MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Pembalasan Dendam.



Wajah Dio masih mengeras, antara marah, cemas dan takut menjadi satu. Ia sudah mengabarkan masalah ini kepada orang tuanya, begitupun orang tua Karin. Karena bagaimanapun juga mereka berhak tau, lagipula menyembunyikan masalah tetap tidak akan baik sekarang atau nanti.


Semua anak buah Papa Raimond juga langsung mencari keberadaan Karin, tapi penculikan ini benar-benar bersih dan tidak meninggalkan jejak sama sekali membuat Dio semakin khawatir karena belum ada titik terang, bahkan sampai tengah malam.


Akhirnya setelah semua usaha yang ia lakukan tak membuahkan hasil, Dio memutuskan untuk menemui satu-satunya orang yang bisa membantunya. Dio sebenarnya merasa tak enak jika merepotkan Axel, tapi hanya pria itu harapan satu-satunya.


"Datang ke rumah aja" begitu kata Bram saat ia menyuruh Angga untuk menghubungi Axel karena ia tak mungkin tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Jadi, bagaimana ini bisa terjadi?" pertanyaan yang pertama kali Axel lontarkan ketika mereka sudah berkumpul di ruang kerja pria itu.


Angga segera menjelaskan semua kronologinya dan Axel tampak mendengarkan dengan serius. Pria itu sedikit tak menyangka kalau masalah yang menyangkut Dio dan Karin akan lebih kompleks dari apa yang di pikirannya.


"Axel, aku sangat membutuhkan bantuanmu, sampai sekarang aku belum bisa melacak Karin sama sekali" kata Dio menatap Axel dengan penuh harap.


Axel memandang Dio yang kini masih dalam keadaan terluka, bahkan bajunya pun masih menyisakan darah yang sudah mengering. Axel tau apa yang di rasakan pria ini, karena dia pun pernah di posisi seperti ini.


Menurut Axel ini cukup keterlaluan, apalagi untuk pemain baru seperti Dio yang pastinya belum tau medan dan belum tau kejamnya dunia bisnis, apalagi di selimuti dendam seperti ini.


"Apa tidak ada petunjuk apapun?" tanya Axel dengan wajahnya yang serius.


"Tidak, mereka benar-benar bekerja bersih, bahkan mereka sengaja memilih lokasi yang tidak terdapat CCTV nya agar kita tidak bisa tau kemana perginya mereka" jelas Angga karena melihat Dio yang tampak hanya diam.


"Dimana lokasi itu?" tanya Axel lagi.


"Jl. Pemuda 3 arah ke selatan kota" kata Angga.


Axel kembali terdiam, ia mengingat-ingat lokasi itu. "Bukankah, sebelum sampai di jalan itu ada sebuah perempatan, disana pasti ada CCTV nya" kata Axel memutar otaknya.


"Tapi lokasi itu cukup jauh dari tempat jatuh kita" Dio ikut menyahut.


"Ya, tapi kau bisa lihat apakah ada mobil yang mencurigakan atau tidak diantara jam kejadian itu, jika mereka memang sudah merencanakan ini, itu artinya mereka juga pasti sudah mengikuti mu dari awal, coba kalian cek CCTV sepanjang jalan yang kalian lewati, orang itu pasti tetap akan melewatkan sesuatu meskipun itu sekecil apapun" kata Axel membuat Dio mencerna semua kata-katanya.


Ya, benar. Kenapa dia tidak berpikir sampai kesana. Pikir Dio.


"Baiklah, kita akan segera mengeceknya kesana" kata Dio lega karena ada sedikit harapan untuknya.


"Tunggu dulu" kata Axel membuat Dio dan Angga yang akan berpamitan berhenti.


Axel kemudian bangkit dari duduknya dan membuka brankas yang tersembunyi di dalam lemari, ia mengambil sebuah kertas yang berwarna keemasan yang di gulung rapi.


"Bawa ini" kata Axel menyerahkannya pada Dio.


"Apa ini?" tanya Dio mengerutkan dahinya karena merasa tak pernah melihat benda itu.


