MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Tetaplah Bersamaku



"Dia istriku! Wanita yang sedang mengandung anakku" ucap Axel menekan setiap kata yang dilontarkan seolah ingin Katrin mengingat dengan jelas setiap ucapannya.


Katrin semakin membesarkan matanya mendengar ucapan Axel. Lalu pandangannya beralih pada wanita muda yang tampak begitu kurus. Ia menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Apakah Axel tidak salah? Apa yang di sukai dari wanita ini? Meskipun wajahnya lumayan, tapi secara fisik tak ada yang spesial. Apalagi jika disandingkan dengan dirinya, jauh berbeda sekali.


"Hahaha.. Kau ini sedang bercanda ya? Siapa yang kau bilang istri? Anak kecil ini?" Katrin tertawa mengejek pada Bella yang menurutnya bocah kecil ingusan.


Axel kesal mendengar ucapan wanita ini, ia ingin angkat bicara namun urung tatkala Bella yang sejak tadi diam saja maju sedikit, ia menatap Axel sekilas lalu beralih menatap wanita didepannya.


"Ya benar, Aku istrinya. Lalu kenapa kalau aku kecil? Apakah itu masalah untukmu?" kata Bella dengan tenang.


"Masalah? Untukku?" kata Katrin menunjuk dirinya sendiri. "Yang benar saja anak kecil. Kau itu seharusnya sekolah. Untuk apa anak sekecil dirimu menggoda pria dewasa? Mau cari uang jajan tambahan ya" sambung Katrin sinis.


Bella mengepalkan tangannya erat. "Kalau iya, kau mau apa?" seru Bella tak mau kalah.


"Dasar! Apakah orang tuamu begitu miskin sampai kau harus menjual dirimu sendiri untuk mencari uang" Katrin tidak tau jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Apakah kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" Bella balas tersenyum remeh.


"Hei anak kecil! Jangan kurang ajar kau!" seru Katrin kesal karena Bella tak takut dengan ucapannya. "Kau tau? Aku adalah Brand ambasador terbaru di Taman Rekreasi ini. Jadi kau jangan macam-macam!" sambung Katrin tersenyum sombong.


"Jangan gunakan nada seperti itu jika berbicara dengan istriku!" Bentak Axel tak suka cara Katrin berbicara pada Bella. Katrin sedikit takut melihat tatapan Axel yang begitu tajam. Tapi ia tak mau kalah dengan bocah ingusan ini.


"Axel, kenapa kau terus menyebut di istrimu. Apa kau benar-benar serius?" kata Katrin masih tidak terima jika Axel sudah menikah.


Axel sudah ingin angkat bicara, tapi lagi-lagi Bella mencegahnya. Karena ia tak suka dengan cara wanita ini menilainya. Memangnya kenapa jika Axel menikah dengannya?.


"Apakah kau lihat cincin ini?" Bella menunjukkan cincin permata yang berkilauan yang diberikan oleh Axel waktu penikahannya.


"Ini adalah cincin pernikahan kami, disini ada nama Axel suamiku. Begitupun cincin yang dipakainya, ada namaku di sana. Apakah itu belum cukup membuktikan pernikahan kami?" kata Bella sengaja melambatkan ucapannya, seulas senyum manis terpatri di bibirnya.


Katrin menatap cincin yang digunakan mereka sekilas. Namun ia tak bisa percaya begitu saja.


"Itu hanya sebuah cincin. Semua orang pun bisa melakukannya. Aku hanya heran, kenapa orang sekelas Axel menikah tapi secara diam-diam. Apakah dia malu mempunyai istri sepertimu? Jika aku yang menjadi istrinya, tentu aku ingin acara pernikahan kami dimeriahkan agar semua orang tau kalau aku memang istrinya" ejek Katrin ingin membuat Bella sadar posisinya. Ia yakin jika Axel memang menikah, pasti karena terpaksa.


"Tapi aku bukanlah kau, Akulah istrinya bukan kau. Aku tidak perlu memamerkan pada semua orang apa yang aku miliki hanya demi sebuah pengakuan. Suamiku mutlak sudah menjadi milikku. Dan aku harus menjaganya dari orang-orang yang ingin merebutnya seperti anda contohnya" kata Bella dengan tenang seolah tak terpengaruh sama sekali dengan ejekan yang Katrin berikan.


