
Pintu ruang rawat di ketuk membuat mereka yang berada didalam sana mengalihkan pandangannya. Dio melirik Angga yang sudah tau tugasnya. Ia kemudian bangkit dan membuka pitu. Terlihat disana Bram datang dengan wajahnya yang serius.
"Maaf menggangu, Tapi wartawan dan petinggi polisi sudah menunggu kehadiran Tuan Abimanyu dan Tuan Dio" kata Bram memberitahukan.
"Baiklah, kami akan segera kesana" kata Abimanyu membenarkan jasnya yang sudah rapi.
Angga pun dengan sigap membantu Dio untuk duduk di kursi roda karena keadaannya masih cukup lemah. Mama Dio masih melempar pandang dengan suaminya sebelum mereka keluar dari ruangan itu untuk melakukan konferensi pers di ruangan lain yang sudah di sediakan.
Saat mereka masuk, wartawan langsung memfoto dan menyoroti mereka. Abimanyu berjalan dengan aura kepimpinannya yang kuat dan sangat berwibawa membuat semua orang tau kalau Abimanyu bukan orang sembarangan. Jenderal polisi disana tampak memberi anggukan hormat.
Abimanyu segera menyambut uluran tangan Jendral polisi itu sebelum duduk di ikuti, Angga dan juga Dio. Sebenarnya Abimanyu bukan orang yang suka menunjukkan dirinya di publik, tapi karena ini permintaan orang yang sudah menolong putranya. Abimanyu mau melakukannya.
"Kemarin pukul 09.00-10.00 telah terjadi penculikan, penyekapan dan penganiyaan terhadap Tuan Ardio Abimanyu yang merupakan putra dari Tuan Abimanyu Mahendra dari pulau Kalimantan. Kami segera melakukan penyelamatan setelah mendapatkan laporan dari Tuan Abimanyu selaku ayah korban. Setelah melakukan penyergapan dan penyelamatan kami berhasil mengamankan pelaku dari penculikan dan penganiayaan terhadap saudara Dio yaitu Jonathan Wijaya dibantu enam orang lainnya di tepi pantai daerah selatan. Sekarang pelaku sudah di tahan dan segera proses. Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih" kata Jenderal polisi memberikan keterangan pada wartawan membuat semua orang riuh.
"Tuan, Apa benar yang melakukan semua ini adalah keponakan anda sendiri?" tanya salah satu awak media.
"Benar, beliau anak dari adik Tuan Abimanyu sendiri. Itu sudah di akui oleh tersangka sendiri" jelas Jendral polisi.
"Tuan Dio, Apa motif di balik semua ini? Apakah ada dendam pribadi?" tanya salah satu awak media lagi.
"Sejauh ini kami belum tau motif pastinya apa. Tapi saya hanya ingin mengatakan, Kami memang bukan penguasa di negara ini tapi kami tidak akan membiarkan siapapun menyentuh keluarga kami. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak ingin mencari musuh. Tapi saya tidak akan melepaskan orang yang sudah mengganggu keluarga kami. Setelah ini saya serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib agar tersangka di hukum sesuai perbuatannya. Terimakasih" kata Abimanyu dengan suara beratnya membuat seluruh awak media bungkam.
Abimanyu segera berdiri dan kembali berjabatan tangan dengan Jendral polisi itu sebelum meninggalkan ruangan di ikuti Dio dan Angga.
Selama ini nama Abimanyu memang cukup populer di Negara ini Karena ia memiliki bisnis batu bara dan kelapa sawit yang sangat besar dan Abimanyu juga merupakan salah satu Crazy rich dari Kalimantan. Tapi para awak media tidak pernah tau seperti apa sosok Abimanyu sendiri karena beliau memang jarang menampakkan dirinya. Jadi mendapatkan kabar tentang penculikan anaknya ini langsung di serbu oleh mereka karena beritanya pasti akan sangat trending di negara ini.
