MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Insiden Tengah Malam



Axel menatap wanita yang telah melahirkannya kini terbaring lemah di ranjang. Wajahnya terlihat pucat dari biasanya. Wanita itu pasti sangat syok melihat foto-foto yang di kirimkan Bianca.


"Ibu" Panggilnya seraya mendekat.


Tamara yang sedang memejamkan matanya sedikit kaget. Ia lalu melihat putranya yang datang.


"Axel.. Kamu disini? Nggak ke kantor?" Tanya Tamara heran melihat anaknya disini di jam kantor. Sepertinya ia belum mengingat apa yang membuatnya pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.


"Ya, bagaimana keadaan ibu?" ucap Axel dengan dahi berkerut. Kenapa ibunya santai saja? Pikirnya.


"Ibu baik-baik saja, Kenapa ibu bisa ada disini" Tamara bingung. Seingatnya ia sedang meminum teh dengan membaca majalah. Lalu ada kiriman paket yang berisi.


"Paket..Foto! Ya ibu ingat, Foto itu.. Fotomu dan siapa wanita itu.. Axel, Kenapa bisa kau berfoto seperti itu" Tamara menatap tajam pada putranya. Ia tak habis pikir, bagaimana anaknya ini bisa berbuat hal memalukan seperti itu.


"Ibu tenang dulu, Axel bisa jelaskan" Axel mencoba menenangkan ibunya yang cukup histeris.


"Kau itu sudah menikah Axel, jangan pernah bermain-main di luar sana. Bagaimana kalau sampai istrimu tau. Apalagi dia sedang hamil" kata Tamara dengan tegas.


"Iya Bu, Axel tau. Ibu percaya pada Axel kan" kata Axel tak membutuhkan apapun lagi selain kepercayaan ibunya.


Tamara bisa melihat kesungguhan di matanya putranya. "Ibu percaya padamu. Tapi tolong katakan, siapa sebenarnya yang mengirim foto itu?"


"Bianca" jawab Axel membuat Tamara terhenyak.


"Bianca? Bagaimana bisa?" Tamara percaya, kalau wanita lemah lembut seperti Bianca bisa melakukan hal itu. Karena di foto yang dikirimkan, hanya wajah Axel yang terlihat jelas. Sedangkan sang wanita sengaja di blur.


"Ya, dia sengaja menjebak ku Bu. Dia ingin menggunakan foto itu alat untuk mengancam ku agar aku melanjutkan pertunangan kita" kata Axel dengan wajah mengeras menahan amarah.


"Itu tidak mungkin nak, Bianca sudah ikhlas menerima keputusanmu" kata Tamara lagi.


Waktu itu ia dan Suaminya yang mengatakan pada Bianca kalau pertunangan mereka batal karena Axel tidak menyetujuinya. Meskipun keluarga Bianca tampak marah, tapi Bianca tidak mempermasalahkannya. Jadi tak mungkin bisa berbuat hal selicik itu untuk menjebak anaknya.


"Ibu jangan tertipu dengan sikap manisnya. Tapi ibu tak perlu memikirkan hal itu. Aku pasti akan segera menyelesaikannya. Aku hanya butuh ibu percaya padaku" kata Axel menggenggam tangan Ibunya.


****


Axel pulang ke Apartemen saat malam mulai larut. Tubuhnya begitu lelah karena seharian ini ia harus meeting dan juga menjaga ibunya. Belum lagi masalah tentang ancaman Bianca. Sampai saat ini belum ada titik terang membuat kepala Axel berdenyut tiap memikirkannya.


Saat ia masuk ke Apartemen pandangannya langsung tertuju pada sosok mungil yang sedang berada di ruang tengah. Terlihat Bella sedang menonton televisi dengan terkantuk-kantuk menunggu Axel pulang.


"Belum tidur?" Tanya Axel dengan sorot mata teduh. Hatinya menghangat melihat Bella yang rela menunggunya meskipun sudah larut. Tapi ia khawatir akan mempengaruhi kesehatan Bella.


"Axel! Kau sudah pulang?" Mata Bella yang semula mengantuk mendadak cerah saat melihat kedatangan Ayah dari anak yang dikandungnya itu.


"Ya, Kenapa belum tidur?" tanya Axel seraya melepaskan dasi yang ia rasa mencekik lehernya.


"Belum mengantuk" jawab Bella tak ingin mengakui kalau sejak tadi ia menunggu kepulangan Axel. Egonya masih terlalu tinggi untuk itu.


"Benarkah? Aku pikir sedang menungguku" kata Axel sedikit kecewa.


