MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Mencari Bantuan.



"Baiklah, kita lakukan saja pertunangannya sekarang, toh tak akan menjadi baik jika menunda-nunda hal bahagia ini. Bagaimana?" kata Ayah Nathan tampak menggebu-gebu. Ia melirik istrinya yang sudah duduk disampingnya.


"Kita serahkan semuanya pada Karin" kata Papa Raimond menatap anaknya.


"Ya Papa, Kita lakukan sekarang saja. Itu akan lebih baik" kata Karin dengan suara bergetar menahan tangis. Ia tak ingin menangis karena memikirkan Dio.


"Bagus sekali" kata Ibu Nathan membuat Elmira benar-benar merasa tak beres.


Elmira kemudian bangkit dan mendekati putrinya, ia memegang pundak anaknya dengan lembut. Hal itu hampir saja membuat pertahanan Karin runtuh tapi ia benar-benar menahannya.


"Karin, Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu? Bertunangan dan menikah itu hanya sekali dalam hidupmu. Apa kau sudah memikirkan segalanya?" kata Mama Elmira dengan suara lembutnya.


Nathan segera meremas pinggang Karin dengan keras membuat Karin tersadar.


"Iya Ma, Karin yakin Ma" kata Karin tak ingin menatap Mamanya. Ia ingin sekali memeluk tubuh Mamanya sekarang.


"Baiklah kalau begitu, kami menerima pertunangan ini" kata Raimond menatap Istrinya yang seolah ingin mengatakan sesuatu tapi wanita itu hanya terdiam karena ini semua sudah keputusan Karin.


Nathan langsung mengembangkan senyum manisnya. Ia mengurai genggaman tangannya dan Karin lalu mengeluarkan cincin di dalam kotak. Karin menahan nafasnya saat Nathan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Ia ingin sekali menarik tangannya namun tak bisa.


Tangan Karin gemetaran saat mengambil cincin itu dan memasukannya ke jari Nathan. Perlahan ia mendorong cincin itu tapi Nathan yang tak sabar langsung mendorongnya sendiri hingga cincin itu terpakai. Nathan lalu mengambil tangan Karin dan menciumnya.


Karin terdiam serasa semuanya hening dan kepalanya berputar. Seluruh dunianya terasa kosong. Tiba-tiba semua tampak gelap dan ia tak bisa menahannya hingga ambruk begitu saja.


"Karin! Karin"


*****


Dio membuka matanya karena guyuran air dingin di wajahnya. Sangat dingin hingga membuat ia sangat kaget. Kepalanya masih begitu pusing karena efek obat tidur itu sepertinya begitu keras.


Dio langsung menatap tajam pada Nathan yang berdiri di depannya dengan senyum ramah yang menjijikan.


"Sudah sadar? Bagaimana keadaanmu sepupu?" kata Nathan masih dengan senyum tanpa dosa.


Dio ingin sekali mengumpat, tapi mulutnya di sumpal oleh lakban yang membuat ia tak bisa berbicara. Hanya bergumam-gumam tak jelas.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" kata Nathan pada Dio.


Nathan lalu melepas lakban dari mulut Dio dengan kasar hingga membuat Dio meringis kesakitan. Ia menggoyangkan rahangnya yang terasa pegal, matanya memerah karena emosi dalam dirinya.


"Apa yang kau lakukan pada Karin?" tanya Dio dengan nada kasarnya.


"Kau benar-benar menyukai wanitaku?" kata Nathan mencondongkan tubuhnya hingga dekat dengan Dio yang sekarang masih terikat di kursi.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya!!!!" teriak Dio begitu emosi ingin tau apa yang di lakukan Nathan pada Karin.


"Memangnya aku akan melakukan apa? Aku juga tidak mau menyakiti wanita yang aku cintai. Lagipula tanpa aku melakukan apapun, Karin sudah setuju menikah denganku. Tentu aku pria yang tepat untuk mendampinginya bukan?" kata Nathan sengaja memanasi Dio dengan menunjukkan cincin pertunangannya.