Begitu mereka keluar ruangan, ternyata sudah ada kedua orang tua Nathan yang menatap mereka penuh kebencian. Abimanyu langsung mengeraskan wajahnya melihat mereka, begitupun yang lainnya.
"Kakak!" panggil Ayah Nathan.
"Jangan memanggilku Kakak! Karena perbuatan mu itu sudah memutus ikatan di antara kita berdua. Kau bukan lagi adikku" kata Abimanyu menatap tajam pada Adiknya.
"Kakak salah paham, Nathan dan Dio itu sudah sahabat dari kecil. Dia pasti hanya bermain-main dengannya" kata Ayah Nathan.
"Kakak, Jangan lakukan itu. Kita ini saudara. Sofi, Apa kau tidak kasihan melihat Keponakanmu di penjara. Tolong hentikan ini semua dan cabut gugatan untuk Nathan" kata Ibu Nathan memasang air mata buayanya dan mengiba pada Mama Dio.
Mama Dio tampak mengeraskan wajahnya. "Kau memikirkan nasib putramu? Lalu apakah kau memikirkan nasib putraku saat kalian menculik dan menyiksanya. Sekarang kau meminta kami mencabut hukuman untuk Nathan? Tidak akan pernah! Karena itu sebanding dengan apa yang sudah di lakukan pada putraku" kata Mama Dio tegas dan menatap meraka penuh amarah.
"Kalian berdua memang tidak tau diri! Tak puaskah kau merebut semua harta orang tua kita! Sekarang kau juga ingin menghancurkan keluargaku! Abimanyu! Kau memang ba ji ngan" teriak Ayah Nathan begitu emosinya.
Abimanyu semakin mengembangkan senyum sinisnya. Ia kemudian berjalan tepat di depan Ayah Nathan. "Merebut? Apa kau lupa kalau kita berdua sudah memiliki bagian yang adil? Dan apakah kau lupa siapa yang paling banyak menghabiskan harta orang tua kita karena hobi jodi mu. Jadi jangan menyalahkan orang lain atas penderitaan yang kau buat sendiri" kata Abimanyu semakin menyulut emosi Ayah Nathan dan ingin merangsek maju tapi Abimanyu menahannya.
"Jangan berani menyentuh atau bahkan mendekati keluargaku lagi. Setelah ini bersiaplah untuk kehancuranmu" kata Abimanyu sedikit mendorong adiknya sebelum berjalan keluar.
*****
Dio turun dari kursi rodanya dengan perlahan setelah kedua orang tua Nathan pergi. Ia sedikit sempoyongan karena keadaannya cukup lemah. Abimanyu dan Sofi kaget melihat tingkah putranya.
"Angga! Siapkan mobilku" kata Dio.
"Kau ini mau apa? Kau masih sakit, mau pergi kemana lagi?" Kata Mama Sofi cemas.
"Aku sudah tidak apa-apa Ma, dokter mengatakan hanya tanganku yang retak. Percayalah, aku sudah baik-baik saja. Aku ingin menemui Karin. Dia pasti sangat cemas sekarang" kata Dio tak bisa menunggu lagi. Bagaimanapun juga Karin pasti sangat khawatir karena memikirkan dirinya. Dio tak ingin Karin terus khawatir karena hal itu pasti akan sangat melukainya.
"Siapa Karin?" tanya Abimanyu belum mengerti.
"Calon istriku. Papa dan Mama siapkan saja semuanya. Setelah ini aku ingin langsung menikah" kata Dio benar-benar ingin segera memperjelas hubungannya dengan Karin. Ia tak mau sampai kehilangan wanita itu lagi.
Kedua orang tua Dio tampak saling pandang namun juga tak menolak. Dio itu jarang meminta apapun jika memang tidak benar-benar butuh dan sangat menginginkannya. Jadi mereka yakin kalau anaknya kali ini benar-benar serius dengan keinginannya.
Dio segera pergi setelah mengatakan hal itu. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Karin. Ia bejalan dengan cepat tanpa memperdulikan rasa sakitnya. Ia benar-benar sudah sangat merindukan wanitanya.
Happy Reading.
Tbc.