
Seandainya waktu bisa di ulang kembali. Semua orang pasti ingin mengulanginya. Untuk menghapus kenangan buruk yang pernah di alaminya. Begitupun Bella yang ingin melakukannya jika bisa. Tapi hal itu sangat mustahil terjadi. Dia hanya mengutuk kebodohannya waktu itu. Kenapa dia harus ke tempat itu? Kenapa harus mabuk?. Kalau saja waktu itu dia memilih pulang ke rumah, dia pasti tak akan kehilangan kesuciannya.
Dan kini, Bella kembali harus bertemu pria itu lagi. Ya Tuhan, rasanya Bella ingin menenggelamkan dirinya.
"Ayo Bel, Kebiasaan ih suka bengong" seruan Karin dengan tak sabar menyadarkan Bella yang sejak tadi beradu pandang dengan Axel.
"Iya" Bella langsung menuju jok paling belakang karena merasa tempat itu yang cukup jauh dari Axel.
Sebenarnya Axel duduk dibagian paling depan bersandingan dengan Jofan yang memang tak menggunakan supir hari itu. Dikursi kedua ada kak Diana dan Bianca yang senantiasa mengikuti Axel kemanapun. Selain masalah pekerjaan, tentunya ingin melakukan pendekatan. Meskipun hubungan mereka belum ada kemajuan, tapi setidaknya Bianca masih cukup senang karena bisa berdekatan dengan Axel.
Setelah semua naik, Jofan langsung melajukan mobilnya. Suasana di mobil sangat canggung. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing masing.
"Oh ya dek, kamu tadi belum jawab pertanyaan kakak" ucapan Jofan terdengar memecah kesunyian di mobil.
"Masih inget aja!" Sahut Tiara yang duduk dibelakang bersama Bella Karena Karin ingin duduk di depan berdekatan dengan Axel.
"Jadi?" Jofan melirik adiknya yang tampak sudah bermalas-malasan.
"Aku itu lagi ada acara bakti sosial tadi di Desa Rawa Panjang, Terus mau pulang tapi mobilnya mogok" Jelas Tiara seadanya.
"Kalian dari lokasi longsor dan banjir itu?" pertanyaan itu di lontarkan Diana ikut nimbrung.
"Ya, Dan kalian darimana? Kok tumben barengan sama kak Axel? Lagi double date ya?" tebak Tiara langsung mendapat lirikan tajam dari Axel, tapi dia tak menyadarinya.
"Ngaco! Kakak emang lagi ada kerja bareng Axel disini, Eh Kakak ipar kamu pengen ikut, Ya Kakak ajak aja, sekalian liburan"
"Terus kenapa Kak Bianca juga ikut?" tanya Tiara lagi merasa tak puas dengan jawaban Kakaknya. Dalam otaknya sedang menebak, kalau Antara Axel dan Bianca itu pasti ada sesuatu.
"Haha, Anda sangat lucu Nona, Aku kan sekretaris Tuan Axel, Jadi jika ada pekerjaan aku ikut" Bianca sengaja menjawab karena melihat wajah tak nyaman Axel. Dia tersenyum kecut melihat hal itu, Apakah memang tak ada sedikitpun tempat untuknya?.
"Oh, Aku pikir kalian pacaran, Udah cocok kok, kenapa nggak jadian aja" Tiara memang tipe orang ceplas ceplos, dia selalu mengutarakan isi kepalanya saat itu juga.
"Cocok menurut Lo Ra, belum tentu hati mereka cocok" sahut Karin tak setuju rasanya jika Bianca dan Axel dikatakan pasangan cocok. Karena baginya Axel itu hanya cocok bersanding dengannya.
"Ya siapa tau Kak Axel ada rasa sama kak Bianca, secara mereka kan Deket terus, Nggak mungkin kalau nggak ada chemistry"
"Tiara Andini!" suara Jofan yang memanggil Tiara dengan nama lengkap menjadi pertanda jika Jofan sedang sangat serius.
"Hehe, Maaf Kak" kata Tiara tersenyum kikuk saat menyadari jika dirinya salah bicara. Apalagi dia sempat melihat wajah Axel dari kaca spion yang terlihat kesal.
"Lain kali jangan bicara sembarangan!" Kata Jofan memperingatkan.
"Iya iya, Kok kakak yang bawel sih!" seru Tiara dengan nada ngambeknya.
"Dia itu nggak sopan sama Lo" ucap Jofan kembali melirik adiknya yang kini pura pura sibuk dengan ponselnya.
Axel memilih diam tak menanggapi lagi, namun dia sedari tadi asik memandang Bella yang sedang tidur dari kaca spion. Axel tau jika wanita itu hanya pura pura. Mungkn sengaja untuk menghindarinya.
