MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Perhatian Dio



Bella sedikit terkejut mendengar ucapan Dio. Ia bahkan lupa kalau hari ini dirinya ulang tahun. Ia menatap wajah Dio yang tersenyum tulus padanya. Tapi kenapa ia malah ingin menangis. Seharusnya bukan Dio yang mengucapkannya. Tapi....


"Makasih, Tapi gue nggak butuh kado dari lo" kata Bella tak ingin terus larut dalam kesedihan karena mengharapkan orang yang tak pantas ia pikirkan.


"Please, Jangan nolak! Aku nggak bisa ngasih apa-apa ke kamu. Anggap saja ini kado perpisahan kita. Aku tau kamu nggak bisa maafin aku, tapi setidaknya biarin aku ngasih kenangan manis ini untuk terakhir kalinya Bel. Sebelum kita bener-bener berpisah. Karena jika iya, aku akan ngelanjutin kuliah aku ke Jerman" kata Dio dengan wajah sendunya. Ia tak rela sebenarnya, tapi jika dirinya terus disini. Pasti ia tak akan bisa melupakan Bella. Karena sejatinya, Bella adalah satu-satunya orang di cintainya.


"Lo mau ke Jerman?" tanya Bella dengan wajah kagetnya.


"Ya, itu memang impian kita dulu kan" kata Dio tersenyum sedih.


Bella terdiam, ingatannya melayang saat mereka berpacaran dulu. Sebenarnya dialah yang ingin kuliah di sana. Dulu, dia selalu membayangkan bagaimana indahnya kuliah bersama orang yang di sayang. Menghabiskan hari libur bersama, dan banyak keinginan lainnya.


****


Sampai pulang sekolah, Bella masih melamun entah memikirkan apa. Dia sekarang sedang menunggu taksi di halte sekolah, ditangannya menggenggam kado yang di berikan Dio tadi. Bella sedikit heran kenapa Karin dan Tiara diam saja tadi, padahal biasanya mereka juga orang yang selalu ingat ulang tahunnya.


Tapi ya sudahlah, mungkin karena kesibukan akhir akhir ini membuat kedua sahabatnya lupa. Bahkan mereka tadi juga tak menawarkan untuk mengantar dirinya, atau sudah bosan karena penolakan darinya. Bella melirik suasana di Halte yang begitu sepi, langit pun begitu mendung membuat bulu kuduk Bella berdiri.


Apalagi belum ada tanda-tanda akan adanya taksi yang lewat. Mungkin karena sudah cukup sore, jadi mulai jarang ada taksi lewat di kawasan sekolah. Bella bingung harus bagaimana, ingin menelpon pun tak bisa karena ponselnya lowbat. Yang dilakukan hanyalah menunggu, semoga ada taksi yang lewat.


Setelah cukup lama mendung, akhirnya langit menurunkan hujannya begitu deras disertai angin dan petir yang menggelegar. Membuat Bella takut, ia mendekap badannya yang terasa dingin. Di campur air hujan yang sedikit membasahinya.


"Ya Tuhan, deres banget hujannya. Gimana nih gue pulangnya" Batin Bella berdoa semoga ada hujan akan segera berakhir.


Bella benar-benar ketakutan hingga ingin menangis rasanya. Ia duduk dengan menutup telinga dan matanya erat. Saat tiba-tiba tepukan di bahu nya seketika mengangetkan nya. Bella hampir saja berteriak menatap wajah pria yang di depannya.


"Dio!"


"Kenapa belum pulang?" tanya Dio mengabaikan keterkejutan Bella.


"Belum dapet taksi" kata Bella singkat. Dalam otaknya berfikir untuk apa Dio disini? Kenapa dia tak tau datangnya pria itu.


"Aku tadinya ingin keluar, Tapi tak sengaja melihatmu disini" kata Dio seolah tau apa yang dipikirkan Bella. "Apa mau aku antar?" tawarnya lagi.


"Nggak perlu... Akhh!!!" Bella seketika berteriak takut mendengar petir yang menggelegar.


"Kau takut, sebaiknya kita pulang saja. Hujannya sangat deras" kata Dio dengan perhatiann.


Bella terdiam, dia tentu gengsi jika menerima tawaran dari Dio. Tapi jika dia disini terus pun tak akan mungkin. Lagipula ia belum tau kapan hujannya akan berhenti.


