MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Mengakhiri Hubungan.



Dio masih menggenggam tangan Karin sampai mereka sampai di bawah. Ternyata sudah banyak sekali wartawan dan warga yang tampak berkumpul untuk melihat korban yang terjebak di Gunung. Selain itu, juga ada Nathan dan Cindy yang berada disana.


Karin dan Dio saling pandang saat melihat keduanya. Karin ingin melepas genggaman tangannya tapi, Dio malah mengeratkan genggaman itu.


Cindy yang melihat Dio sudah datang langsung berlari memeluk kekasihnya erat. Dio kaget, ia hanya menatap Cindy dengan dingin. Karin membuang muka saat melihat hal itu, ia masih menggenggam tangan Dio sebelum tubuhnya di angkat di bawa menjauh karena banyaknya wartawan yang mengerubuti mereka.


Dio menatap Karin tak rela, tapi ia tak bisa apa-apa sekarang. Ia sedikit mengepalkan tangannya saat melihat Nathan yang membantu Karin untuk masuk ke dalam mobil dan di bawa pergi.


"Dio, Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mencemaskan mu" kata Cindy menatap Kekasihnya dengan penuh perhatian.


"Aku tidak apa-apa" kata Dio melepaskan dirinya dari Cindy dan berjalan menuju mobilnya yang sudah di siapkan Angga.


Dio harus menemui Karin dulu untuk memastikan keadaan wanita itu. Ia tak memperdulikan Cindy yang terang-terangan memasang wajah kesalnya. Ia akan mengurus wanita ini nanti.


____***____


Karin langsung di bawa ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan luka di lengannya. Nathan masih setia bersamanya, tapi Karin tak berbicara sama sekali pada pria itu. Ia masih marah karena Nathan yang sengaja ingin menjebaknya waktu lalu.


"Dokter akan memeriksa mu, Aku akan menunggu di luar" kata Nathan mengusap pelan kepala Karin.


"Jangan sok perduli" kata Karin dengan ketus dan menepis pelan tangan Nathan.


Nathan tampak menatap Karin tajam, namun tak mengatakan apapun. Ia berjalan keluar ruangan dan membiarkan Dokter mengobati luka Karin.


Karin harus menahan nyeri beberapa kali saat lukanya di beri antiseptik. Kini lengannya sudah di perban dengan menggunakan kasa. Ia juga di beri obat anti nyeri agar mengurangi rasa sakit di lengannya. Karin melirik pintu ruangan yang terbuka, ia sudah berpikir kalau itu Nathan tapi..


"Dio..." ucapnya kaget namun juga senang melihat Dio disana.


"Hei, Bagaimana keadaanmu?" tanya Dio mengambil duduk di samping Karin.


"Sakit, Dokter tadi menyuntik ku" kata Karin mengadu dengan suaranya yang manja.


"Mana yang di suntik?" kata Dio tersenyum karena tingkah Karin yang manja.


"Ini.." kata Karin menunjukkan lengannya yang di perban.


Dio kembali tersenyum dan mencium luka itu. "Biar cepet sembuh" kata Dio.


Karin tersenyum manis tapi tak mengatakan apapun, Ia terus menatap Dio seolah tak pernah puas melihat wajah itu.


"Setelah ini, aku akan mengajakmu menemui orang tuaku" kata Dio membuat Karin sedikit kaget.


"Apa mereka akan menerimaku begitu saja?" tanya Karin sedikit ragu.


"Tidak ada alasan untuk menolak mu, Mama pasti senang punya menantu seperti mu" kata Dio menenangkan.


"Baiklah, tapi kau harus menyelesaikan dulu urusanmu dengan wanita itu" kata Karin cukup kesal mengingat saat Cindy memeluk Dio.


"Iya, Aku akan mengurus dia dulu. Maaf kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan mu. Setelah ini aku akan pulang, tapi aku akan memenuhi janjiku padamu. Hubungi aku kapanpun kau membutuhkan aku" kata Dio menyerahkan selembar kartu nama pada Karin.


"Baiklah" kata Karin mengangguk patuh.