Bella sendiri memilih memenjamkan matanya rapat, berpura pura tidur supaya tak ada yang menggangunya. Meskipun begitu, telinganya tetap awas dan mendengar jelas ucapan Tiara barusan. Entah kenapa dalam hati kecilnya merasa tak rela jika Tiara mengatakan Axel dan sekretarisnya itu cocok. Tapi ada benar juga, mereka selalu terlihat berdua. Bisa saja mereka menyembunyikan hubungan mereka. Ah kenapa juga dia harus memikirkannya, saat ini dia hanya makan dan pulang. Titik!
****
Axel POV
Setelah ketemu Bella di pertunangan Jofan waktu lalu. Aku merasa hatiku semakin tak karuan. Rasa bersalah terus menghantuiku saat membayangkan wajah Bella yang menangis dengan putus asa. Aku bingung harus berbuat apa. Aku sudah minta maaf, tapi mungkin hal itu tak cukup untuk menebus kesalahanku.
Aku sempat berfikir ingin memberikan dia uang kompensasi untuk hal yang aku perbuat. Tapi setelah aku pikir, Bella bisa saja semakin marah dan membenciku. Tapi apa perduliku? Disini bukan hanya aku yang bersalah. Dia yang lebih dulu menggodaku. Aku hanya salah karena menanggapinya saat dia sedang mabuk.
Memangnya apa yang bisa dilakukan pria seperti dirinya jika dihadapkan dengan tubuh yang begitu ranum dan menggoda. Ah jika aku mengingat malam itu, rasanya tubuhku kembali terbakar dan ingin mengulanginya lagi.
"Damn It"
Aku sedikit mencari tau tentang Bella pada Jofan sahabatku ketika kita berkumpul. Namun aku tak terlalu terang-terangan. Bisa curiga dia. Akhirnya aku mendapat sedikit informasi tentang Bella yang ternyata umurnya delapan tahun lebih muda dariku.
Dua bulan lebih aku hidup dalam bayang-bayang Bella. Aku selalu bermimpi bertemu dengannya. Hatiku merasa tak tenang, dan ingin melihat wajah itu lagi. Bahkan aku selalu membayangkan wajah Bella disaat aku bercinta dengan wanita lain. Ya memang aku masih menjalani kebiasaan buruk ku menjadi pemain wanita.
Apalagi belakangan ini ayahku selalu mendesak ku untuk meresmikan hubunganku dan Bianca. Aku tak mencintai wanita itu. Meskipun selama ini Bianca selalu baik padaku, tapi tak ada sedikitpun menyentuh hatiku. Rasanya kepalaku ingin pecah dibuatnya. Aku harus mencari jalan keluar supaya perjodohan ini tidak terjadi, Aku tak ingin mengorbankan wanita lain untuk menjadi korban masa laluku.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Bianca berbicara dari hati ke hati. Kebetulan aku ada proyek bersama Jofan di Bogor membuat aku merasa ini kesempatan yang pas untuk berbicara pada Bianca.
"Bianca, Maaf jika aku menggangu waktu liburmu! Hari ini aku ada proyek di Bogor, Bisakah kau...?" aku langsung menghubunginya pagi tadi dan disetujui tanpa protes oleh Bianca.
Setelah meninjau lokasi untuk proyekku dan Jofan, aku langsung mengajaknya untuk ke restoran terlebih dulu. Tentu aku memilih tempat yang nyaman untuk membicarakan masalah se penting ini. Tapi cuaca disana sangat buruk karena turun hujan sebelum aku sampai di restoran. Dan ternyata ada kendala lain yang harus menunda waktuku.
Yaitu adik Jofan yang mengatakan mobilnya mogok dan sedang di lokasi yang cukup dekat dengan posisi mereka saat ini. Akhirnya mau tak mau aku dan Bianca ikut menjemput adiknya karena aku nebeng mobil dia. Sedikit tak menyangka bisa bertemu Bella disaat seperti ini.
Aku cukup kaget saat bisa bertemu Bella sekarang. Aku menatap dalam wajah Bella yang menurutnya lebih kurus, pipinya yang chubby sedikit tirus. Wajahnya pun tampak pucat. Apa wanita itu sakit pikirnya. Kenapa aku begitu khawatir melihat keadaanya? Apakah dia baik baik saja?.
Perasaan Apa ini? Aku tak pernah memperdulikan siapapun selain ibuku. Tapi ini? Aku begitu mengkhawatirkannya? Apakah ini rasa itu? Rasa yang sudah lama aku lupakan? Bukankah ini terlalu cepat untuk mencintai?.
*****
Happy Reading...
TBC