
Hati ibu mana yang tak hancur mengetahui anak yang dia begitu percaya. Kini mengakui jika telah merusak masa depan anak orang lain. Tamara masih tak percaya anaknya bisa berbuat hal seperti itu. Axel sendiri merasakan sesak di dadanya melihat ibunya yang begiu hancur.
Bodoh! Dia memang sangat bodoh!
"Ya Tuhan Axel! Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu!" Ucap Ibu Tamara antara sedih dan juga ingin marah.
"Maafkan Axel Bu, ini semua memang salahku! Tapi Axel pasti tanggung jawab" kata Axel dengan tegas, matanya melirik ayahnya yang terdengar menggeram kesal.
"Itu memang harus! Tapi bagaimana dengan orang tua wanita itu? Apa dia tau tentang hal ini?" tanya Tamara lagi dibalas Anggukan kecil oleh Axel.
"Apa maksud ibu, Axel harus tanggung jawab, Anak itu juga belum tentu anak Axel" Ayah Indra masih tak bisa menerima wanita yang belum ia ketahui asal usulnya itu.
"Cukup ayah! Aku bilang itu memang anakku, Dan aku tegaskan pada ayah, calon istriku itu wanita baik-baik, bahkan jauh lebih baik dari wanita pilihan ayah" seru Axel sudah cukup menahan kesabarannya karena Ayahnya ini terus merendahkan Bella. Apalagi dia sangat sadar kalau dialah pria pertama yang telah menyentuh tubuh Bella.
"Baiklah jika memang itu keputusanmu, kau berarti sudah siap untuk angkat kaki dari sini" kata Ayah Indra mengancam Axel sebagai senjata terakhirnya
"Ayah! Kenapa ayah mengusir Axel, Dia sudah menunjukan itikad baiknya untuk bertanggung jawab. Apa ayah mau anak kita menjadi anak yang tak bertanggung jawab!" Tamara begitu kaget dengan keputusan suaminya.
"Biarkan saja! Lagipula dia sudah membuat malu keluarga kita! Mulai sekarang kau bukan lagi anakku dan aku akan mencabut semua fasilitas yang selama ini aku berikan" kata Ayah Indra masih berkeras hati.
"Tapi....
"Sudahlah Bu, Pria ini memang sangat ingin aku meninggalkan rumah ini. Tapi ibu tenang saja, aku pasti akan buktikan kalau aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bantuan dia" kata Axel menenangkan kegusaran hati ibunya. Baginya tak masalah jika harus meninggalkan rumah dan segala kemewahan yang ia miliki. Toh selama ini dia memang tak begitu menginginkannya.
"Kau dengar sendiri Bu? Anakmu ini begitu sombong, bahkan dia sudah kehilangan sopan santunnya kepada orang tuanya" kata Ayah Indra begitu sinisnya, dia tak senang karena Axel tak takut dengan acamannya.
"Ya memang tuan Indra Jaya yang terhormat, Saya memang sombong, dan kesombongan itu menurun Dari Anda" kata Axel dengan dagu terangkat. Dia tak boleh takut jika menghadapi ayahnya. Karena semakin dia takut semakin ayahnya leluasa menindasnya.
"Kurang ajar! Cepat pergi dari sini kau! Mulai sekarang jangan tunjukkan wajahmu itu di depanku" Usir Ayah Indra langsung, wajahnya memerah karena menahan amarahnya. Kalau saja Axel itu bukan anaknya, dia pasti akan mencekikknya saat ini juga.
"Dengan senang hati" Axel menjawab dengan tenang, dia hendak berlalu ke kamarnya, tapi Ibunya yang sejak tadi diam terlihat memegangi dadanya.
Wajah ibunya terlihat pucat dan keringat dingin membahasi dahinya. "Jangan ... Pergi.." itu ucapan terakhir ibunya sebelum tubuh rapuh ibunya terjatuh kelantai karena pingsan.
"Ibu!" teriak Axel langsung sigap mendatangi ibunya yang begitu lemas.
Ayah Indra sendiri kaget melihat istrinya yang pingsan. Sepertinya istrinya itu mengalami serangan jantung.
"Ibu, bangun Bu... Ibu ini Axel" Axel menepuk pipi ibunya dengan pelan, berharap ibunya akan membuka matanya.
"Tidak perlu, Ibumu begini karena kelakuanmu! Sebaiknya cepat pergi dari sini" Dengan kasar Ayah Indra mendorong tubuh Axel dan menggantikan memangku Tamara.
"Ayah ! Berhenti bersikap egois! Ibu butuh perawatan segera" Axel begitu kesal karena sikap ayahnya ini.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan!" Sentak Ayah Indra menggendong tubuh Istrinya untuk di bawa ke rumah sakit. Tanpa menghiraukan Axel yang begitu frustasi karena tak bisa melihat ibunya.
"Argh!!" Axel menjambak rambutnya untuk melampiaskan kemarahannya. Sebenarnya terbuat dari apa hati ayahnya itu. Dengan kesal Axel keluar rumah yang menurutnya menjadi neraka baginya.
****
Disisi lain Tamara barusaja selesai diperiksa. Ternyata dia memang mengalami serangan jantung dan tekanan darahnya naik. Hal itu membuat dirinya tak sadarkan diri dan harus di observasi beberapa waktu di rumah sakit.
"Bagaimana perasaanmu?" Ayah Indra yang pertama kali masuk keruangan istrinya. Dalam hati dia bersyukur karena istrinya baik baik saja.
"Axel mana yah?" Tamara hanya ingin melihat putranya saat ini. "Ayah tidak jadi mengusirnya kan?" Hal itulah yang Tamara takutkan, dia tak ingin anak kesayangannya itu pergi meninggalkannya.
"Untuk apa ibu menanyakan anak kurang ajar itu" Ayah Indra masih begitu kesal jika mengingatnya, tapi kali ini nada bicaranya tak sekeras tadi.
"Dia itu anak kita ayah, ibu mohon restui Axel untuk menikah dengan perempuan pilihannya" kata Tamara dengan suara lemah membuat Indrajaya sedikit melembutkan hatinya.
"Tapi kita tidak tau asal usulnya, bagaimana jika wanita itu hanya memanfaatkan Axel. Kita tidak bisa sembarangan memasukan orang asing ke keluarga kita" Indra Jaya tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Tolong kali ini saja, percaya pada Axel. Ibu yakin Axel bisa memilih pasangan yang baik untuk masa depannya"
"Jika perempuan itu baik, dia tak mungkin sampai mau di hamili oleh anak kita" Bagi IndaJaya perempuan yang hamil di luar nikah itu sudah memiliki stigma negatif. Karena pacaran yang terlewat batas dan tak bisa menjaga dirinya sendiri.
"Tapi ini bukan sepenuhnya salah perempuan itu, anak kita juga ikut andil didalamnya" kata Tamara cukup kesulitan memberi pengertian pada suaminya ini.
"Lagipula kita belum mengenalnya, Kita baru bisa menilai jika kita bertemu dengannya langsung, Jadi ibu mohon sama ayah, untuk satu kali ini saja restui Axel. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri"
****
Like dan komen ya..
Happy Reading...
TBC