Sepertinya hal itu menyulut emosi Dio yang sejak tadi memang sudah membara. Dio menatap Nathan dengan marah. Dan dengan cepat ia membenturkan kepalanya pada Nathan yang ada di depannya, membuat Nathan langsung mundur ke belakang karena kepalanya sangat sakit.


Dio tak membuang waktunya ia langsung bangkit dan menggunakan kursi yang terikat padanya untuk menyerang anak buah Nathan. Tapi ia juga cukup kesusahan akan hal itu.


******


Karin terbangun saat merasakan nafasnya yang sesak. Keringat dingin tampak membasahi wajahnya. Ia baru saja mimpi buruk. Ia melihat Dio yang terluka dimana-mana. Saat Karin datang, pria itu sudah tak merespon dirinya dan terus saja tak sadarkan diri.


"Karin, Sudah bangun nak?" ucap Elmira menyentuh lembut bahu putranya.


Tadi saat melihat putrinya pingsan, Nathan langsung menggendongnya ke kamar dan mengatakan kalau Karin hanya kelelahan, butuh istirahat.


"Dio! Mama! Dio!" kata Karin begitu panik.


"Dio siapa sayang? Dia kenapa?" kata Elmira cukup kebingungan melihat putrinya yang tampak panik dan ketakutan.


Karin hampir saja menceritakan semuanya yang terjadi, tapi dia ingat ancaman Nathan yang semakin banyak yang tau maka akan semakin dalam bahaya Dio. Ia tak boleh gegabah karena Nathan itu pria yang kejam dan licik.


"Karin, dengarkan Mama" kata Elmira tau jika anaknya sangat susah membagi cerita. Ia memegang kedua tangan anaknya.


"Mama tidak tahu apa masalah yang kamu hadapi, tapi Mama tau kalau ada hal yang harus kamu selesaikan. Jadi, Mama hanya ingin mengatakan padamu, kita wanita yang hanya bisa menangis, karena itu adalah senjata yang kita punya. Tapi kamu harus tau kalau menangis terus itu juga tidak ada gunanya"


"Sekarang menangislah sepuasmu dan buat hatimu lega. Tapi setelah itu berhentilah dan berfikir apa yang harus kau lakukan sekarang. Bangkitlah dan lakukan apa yang memang kau butuhkan. Mama yakin kamu bisa melewatinya dan jangan sampai kau menyesal hanya karena menangis" kata Mama Elmira membuat Karin semakin mengencangkan tangisnya.


Tapi Mamanya benar, menangis sekarang tidak ada gunanya. Ia harus segera bergerak mencari bantuan. Karin mengambil ponselnya menggulir nama kontak yang bisa ia mintai tolong. Karin sedikit kaget saat melihat pesan yang Nathan berikan.


Jangan coba-coba memberitahu siapapun! Kau tau sendiri akibatnya!"


Karin mengigit bibirnya, ia serba salah sekarang. Tapi Karin tak perduli, ia segera menghubungi Tiara.


"Halo, Karin..."


"Ra, Apa kau sibuk hari ini" kata Karin.


"Aku lagi keluar sama nyokap, Ada apa?"


"Aku pengen ketemu, bisa nggak?" kata Karin sangat berharap sahabatnya ini bisa membantu.


"Baiklah, mau ketemu dimana?"


"Kamu dimana sekarang?" kata Karin segera bersiap.


Setelah Tiara menyebutkan alamatnya, Karin bergegas untuk kesana. Tapi ia sedikit kaget saat melihat pintu kamarnya terbuka. Matanya langsung melirik tajam wanita yang kini datang bersama Mamanya.


"Karin, ada temen kamu. Katanya kamu yang menyuruhnya kesini" kata Elmira.


"Dia bukan temanku!" kata Karin menatap Cindy dengan penuh kebencian. Wanita itu benar-benar tak tahu diri sampai berani datang ke rumahnya.


"Kita memang bukan teman tante, tapi Saya tunangan sepupunya Nathan. Jadi bisa di bilang kita juga akan menjadi sepupu"


Happy Reading.


Tbc.