
"Pergi dari sini atau kau akan menyesal!" Bentak Axel masih bisa menahan dirinya. Tapi sedikit lagi saja ia tak akan menjamin apa yang akan terjadi pada Bella.
Bella tau kini Axel sudah menahan dirinya sekuat tenaga. Meski ia merasa takut dan tubuhnya bergetar. Ia memberanikan menyentuh wajah Axel untuk menatap matanya. Ia ingin Axel tau kalau ada dia yang akan selalu bersamanya.
"Axel! Jangan sentuh benda itu lagi. Sudah cukup kau menyakiti dirimu, Hentikan ini Axel. Jangan lakukan lagi, Aku mohon" kata Bella tanpa sadar air matanya mengalir.
Axel mengeraskan rahangnya. Sejujurnya hatinya lebih sakit melihat Bella yang menangis pilu di depannya. Tangannya mengepal erat karena merasa dirinya memang pecundang lemah yang hanya bisa menyakiti Bella.
"Memangnya apa yang kau tau? Ha! Menyingkirlah, Kau sungguh membuatku muak" bentak Axel merasa tubuhnya tak lagi bisa menahan. Dadanya mulai sesak dan di butuh obat itu sekarang.
Tubuh Bella terjingkat kaget karena Axel membentaknya dengan begitu keras. Axel dengan kasar mendorong tubuh Bella agar menyingkir dari pintu, Tapi Bella tak menyerah, Ia langsung memeluk Tubuh Axel dari belakang.
"Jangan pergi! Aku mohon Axel! Jangan pergi, Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan sakiti dirimu lagi. Tolong" Bella menangis dengan kencang. Ia tak akan sanggup membiarkan Axel akan terjerumus dalam jurang yang lebih mematikan.
Tubuh Axel seketika membeku, Ia merasakan punggungnya telah basah karena air mata Bella. Tapi efek obat yang sering di minumnya itu mulai bekerja. Kepalanya mulai pusing dan ingin sekali marah. Tapi melampiaskan pada Bella tentu bukan hal yang bagus. Akhirnya Axel memukul pintu yang ada di depannya dengan keras hingga tangannya berdarah.
Bella berteriak kaget melihat Axel yang memukul pintu. Bukan hanya sekali, Axel memukuli pintu itu berulang-ulang hingga tangannya terus mengeluarkan darah.
"Axel! Hentikan!" Teriaknya memegang lengan Axel, tapi Axel menepisnya dengan kasar.
Inilah efek dari jangka panjang dari Pil ekstasi yang di minum Axel. Ia akan kehilangan kendali dan menghancurkan seluruh barang yang ada. Bella begitu ketakutan saat melihat Axel yang begitu marah. Ia sesegera mungkin menghubungi pihak bantuan.
Namun urung saat mendengar benda yang di pecahkan membuatnya langsung menatap Axel yang baru saja memukul kaca rias hingga hancur berkeping-keping.
Prang!!!!!
"Astaga! Axel!" Teriak Bella langsung mendatangi Axel yang kini tampak mulai lemas, mungkin kehabisan tenaga karena terus mengamuk sejak tadi.
"Berikan obat gue.. ob..bat...gu.e.. mana" Ucap Axel terbata bata. Ia sudah tak fokus. Pikirannya entah kemana.
"Axel! Lihat aku! Kamu kuat, Kamu pasti bisa ngelewatin ini semua. Percaya sama aku" Bella memegang wajah Axel agar menatapnya. Namun Axel sama sekali tak mendengarnya. Ia terus berbicara, mengulangi kata-kata yang sama.
Bella menangis dan langsung memeluk tubuh Axel erat. Ya Tuhan, Bisakah ia meminta untuk menyembuhkan Axel? Di tak tega melihat Axel begitu menderita seperti ini. Ia juga tak sanggup melihat Axel yang menyakiti dirinya sendiri terus menerus.
"Di..ma..na obat gue...Kasih..gue..ob..at itu" Axel terus bergumam hingga ia lelah dan tak sadarkan diri..