"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam" kata Dio lagi melihat wajah cemas Bella.


"Baiklah, gue mau bukan karena apa-apa. Hanya saja situasi gue yang nggak memungkinkan" kata Bella dengan ketusnya. Dia memilih berjalan lebih dulu, namun seketika tangannya ditarik oleh Dio.


Bella tentu sangat kaget dengan tindakan Dio itu. Ia ingin marah, tapi melihat ada mobil yang lewat dengan kencang membuat air di jalan mengguyur punggung Dio. Seketika saja baju Dio sudah basah kuyup. Bella membesarkan matanya, melihat wajah Dio yang begitu dekat dengannya.


Bella menatap Dio, dia merasa ada yang berbeda kali ini. Dio masih tampan seperti yang ia ingat, tapi anehnya, jantungnya tak lagi berdebar kencang. Ia hanya merasa biasa saja. Apa itu artinya ia sudah tak mempunyai rasa pada Dio?


"Bajumu basah!" kata Bella menyadari Dio menggunakan dirinya sebagai tameng agar air tadi tak mengenainya.


Bella hanya mengangguk saja, dia membiarkan Dio merangkul pundaknya karena payung yang di bawa Dio terlihat kecil. Tanpa mereka sadari ada orang yang melihat mereka dengan tatapan tajam menyeramkan.


****


Axel mengepalkan tangannya erat, wajahnya tampak mengeras. Hatinya begitu panas melihat adegan sepasang mantan kekasih yang sedang berpelukan. Niatnya kesini ingin memberi kejutan, tapi malah dirinya yang mendapat kejutan.


Axel tau hari ini Bella ulang tahun. Dirinya sempat melihat biodata Bella saat mengisi formulir pernikahan. Axel bahkan sudah membelikan kado untuk Bella, tapi sepertinya hal itu percuma. Karena sekarang, Bella sudah tampak bahagia bersama orang lain.


Axel segera melajukan mobilnya saat melihat mobil Bella sudah pergi. Ia tak tau tujuannya kemana, yang jelas ia ingin menghilangkan rasa sakit dihatinya yang dia sendiri tak tau karena apa.


****


"Kita mampir makan dulu ya" kata Dio setelah perjalanan cukup jauh, namun tak sedikitpun Bella berbicara padanya.


"Nggak usah, gue capek" tolak Bella langsung.


"Pasti dari tadi kamu belum makan kan, Aku nggak mau kamu sampai sakit" kata Dio lagi menatap Bella dengan sayang.


"Gue udah bilang nggak usah sok perduli! Lo lupa kalau lo udah punya pacar! Jangan buat seolah-olah gue cewek yang kurang perhatian" kata Bella dengan kesal.


"Aku udah putus" kata Dio enteng.


"Gue nggak perduli! Yang jelas gue udah nggak mau punya urusan sama pacar lo" kata Bella dengan ketusnya.


"Oke fine, tapi kamu harus makan sekarang" kata Dio langsung membelokkan mobilnya ke restoran sea food yang ternyata langganan mereka dulu.


Sepertinya Dio ingin membuat Bella mengingat kenangan manis mereka dulu.


"Gue nggak mau!" kata Bella kekeh dengan pendiriannya. Meskipun perutnya meronta membayangkan menu-menu kesukaannya yang pastinya akan sangat nikmat.


"Sekali ini bel?" kata Dio dengan wajah memohon.


Bella mendengus melihat hal itu. Dio ini tau sekali kelemahannya. Akhirnya Bella mau menuruti permintaan Dio, itung-itung sebagai balas budi karena pria itu mau mengantarnya pulang. Untunglah hujan sudah berhenti membuat mereka tak perlu menggunakan payung lagi.


Suasana di restoran itu terlihat remang dan sepi. Bella mengerutkan dahinya, tak biasanya restoran ini sepi. Bella ingin bertanya namun tiba-tiba saja mati lampu. Bella seketika kaget, dia phobia pada kegelapan.


"Dio!" Panggilnya mencoba meraba-raba mencari Dio. Namun tak ada sahutan, membuat kepanikan Bella meningkat.


"Dio!" Kali ini Bella berteriak keras.


Maaf atas keterlambatan upnya kak..


Lagi sibuk banget..


Happy Reading


Tbc