Karin masih mematung setelah merasakan bibir Dio yang hangat, ia lalu tersenyum manis.. Rasanya sudah lama sekali ia tak sebahagia ini. Yah...Dia merasa sangat menyesal sekarang, kenapa harus memperumit keadaan dengan terus menolak Dio, padahal hanya Dio yang di butuhkan hatinya.


_____***_____


Setelah sampai di Jakarta, Dio langsung mengurus segalanya. Ia memberi waktu beberapa hari untuk tidak terlalu terkesan mendadak memutuskan Cindy. Sore hari, sepulang dari kantor, ia langsung mengajak Angga menemui Cindy di Apartemen karena wanita itu mengatakan kalau dia sakit.


"Ngapain sih aku harus ikut, mau mutusin doang kan?" kata Angga setengah menggerutu karena ia malas sekali jika urusan percintaan seperti ini.


"Jaga-jaga aja. Aku nggak mau ada yang manfaatin kesempatan ini" kata Dio melirik Angga sebal.


"Lagian ngapain harus repot-repot, Aku udah kasih video itu ke kamu kan" kata Angga membuat Dio terdiam.


"Simpen aja dulu, kita pasti butuh nanti" kata Dio lagi.


Sesampainya di Apartemen Dio tak menunggu waktu lama karena Cindy dengan cepat langsung membukakan pintunya. Cindy tampak tersenyum sumringah saat melihat Dio.


"Akhirnya kau datang, Aku merindukanmu" kata Cindy ingin langsung memeluk Dio, tapi Dio mengulurkan tangannya memberikan gestur untuk Cindy diam di tempatnya.


"Kau ini kenapa sih? Apa kau tidak rindu denganku" kata Cindy kesal sekali karena di tolak oleh Dio.


"Aku tidak ingin basa-basi Cin, Aku kesini hanya ingin mengatakan padamu kalau hubungan kita nggak bisa di lanjut" Kata Dio menatap Cindy datar.


"Apa yang kau bicarakan?" kata Cindy menatap Dio dengan mata yang berkaca-kaca. Inilah yang di takutkan sejak dulu. Dio akan pergi meninggalkannya.


"Aku sama sekali tidak memiliki rasa apapun padamu, Dan kau pasti tau kalau hal ini hanya akan menghancurkan kita berdua. Jadi, Aku ingin kita putus" kata Dio tak suka bertele-tele. ia langsung mengatakan apa tujuannya kesana.


"Tidak! Aku tidak mau, aku sangat mencintaimu dan kau hanya milikku" tangis Cindy semakin tak terbendung.


"Cindy, Aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku. Sejak awal aku menjalin hubungan denganmu karena Mama ku. Kau juga sangat tau akan hal itu kan" kata Dio tak terpengaruh oleh tangis Cindy.


"Kenapa? Kenapa Dio? Ini semua pasti karena Karin kan? Dia benar-benar wanita murahan" kata Cindy mengepalkan tangannya.


"Jaga bicaramu! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Karin. Baiklah, Cindy, aku rasa kau sudah cukup mengerti. Aku permisi" kata Dio menahan emosinya saat Cindy menyebut Karin seperti itu. Ia segera berbalik dan pergi darisana.


"Kalau kau pergi, kau pasti akan melihat aku mati" kata Cindy mengambil pisau yang berada di meja makan dan meletakkannya di pergelangan tangannya.


Dio kaget melihat hal itu. "Apa yang kau lakukan?" seru Dio dengan suara agak keras.


"Kau itu hanya milikku, kalau kau ingin mengakhiri hubungan ini. Silahkan. Tapi lebih baik aku mati dari pada melihatmu dengan yang lain" teriak Cindy menekan pisau itu di pergelangan tangannya.


"Jangan gila Cindy!" bentak Dio kesal namun serba salah. Ia takut kalau memaksa akan membuat Cindy berbuat nekat.


"Ya aku memang gila! Aku gila karena aku mencintaimu! Sebenarnya apa sih kurangnya aku Dio? Dari awal aku sudah mencintaimu dan Rela melakukan apapun untukmu" teriak Cindy semakin tak terkendali dan sudah mengiris pergelangan tangannya sedikit.


Happy Reading.


Tbc.