"Axel? hei, Kau tidur?" ucap Bella menatap Axel yang menutup matanya. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Axel namun pria itu sama sekali tak merespon.
"Axel! Bangun Axel!" ucapnya lagi namun masih tak ada respon. Bella mulai panik karena takut terjadi sesuatu dengan Axel.
Akhirnya dengan berpikir keras, Bella memutuskan untuk menghubungi Tiara. Karena tidak ada orang lagi yang bisa dia mintai tolong. Bibi Maulin juga sudah pulang.
"Ra, Sorry.. Gue mau ngerepotin Lo lagi" ucapnya penuh penyesalan karena terus merepotkan sahabatnya.
****
Tiara tak keberatan saat Bella menyuruhnya datang. Lagipula ia juga sudah tau apa yang di alami sahabatnya ini. Tapi ia tak pernah menyangka kalau Axel adalah seorang pecandu narkoba yang baru saja menghancurkan kamar hingga tak terbentuk. Saat Tiara datang tadi, ia begitu kaget melihat keadaan Axel. Untunglah, ia tadi membawa Jofan untuk membatu memindahkan Axel kekamar lainnya. Karena kamar merek benar-benar kacau.
"Lalu bagaimana cara mengatasi jika suatu saat Axel akan mengalami ini lagi?" Tanya Jofan mewakili Bella yang hanya bisa menangis mendengar penjelasan dokter.
"Ketergantungan obat sejauh ini masih belum bisa di atasi. Satu-satunya cara ya tadi. Sebisa mungkin membuat keadaan Tuan Axel tenang. Jangan memancing atau membuat sesuatu yang akan membuatnya kehilangan kendali. Jika dilihat dari apa yang dilakukan tuan Axel saat ini, Sepertinya beliau sudah cukup lama mengkonsumsi obat itu" Kata Dokter menjelaskan.
"Atau mungkin, Anda bisa memasukan Tuan Axel ke panti rehabilitasi, Disana Tuan Axel akan mendapatkan pendampingan dari ahlinya. Mungkin itu bisa membuatnya sembuh" sambung Dokter itu lagi.
Jofan hanya menghela nafas mendengar penjelasan dokter itu. Setelah ia mengucapkan terima kasih, Ia langsung mengantar Dokter itu pulang. Tiara masih setia menemani Bella yang tak beranjak sedikit pun dari sisi Axel.
"Lo udah makan?" tanya Tiara memecah kebisuan diantara keduanya.
"Menurut Lo, Apa gue masih bisa makan ngelihat suami gue kayak gini" sahut Bella memang tak berselera makan.
"Yah tapi setidaknya Lo harus jaga diri Lo. Nanti malah Lo lagi yang sakit" kata Tiara menasehati. "Makan ya? Gue beliin sekarang?" bujuk Tiara lagi.
Bella menghela nafas, sebenarnya dia sangat enggan. Tapi untuk menghargai Tiara, ia menyetujui saja.
"Ya udah. Gue keluar dulu bentar. Ntar gue balik lagi" kata Tiara beranjak untuk memberi waktu untuk Bella.
Bella menatap wajah Axel yang kini tertidur damai. Tangannya terulur untuk mengelus luka Axel yang masih meninggalkan lebam. Entah kenapa Bella sedih sekali melihat pemandangan itu. Bella merasa perasaan sayangnya semakin membuncah pada Axel.
Bella tak ingin Axel sakit, terluka atau bahkan dilecehkan orang lain. Matanya memanas mengingat bagaimana sikapnya yang selalu saja menyudutkan Axel dulu.
Dengan penuh perasaan, Bella mencium seluruh luka Axel. Ia lalu mengangkat tangan Axel untuk memegang pipinya.
"Cepet sembuh ya... aku sayang banget"
****
Hai kak .... Maaf ya kalau belakangan ini pada rada nggak mood sama ceritanya.
Selama ini kan, Bella itu itu selalu besikap "Semau gue" gitu sama Axel. Jadi disini Author pengen buka mata hati Bella supaya dia melek kalau Axel itu gimana sih sebenarnya.
Jadi jangan bosen-bosen yaaa....
Happy Reading
TBC