
"Sayang, Kamu udah dong marahnya, aku akan udah minta maaf, jangan diemin aku terus"
Pagi-pagi sebelum berangkat ke Kantor, Dio terlihat menggelayuti istrinya yang sedang menata sarapan di meja. Dua hari di cuekin istrinya, Dio kelimpungan. Karin memang masih menyiapkan segala keperluannya, tapi sikap Karin masih sangat dingin padanya.
"Kamu kalau marah-marah terus kasihan tau anak kita nanti, Maafin aku ya?" kata Dio lagi. Ia terus memeluk pinggang Karin yang masih mengabaikannya itu.
"Awas ah, Abang mau sarapan nggak? Ini udah jam berapa, nanti telat lagi" kata Karin melepaskan tangan Dio yang masih menggelayuti dirinya itu, ia mencoba tak terpengaruh dengan sikap manja Dio itu. Ia menyibukkan dirinya dengan menata lauk-lauk di meja.
Dio sedikit cemberut, ia pun memakan sarapannya dengan tidak bersemangat. Padahal seharusnya mereka saat ini lagi mesra-mesranya karena baru saja mendapat kabar membahagiakan, tapi kenapa malah seperti ini.
"Bekal aku mana?" kata Dio kembali melirik istrinya yang konsentrasi dengan makanannya.
"Tuh, udah aku siapin" kata Karin menunjuk kotak bekal berwarna dusty pink dengan dagunya.
"Kenapa warnanya seperti ini? Aku nggak mau ah" kata Dio merasa geli jika ia harus menenteng kotak bekal itu.
"Nggak mau yasudah, Aku juga nggak mau repot gantinya" kata Karin cuek saja.
"Sayang...." Dio menatap Karin dengan raut wajah memohon.
"Apa? Udah sana berangkat" kata Karin mengusir suaminya itu.
Dio mengerucutkan bibirnya saat Karin malah mengusirnya. "Yasudah, aku berangkat dulu, aku cium ya.." kata Dio tanpa meminta persetujuan Karin ia langsung menagkup pipi istrinya dan menunduk untuk mencium bibir istrinya hingga menimbulkan suara.
"Hmmmpt.....Muaaaaaaacchhhhhh.." gumam Dio menyesap bibir manis istrinya kemudian melepaskannya. Ia merasa puas melihat wajah istrinya.
"Aku berangkat ya...titip anakku sayang, Jangan lupa minum vitaminnya" kata Dio kemudian ngeloyor pergi seraya bersenandung riang tanpa menunggu jawaban istrinya.
Karin memegang kedua pipinya yang mendadak memanas, Dio baru saja menciumnya dengan begitu dalam. Tingkah suaminya itu benar-benar tak tertebak, padahal sebenarnya ia sudah tidak marah, tapi Karin merasa senang karena bisa mengerjai Dio hingga membuat pria itu mati kutu.
******
"Angga, Setelah ini apa jadwalku?"
Waktu sudah menunjukan pukul dua siang ketika Dio kembali ke Kantor. Ia baru saja menyelesaikan shooting di dua lokasi. Dio merasa hati dan pikirannya tak tenang karena terus memikirkan istrinya yang sedang ngambek itu.
"Setelah ini kita punya janji ketemu sama Pak Edwan, pengacara kasus sengketa perkebunan itu" kata Angga setelah menggulir tabletnya untuk mengecek jadwal Dio.
"Batalkan saja pertemuan ini, Aku mau pulang saja setelah ini" kata Dio membuat Angga terperanjat.
"Apa kau serius? Kita udah lama banget nunggu panggilan kita di acc dan kau akan membatalkan semuanya begitu saja? Dio, Apakah kau lupa kalau orang ini yang kemungkinan besar bisa membantu kita?" kata Angga mengingatkan Dio bagaimana susahnya bertemu dengan pengacara tersohor ini.
Dio menggigit bibirnya, ia menyugar rambutnya ke belakang untuk menghilangkan rasa berkecamuk di hatinya.
"Aku ngerasa nggak tenang Ngga, Karin masih marah sama aku" kata Dio.
"Ya, itu salah kamu juga. Kenapa kau harus percaya foto itu daripada Karin, pakai nuduh dia selingkuh segala, Karin pasti marah lah" kata Angga menggerutu.