"Lagipula pernikahan kami di gelar secara sakral dan hanya dihari kerabat dekat saja. Jadi mohon maaf kalau anda tidak di undang karena sepertinya anda bukan termasuk orang penting yang harus menerima kabar bahagia dari kami" sambungnya tersenyum penuh kemenangan saat melihat Katrin yang semakin syok mendengar ucapannya.


"Bukan begitu sayang?" ucapnya lagi merangkul mesra lengan Axel. Ia ingin menunjukkan siapa yang lebih berhak atas diri Axel sesungguhnya.


Axel menarik salah satu sudut bibirnya saat Bella dengan bangga mengklaim dia sebaik miliknya. Axel seolah mendapatkan penghargaan tertinggi yang membuat hatinya membuncah. Ia menatap Bella dengan penuh cinta, rasanya Bella semakin mempesona dimatanya.


"Ya," jawab Axel mengulas senyum tipisnya.


"Baiklah kalau memang kalian sudah menikah, aku ucapkan selamat untukmu Axel. Jika kau ingin menghubungiku silahkan, pintuku selalu terbuka untukmu" ucap Katrin memasang wajah sok cantiknya. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Axel.


"Terima kasih. Tapi sepertinya suamiku tidak akan membutuhkanmu. Karena Sudah ada aku yang jauh lebih segalanya dari pada kau!" Bella langsung menyambar tangan wanita itu sebelum wanita itu mendekati Axel.


"Baiklah, kita lihat saja nanti" sergah Katrin mengibaskan rambutnya karena hatinya panas sekali. Ia masih tidak terima seorang Axel Leander yang begitu di puja menikah dengan wanita biasa saja. Mungkin jika masih dari kalangan artis tau apa, ia masih bisa terima. Tapi ternyata pilihan Axel sungguh rendahan pikirnya.


*****


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Bella heran sejak tadi Axel menatapnya tak biasa.


Mereka kini sudah duduk seraya menikmati makan siang yang Axel beli tadi. Entah karena kelaparan atau emosi yang coba di pendam. Bella menghabiskan makanan yang Axel belikan. Jujur saja ia tak bisa tenang setelah melihat wanita tadi. Karena ia bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat apa hubungan antara wanita itu dan suaminya.


Meskipun sekarang Axel mengatakan mencintainya, bukan tak mungkin pria itu akan goyah dengan godaan macam tadi.


"Tidak ada. Apa kau masih ingin makan lagi" tanya Axel tersenyum sedikit.


"Aku sudah kenyang" sahut Bella meneguk habis air mineral yang tersisa. "Kenapa kau senyum terus? Apa kau senang baru saja bertemu penggemarmu" cetus Bella melirik Axel yang tersenyum padahal pria itu susah sekali kalau disuruh tersenyum.


"Penggemar apa? Aku tidak mengenalnya" sanggah Axel.


"Lalu wanita tadi siapa? Dia begitu mengenalmu, bahkan sampai punya nomor ponselmu" seru Bella setengah menggerutu mengingat ucapan wanita tadi. Padahal dia sendiri tak punya nomor ponsel Axel, tapi wanita itu punya.


"Apakah itu penting? Bukankah aku sudah mengatakan kalau hanya kau yang ada di hatiku" kata Axel menatap Bella teduh.


"Siapa yang tau? Dulu sebelum mengenalku entah berapa banyak wanita yang kau kencani" kata Bella tersenyum sinis.


"Apa kau cemburu?" Axel malah tersenyum melihat wajah Bella yang tampak kesal.


"Untuk apa cemburu, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri" sanggah Bella.


"Benarkah? Tapi aku suka kalau kau cemburu. Itu artinya kau memang mencintaiku" kata Axel lagi.


"Aku bilang aku tidak cemburu" seru Bella melotot pada Axel.


"Baiklah. Lagipula bukankah aku sudah menjadi milikmu? Untuk apa harus cemburu pada orang yang tidak penting. Semua itu bagian dari masa laluku yang begitu buruk. Bella, Maafkan aku jika hal itu mempengaruhi mu. Karena bagaimana pun juga aku tidak akan bisa merubahnya. Aku harap kau selalu percaya padaku apapun yang akan terjadi nantinya dan tetaplah bersamaku" kata Axel lirih menatap dalam pada wanita terpenting dalam hidupnya


Happy Reading


TBC