
Sedangkan disisi lain. Axel sedang menghadapi kemarahan Papa Nugraha. Wajah tampannya kini sudah babak belur dimana-dimana. Meskipun menahan sakit luar biasa, Axel tetap diam saja saat Papa Nugraha memukuli dengan membabi buta. Baginya memang ini yang pantas ia dapatkan.
"Saya nggak mau bertanya dua kali" Ucap Papa Nugraha begitu mereka sampai ditaman rumah sakit. "Apa kau yang menghamili Bella?" Itu pertanyaan pertama yang langsung dilontarkan.
"Ya" jawab Axel dengan mantap, Toh memang dia pelaku utamanya disini.
Bugh!
Satu pukulan langsung Axel dapatkan begitu Papa Nugraha mendengar jawabannya. Pukulan itu begitu keras hingga membuat bibir Axel berdarah. Anyir darah begitu terasa.
"Dasar kurang ajar! Berani kamu menghamili putriku" Tanpa memikirkan keadaan Axel yang sudah tak berdaya. Papa Nugraha terus memukuli Axel dengan ganasnya.
Tubuh Axel bahkan sudah terjengkang karena tendangan kaki Papa Nugraha. Dalam hati Axel tak menyangka, Papa Nugraha yang umurnya sudah matang memiliki kekuatan yang luar biasa. Semua badannya sakit semua, Bahkan kepalanya begitu pusing, hingga pandangannya terasa kabur.
"Saya...Pasti...Akan Tanggung jawab" Axel berusaha berucap meskipun dengan suara pelan.
"Itu memang harus!" Sentak Papa Nugraha lagi. Kini ia tak lagi memukuli Axel karena melihat keadaan Axel yang hampir mati. "Besok! Aku beri waktu hingga besok! Kau harus membawa orang tuamu untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu" Ucap Papa Nugraha dengan tegas. Dia segera pergi meninggalkan Axel yang masih meringis kesakitan.
****
"Gimana keadaan kamu sekarang? Masih suka mual nggak?" Mama Anita barusaja menyuapi putrinya. Dia membersihkan beberapa sisa makanan yang berada di meja.
"Kadang kadang sih Ma" jawab Bella jujur saja.
"Suka kepingin yang aneh aneh nggak?" Mama Anita baru ingat kalau beberapa waktu lalu putrinya ini menginginkan rujak.
"Enggak, Bella tuh bawaannya suka cepet lemes Ma. Emang orang hamil gitu ya Ma?" Bella merasa sedikit senang karena sekarang ada orang yang bisa jadikan tempat berkeluh kesah. Ah! Mamanya memang yang terbaik.
"Tergantung sih, Dulu waktu Mama hamil kamu, Mama malah sukanya dandan Mulu, Bahkan Waktu mau tidur Mama harus pakai make up dulu, Papa kamu aja sampai heran" sahut Mama Anita tertawa kecil membayangkan masa kehamilannya dulu.
"Benarkah?"
"Ya, kalau suka dandan itu katanya anaknya perempuan, Tapi kalau males kayak kamu, bisa jadi anaknya laki laki" kata Mama Anita tersenyum sedikit.
Bella menatap perutnya yang masih rata, Apa benar dia akan memiliki anak. Tapi bagaimana dengan sekolahnya?. "Ehm..Ma...?"
"Ya?" Mama Anita menatap wajah Bella yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Tapi suara pintu terbuka membuat Bella mengurungkan niatnya.
Papa Nugraha datang dengan wajah biasa saja. Bella menatap Papanya, dia menebak bagaimana respon Papanya setelah mengetahui tentang kehamilannya.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Papa Nugraha dengan suara lembut seperti biasa.
Papa Nugraha mengangguk, dia menatap wajah istrinya dan Bella bergantian. "Apa Bella sudah bisa pulang Ma?"
"Belum tau, Kita harus nunggu dokter dulu, katanya tadi kalau keadaan Bella sudah baik baik saja, sore ini bisa pulang. Kenapa Pa?"
"Besok, keluarga pria itu akan datang untuk melamar Bella" kata Papa Nugraha langsung membuat Mama Anita dan Bella kaget.
"Melamar? Memangnya kenapa Bella harus dilamar?" tanya Bella dengan wajah kagetnya, tak mungkinkan dia harus menikah dengan pria itu?
"Tentu untuk bertanggung jawab dengan anak di dalam kandungan kamu, Kalian akan segera menikah sebelum anak itu semakin besar" kata Papa Nugraha menatap putrinya dengan serius.
"Tapi Bella masih sekolah, mana bisa aku Menikah Pa. Dan lagipula Bella tak mau menikah dengan dia"
"Kalau tau kamu masih sekolah, kenapa kamu mau saja di hamili pria itu, Papa sampai heran, Bagaimana gaya pacaran kalian!" Tanpa sadar suara Papa Nugraha meninggi membuat Mama Anita menenangkannya.
"Ini nggak sengaja!" Kata Bella dengan suara kesal, namun masih dia tahan.
"Nggak sengaja kamu bilang? Apa mungkin Papa dan Mama memiliki kamu itu juga karena ketidak sengajaan!" Papa Nugraha semakin berang mendengar jawaban putrinya.
Bella menundukan wajahnya, tangannya terjalin menjadi satu. Jujur saja dia sangat takut karena selama ini Papanya itu tak pernah membentaknya. Tapi sekarang, Papanya memarahinya karena kesalahan yang memang ia tak sengaja. Ya mungkin dia salah, tapi itu bukan sepenuhnya karena dirinya, tapi karena pria itulah yang menjadi penyebab kekacauan ini semua.
"Pokoknya Bella nggak mau nikah sama dia! Bella masih mau sekolah! Cita cita Bella masih panjang, Kenapa Papa nggak ngertiin Bella!" Kata Bella dengan suara tercekat.
"Jadi kamu mau anak yang kamu kandung itu lahir tanpa ayahnya? Dan kamu akan membiarkan pria yang menghamili kamu berkeliaran diluar sana tanpa memikirkan anak kamu!" Bentak Papa Nugraha tak habis pikir dengan jalan pikirkan putrinya.
"Axel udah mau membawa anak ini pergi begitu dia lahir..
"Astaga Bella! Apa yang kamu pikirkan nak? Kamu akan menelantarkan anak kamu sendiri? Kenapa kamu menjadi egois seperti ini?" Mama Anita ikut berbicara mendengar ucapan putrinya yang menurutnya tak pantas.
Bella semakin mengencangkan tangisannya, Apa memang dia yang egois? Apa dia salah jika memikirkan masa depannya nanti?.
"Papa harap kamu mengerti apa yang kita lakukan ini demi kebaikan kamu Bella, Papa dan Mama sayang sama kamu, jadi Papa dan Mama tau apa yang terbaik untuk kamu atau tidak" Kata Papa Nugraha lagi, suaranya tak sekeras tadi. Hatinya sebenarnya cukup hancur mendengar kabar kehamilan putrinya. Tapi dia berusaha menerima hal ini dengan ikhlas.
****
Likenya jangan kelewatan ya...
HAPPY READING
TBC