"Ehm..Apa kau biasa pulang selarut ini?" tanya Bella ingin tau. Ia mengekori Axel yang kini sudah masuk kedalam kamar.


"Kadang-kadang" jawab Axel sekenanya. Tubuhnya benar-benar lelah. Dia hanya ingin mandi terus tidur. Itu saja.


"Aku akan membantumu" kata Bella mengambil inisiatif saat Axel kesusahan membuka jasnya.


"Kau sudah makan belum?" tanya Bella lagi membuat Axel semakin heran.


"Sudah. Kau sendiri?"


"Ya sudah, Aku tadi memesan makanan online" kata Bella cepat. Ia menatap Axel dengan pandangan sulit diartikan.


Bella berfikir, kenapa Axel begitu cuek. Kenapa dia tak membahas sama sekali tentang makan siang tadi. Sekedar menanyakan apakah dia suka atau apa? Kenapa pria itu hanya diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Baiklah, aku akan mandi dulu" kata Axel seraya berjalan meninggalkan Bella yang masih diam ditempatnya.


****


Axel menyelesaikan mandinya dengan cepat. Seperti biasa, Axel akan keluar kamar mandi dengan handuk di pinggangnya. Satu tangannya ia gunakan untuk menggosok rambutnya yang basah. Axel sedikit mengerutkan dahinya saat tak menemukan Bella di kamar.


Axel lalu mengambil baju ganti untuk tidur. Sebuah kaos oblong dengan celana panjang longgar. Saat Axel selesai memakai baju dia dikejutkan oleh suara benda terjatuh di susul teriakan wanita yang sangat ia kenal.


"Bella!" ucap Axel dengan wajah cemas. Ia bergegas mencari tau sumber suara tersebut.


Dan seketika matanya membesar melihat Bella yang kini tengah meringis kesakitan karena wanita itu baru saja terkena tumpahan air panas di kakinya.


"Akh..Panas..panas" ucap Bella mendudukkan tubuhnya di kursi dapur. Tangannya sibuk mengipasi kakinya untuk sedikit menghilangkan rasa panas di kakinya.


Tadinya ia ingin membuat susu, tapi saat ingin menuangkan air ia sepertinya mengantuk hingga tak sengaja teko air terlepas hingga airnya tumpah mengenai kakinya.


"Bella, Apa yang terjadi?" Axel langsung mendatangi Bella. Mengecek kaki Bella yang sudah memerah. Sedikit melepuh karena sepertinya air itu sangat panas.


Bella ingin menjawab, tapi Axel lebih dulu dengan sigap menggendong tubuh Bella. Axel membawa Bella ke wastafel yang ada di dapur. Ia meletakan kaki Bella di sana dan membasuhnya.


Bella berpegangan leher Axel dengan erat karena takut terjatuh. Ia menatap Axel yang begitu hati-hati membasuh kakinya. Sikap Axel ini, benar-benar membuat Bella tak bisa berkata-kata.


Setelah memastikan kaki Bella bersih, Axel kembali menggendong Bella ke kamar dan meletakkannya di ranjang.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan salep untuk mengobati lukamu" kata Axel menatap Bella yang hanya mengangguk pasrah.


Tak membutuhkan waktu lama, Axel sudah kembali dengan sekotak obat-obatan di tangannya. Sama seperti tadi, Axel tak banyak bicara. Ia mengambil kaki Bella dan meletakan di pahanya. Ia lalu mulai mengoleskan salep di sekitar kaki Bella yang terkena air panas.


Bella hanya diam saja, Perasannya menghangat karena Axel begitu tulus merawat dirinya.


"Auw..." pekiknya sedikit kesakitan saat Axel tak sengaja menekan lukanya.


"Apakah masih sakit?" tanya Axel melirik wajah Bella yang tampak kesakitan. Bella malah serasa terhipnotis oleh tatapan mata Axel yang begitu indah.


"Ya, maksudku sepertinya ini sudah tidak apa-apa" kata Bella tak ingin berlarut-larut dengan perasaanya. Karena kini jantungnya kembali berdetak kencang. Yang di obati kakinya, kenapa malah hatinya yang ingin meledak.


"Baiklah, Sebaiknya kau tidur. Ini sudah sangat larut" kata Axel bangkit dari duduknya. Ia membantu Bella agar berbaring dengan nyaman. Ia juga menarik selimut menutupi setengah tubuh Bella.


Bella yang mendapatkan perlakuan seperti itu bukannya tenang. Ia malah gugup hingga tubuhnya terasa kaku.


**Happy Reading


TBC**