"Iya aku salah, Tapi aku udah minta maaf. Harusnya ini tuh jadi momen bahagia aku sama Karin buat nyambut anak kita, tapi Karin malah ngambek gini. Aku mau apa-apa serba salah sekarang"
"Kenapa kau tidak merayunya saja, kau kan pintar kalau masalah itu" kata Angga kembali mencibir bagaimana sikap Dio yang pintar menggombal itu.
"Itulah masalahnya, Kau kan tau sendiri Karin itu seperti apa, Mau aku bawakan bunga satu kebun pun dia nggak bakalan ngaruh" kata Dio benar-benar frustasi karena tak bisa membujuk Karin.
Angga terdiam, ia mengusap-usap dagunya untuk berpikir cara apa yang bisa membuat istri luluh, sesaat kemudian ia tersenyum.
"Ide apa?" tanya Dio melirik Angga malas. Mustahil orang se kaku Angga mempunyai ide bagus untuk merayu wanita.
"Kau harus sakit, maka Karin pasti akan luluh" kata Angga dengan percaya diri.
"Kau gila" seru Dio kaget mendengar ide dari Angga.
"No, Menurut survey membuktikan, cewek itu akan lebih simpati sama cowok yang lemah, jadi kau harus pura-pura sakit agar Karin bersimpati padamu" kata Angga dengan senyumnya.
"Kau pikir Karin bodoh, Dia tidak akan percaya begitu saja, cari cara lain" kata Dio menolak mentah-mentah.
"Cara lain apa? Atau kau pura-pura meninggal saja biar Karin menyesal karena sudah mengabaikan mu" ceplos Angga langsung mendapatkan lemparan bolpoin dari Dio.
"Kau menyumpahiku mati?" kata Dio kesal.
"Ya bukan, Aku masih butuh uang untuk menikah, jadi jangan mati dulu, lagian kasian Karin nanti jadi Janda" kata Angga tertawa puas saat melihat wajah kesal Dio.
"Kau memang cari mati ya! Aku akan mencari penggantimu saja besok, asisten apa itu yang mendoakan bosnya meninggal" sungut Dio memandang Angga sebal.
"Ampun bos...Aku bercanda kok, Lagian aku kasih ide kamu nggak mau, percaya deh, Karin pasti bakalan luluh kalau kamu sakit"
"Ya tapi gimana caranya aku pura-pura sakit? Aku sekarang baik-baik saja Angga" kata Dio lagi.
Angga tersenyum simpul. "Tenang kalau itu, sekarang kita selesaikan ini dulu, nanti aku akan membantumu"
******
Dio menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat, tapi ia juga merasa lega karena pengacara yang akan di gandengnya untuk membela kasus sengketa tanah itu sudah setuju. Setidaknya masih ada harapan yang tersisa di antara luluh lantaknya masalah itu.
"Apa kau yakin cara ini berhasil?" Dio bertanya ragu saat melihat Angga membawakannya satu teko air panas dan handuk kecil.
"85% yakin"
"Kenapa cuma 85% persen, jadi cara ini belum sepenuhnya akan berhasil?"
"Ya tergantung, Kalau kamu sukses jalanin akting pura-pura sakit ini ya pasti berhasil"
"Baiklah, sekarang lakukanlah, Jangan banyak bicara"
Angga mendengus kecil saat Dio mengatakan hal itu, padahal yang sejak tadi banyak berbicara adalah Dio. Angga segera membasahi handuk kecil itu dengan air hangat, kemudian memerasnya dan membantu menempelkan di seluruh wajah Dio.
"Anjing! Kau mau membakar wajahku, Ini panas banget" Dio mengumpat marah saat merasakan wajahnya seperti terbakar karena handuk itu.
"Kalau kau mau membuat badan mu panas ya harus seperti ini, Tahanlah sebentar" kata Angga lagi.
"Tapi ini sangat panas, Awas saja kalau sampai tidak berhasil, Aku pasti akan memotong gajimu Angga" kata Dio melirik Angga kesal.
Angga tak menggubrisnya, ia sudah biasa mendengar Dio berbicara seperti itu. Tapi nyatanya pria itu tak pernah melakukannya. Menjalin kerja sama dari nol berdua, membuat hubungan mereka sangat dekat, tapi Angga sengaja memberi jarak untuk menghormati Dio sebagai atasannya.
Happy Reading.
Tbc.