangannya yang di sangga dan kepalanya yang di perban.


Dio merentangkan tangan kirinya yang tidak di sangga dan Karin tau artinya. Perlahan ia bangkit lalu masuk kedalam pelukan pria yang sangat dicintainya ini. Tangisnya semakin pecah saat bisa mencium bau tubuh Dio yang sangat khas.


"Aku kembali untukmu" bisik Dio membuat Karin semakin mengencangkan tangisnya.


Sesaat pelukan itu terasa dalam, Karin mendongak menatap wajah Dio yang langsung disambut ciuman penuh perasaan dari Dio. Seolah Dio ingin melepas semua rindu yang sudah di tahan, Karin pun begitu, ingin melepas gundahnya yang akhirnya menemukan obatnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Karin setelah ciuman penuh kerinduan itu selesai dan mengajak Dio untuk duduk. Wajahnya tampak sedih sekali melihat keadaan Dio seperti ini.


"Aku tidak apa-apa. Ini aku dapat karena aku melawan. Jangan cemas lagi, ya" kata Dio lembut sekali, ia mengusap air mata Karin yang terus membasahi wajahnya.


"Ya, Bagaimana kau bisa ada disini? Siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Karin sejak tadi menerka.


"Kata Angga, Axel yang sudah melakukan ini semua, tapi dia tidak ingin ada orang tau tentang ini. Dia juga tidak ingin sampai keluarganya kenapa-kenapa karena kasus ini" kata Dio menjelaskan.


"Entahlah, untuk sekarang aku tidak mau memikirkannya. Aku hanya ingin bisa di dekatmu. Bagiku itu yang paling penting sekarang" kata Dio kembali menarik Karin kedalam pelukannya.


Karin tersenyum manis dan menyadarkan pipinya di dada Dio. Ia pikir, ia sudah tak bisa lagi melihat wajah pria yang dicintainya. Tapi nyatanya ia masih di beri kesempatan itu berkat bantuan sahabatnya Bella. Ia harus berterima kasih pada sahabatnya itu.


"Ehem...." suara deheman terdengar membuat keduanya menoleh.


Karin sedikit kaget melihat Papa dan Mamanya disana. Ia segera bangkit di ikuti Dio yang tak melepaskan genggaman tangannya pada Karin.


Raimond tampak mengerutkan dahinya melihat anaknya dan Dio begitu dekat. Ia baru saja pulang karena mendapatkan telepon dari istrinya. Elmira hanya mengembangkan senyum tipisnya melihat keduanya.


"Om" kata Dio memberikan salamnya.


"Ya. Masuklah. Kalian berdua pasti sangat lelah. Aku ingin membicarakan beberapa hal pada kalian" kata Raimond membuat Dio dan Karin saling pandang. Mereka menebak apa yang akan di bicarakan oleh Papa Karin.


Raimond sudah duduk di kursi kesukaannya, ia menatap Dio yang sejak tadi tak melepaskan tatapan matanya darinya. Tangan pria itu juga terus menerus menggenggam tangan anaknya. Raimond menarik sudut bibirnya.


"Jadi, Kau itu sepupunya Nathan?" tanya Raimond dengan suara khas dirinya yang tegas.


"Benar Om" sahut Dio mau tak mau mengakui karena memang itulah kebenarannya.


"Aku sudah mendengar kasus mu. Dan aku ikut prihatin dengan hal ini, kau juga jadi terluka begini" kata Raimond lagi.


"Iya Terima kasih Om. Aku juga ingin mengatakan maksud tujuanku datang kesini. Aku ingin melamar putri anda. Aku sangat mencintainya Om dan Izinkan aku menjaganya" kata Dio dengan nada seriusnya membuat Karin menatap Dio tak percaya. Namun juga bangga dan bahagia melihat keberanian Dio.


Raimond kembali menarik sudut bibirnya. "Apa kau yakin bisa menjaganya? Melihat apa yang dilakukan keluargamu aku merasa ragu kau bisa melakukannya. Bagaimanapun juga darah lebih kental dari pada air bukan?" kata Raimond membuat Dio terdiam sesaat.


"Papa, Jangan samakan Dio dengan Nathan. Mereka itu berbeda. Setiap orang memiliki haknya masing-masing. Dan Papa tidak berhak menghakimi Dio karena kesalahan orang lain" kata Karin menyela begitu saja. Dio menarik lembut tangan Karin, ia cukup tidak suka dengan cara Karin yang melawan orang tuanya.


"Papa hanya ingin memastikan segalanya. Bagaimana Dio? Apakah hal itu salah? Apa yang akan menjamin jika kau tidak akan menyakiti putriku?" kata Raimond kembali menatap Dio.


"Anda Benar Om, Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku bukanlah Nathan dan Aku adalah diriku sendiri yang berjanji tidak akan menyakiti Karin. Aku pastikan akan menjaga dan menyayangi Karin melebihi nyawaku sendiri" kata Dio menatap Raimond sedikit tajam dengan nada bicara yang mantap.


"Baiklah, Kalau kau sudah berjanji dan aku harap kau akan menepati janji mu itu" kata Raimond lagi.


"Pasti Om" kata Dio tegas.


"Lalu, Kapan orang tuamu akan kesini?" tanya Raimond.


"Malam ini, Karena aku ingin kami menikah besok" kata Dio membuat semuanya orang kaget.


Happy Reading.


Tbc.