"Ini lencana milikku, dengan ini kau bisa mengakses semuanya. Aku rasa kau akan membutuhkannya" kata Axel membuat Dio tak percaya.


"Axel ini....


"Ya, aku meminjamkan ini padamu" kata Axel langsung menyela sebelum Dio menyelesaikan ucapannya.


"Never mind , Terkadang kita memang perlu menjadi sedikit jahat agar orang tidak akan berani bermain-main dengan kita. Kau harus bermain tenang, Diam bukan berarti kalah, dan jika bertindak akan berlumuran darah"


******


"Bangunkan wanita itu" ucap Ibu Nathan menatap Karin dengan bengis.


Salah satu anak buah langsung membangunkan Karin dengan sebuah alat kejut listrik yang membuat wanita itu bangun seketika.


"Argh....." teriak Karin kaget dan langsung membuka matanya. Ia sedikit meringis kesakitan saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam.


Karin mengedarkan pandangannya dan semakin kaget saat melihat ketiga orang yang kini menatapnya penuh kebencian. Karin menatap mereka dengan ngeri.


"Kalian mau apa?" tanya Karin terbata-bata. Ia memundurkan tubuhnya tapi ia langsung di dorong oleh salah satu penjaga hingga tubuhnya yang lemah tersungkur di bawah kaki ibu Nathan.


"Kau ingin tau kita mau apa? Tentu saja ingin membalas perbuatan kalian pada kami" kata Ibu Nathan dengan sengaja menginjak tangan Karin.


"Arghh.....sakit ..." teriak Karin mencoba menarik tangannya tapi ibu Nathan malah menekannya dengan kuat.


"Teruslah menangis, agar aku puas menyiksamu. Ini adalah balasan karena kau sudah membuat anakku di penjara" teriak Ibu Nathan menarik tangan Karin agar berdiri dan langsung menamparnya dengan keras.


Seumur hidup, Karin tak pernah ditampar oleh siapapun, mendapatkan tamparan yang begitu keras membuat Karin langsung terhuyung.


"Bangunlah perempuan murahan" Cindy pun sepertinya ingin ikut balas dendam, ia ikut bergabung menyiksa Karin dengan menjambak rambut wanita itu.


"Argh....sakit...lepaskan...." Air mata Karin tak lagi bisa di bendung, rambutnya yang di tarik Cindy sangat keras seolah rambut itu tercabut dari kepalanya.


"Hajar dia ibu mertua, Wanita ini harus di beri pelajaran karena sudah membuat Nathan di penjara dan juga membuat nama keluarga kalian hancur" kata Cindy sengaja memprovokasi. Ia memegang kedua tangan Karin agar wanita itu tak berontak.


Api kemarahan langsung berkobar di mata ibu Nathan, ia kembali memukuli Karin dengan sekuat tenaganya, ia tak perduli wanita itu terluka, karena memang wanita inilah sumber masalah di keluarganya.


Karin yang di serang membabi buta tanpa perlawanan langsung ambruk saat pukulan terakhir yang membuat hidungnya berdarah.


Cindy tampak tersenyum puas saat melihat Karin kembali pingsan dengan wajahnya yang cukup babak belur.


"Untuk malam ini biarkan dia seperti itu dulu, jangan ada yang berani menolongnya dan jangan memberinya makan. Aku dan suamiku akan pulang dulu agar tidak mencurigakan, aku akan kembali jika keadaan sudah aman" kata Ibu Nathan sebelum pergi meninggalkan tempat itu bersama suaminya.


"Baiklah" sahut Cindy menyanggupi saja.Setelah kepergian mereka, ia segera mendekati Karin yang masih tak sadarkan diri.


"Bagaimana Karin? sangat menyakitkan sekali bukan? tapi ini belum seberapa dengan apa yang kau lakukan padaku, kau bukan hanya merebut Dio dariku, tapi kau juga sudah membuat Nathan di penjara, Aku pastikan kau akan sangat menyesal karena sudah melakukan ini padaku" kata Cindy menyeringai keji.


"Bawa wanita ini keluar dan ikat di bawah pohon itu. Biarkan dia tidur disana malam ini" perintah Cindy tak belas kasih.


Happy Reading.


Tbc.