
"Benarkah? Aku semakin curiga dengan kakak, oh atau jangan-jangan kakak mulai takut kalau aku mengadukan perbuatan kakak pada Papa" kata Karin mengejek.
Renata mengepalkan tangannya, ia menahan dirinya untuk tidak menampar wajah Karin, tapi ia tak boleh terpancing. Ia tidak ingin rencananya akan gagal.
"Aku yakin kau tidak akan melakukannya adik ipar, Aku benar-benar ingin minta maaf padamu" kata Renata memasang senyum tulusnya.
Karin terdiam sesaat. "Baiklah, aku sudah memaafkan mu" kata Karin.
"Kau memang sangat baik adik ipar, pantas saja Dio memilih wanita seperti mu" kata Renata membuat Karin tertawa sinis.
"Tidak perlu begitu berlebihan kakak, Katakan saja apa yang ingin kakak katakan?" kata Karin.
"Tidak ada, kita sekarang sudah berbaikan, bagaimana kalau kita merayakan hal ini dengan minum" kata Renata memanggil salah satu pelayan untuk meminta minuman.
"Kakak pikir aku bodoh? Bisa saja kakak sudah mencampur sesuatu kedalam minuman itu" kata Karin tersenyum sinis.
"Apa maksudmu? kita sudah berbaikan, untuk apa aku melakukan itu" kata Renata sedikit gugup. Ia tak menyangka kalau Karin dengan mudah menebak rencananya.
"Oh ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita tukeran minuman? Kakak minum punyaku, dan aku minum punya kakak" kata Karin menantang.
"Kau tidak percaya padaku?" kata Renata mulai kesal dengan tingkah Karin.
"Aku belajar dari pengalaman kakak ipar, dan aku tidak pernah mempercayai lagi seorang yang menawariku minuman. Ayo, kita minum ini bersama, bukankah kakak bilang ingin merayakan pertemanan kita" kata Karin mengambil gelas itu dan menyodorkannya pada Renata.
Renata menatap Karin geram, ternyata wanita di depannya lebih licik dari yang ia kira. Tapi ia kemudian tersenyum sedikit. "Baiklah, mari kita meminumnya" kata Renata mengangkat gelasnya.
Karin juga tersenyum dan meminum minuman miliknya. Ia langsung meneguknya cukup banyak, hingga beberapa saat kepalanya mendadak pusing.
Renata tampak mengembangkan senyumnya, ia senang karena sepertinya Karin mulai terpengaruh dengan alkohol yang sengaja di campurkan ke minuman itu. Untung ia tadi sempat menukar minumannya terlebih dulu karena ia tau kalau Karin tak akan semudah itu percaya padanya.
"Adik ipar, Apa kau baik-baik saja?" kata Renata memasang wajah pura-pura simpati.
"Apa yang sudah kau campurkan ke minumanku! Argh....kepalaku sakit" kata Karin mulai sempoyongan. Nada bicaranya pun meninggi karena efek alkohol yang mulai bekerja.
"Apa maksudmu? sepertinya kau minum terlalu banyak, aku akan membantumu" kata Renata mulai menjalankan aktingnya sebagai kakak ipar yang baik.
"Jangan menyentuhku! kau wanita licik! Kau sengaja melakukan ini kan" Karin berteriak dan mendorong Renata. Ia mulai tak bisa mengontrol dirinya.
"Abang!!" Karin kembali berteriak membuat suara yang gaduh hingga semua orang kini menatap dirinya.
Orang-orang saling berbisik menggunjing tingkah Karin yang sangat tidak sopan itu. Bagaimana bisa seorang wanita mabuk begitu parah di acara seperti ini, pikir mereka.
Renata semakin senang melihat hal itu, ia melempar pandang pada Mama mertuanya. Akhirnya rencana mereka berhasil untuk membuat Karin mempermalukan dirinya.
"Karin?" Dio berseru kaget saat melihat istrinya tampak bersimpuh dan berbicara tidak jelas. Ia baru saja kembali bersama Papa Abimanyu setelah mengobrol bersama beberapa kolega.
"Abang! Akhirnya kau datang, wanita licik itu memberiku minuman" kata Karin mengadu dan bangkit lalu memeluk tubuh Dio erat, ia menunjuk Renata yang kaget karena tak menyangka Karin akan berbicara seperti itu.
"Kau bohong! Tadi kau yang memberikan jus itu, Sayang, Aku mau pulang" kata Karin sudah tak bisa mengendalikan dirinya, ia terus memeluk tubuh Dio erat. Kepalanya benar-benar pusing sekali.
Dio yang melihat itu memeluk tubuh Karin dengan satu tangan, ia lalu mengambil minuman milik Karin yang berada di meja dan mencicipinya sedikit membuat ia tau apa yang sudah di campurkan dalam jus itu.
"Apa yang sudah kau campurkan pada minuman istriku?" kata Dio dengan aura dingin yang mengerikan membuat Renata ketakutan. Ia lalu melirik Elvan yang baru datang.
"Aku tidak melakukan apapun, Elvan, Adikmu sudah menuduhku yang tidak-tidak" kata Renata ikut mengadu pada suaminya.
"Dia bohong sayang, Tadi dia yang memberiku jus itu" kata Karin masih merancau di pelukan Dio.
Mendengar hal itu amarah Dio memuncak, ia segera mengambil jus itu lalu menyiramkannya ke wajah Renata lalu membanting gelasnya ke lantai membuat semua orang kaget.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah menggangu istriku, aku pastikan kau menyesal dan aku tak akan segan walau kau wanita" kata Dio tak perduli reputasinya akan jelek. Ia benar-benar tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Renata.
Dio segera menggendong Karin untuk pergi dari ruangan itu, meninggalkan Renata yang menahan rasa malunya karena sikap Dio. Ia menatap Elvan seolah meminta bantuan, tapi suaminya itu justru marah dan mengacuhkannya. Renata begitu emosi, ia ingin mempermalukan Karin, tapi kenapa malah dia yang di permalukan seperti ini.
_______****_______
Karin masih terus merancau saat Dio sudah membawanya keluar dari ruangan itu. Dio tampak masih kesal saat melihat wajah Karin yang memerah itu.
"Sayang, Kau akan membawaku kemana? Aku merindukanmu" kata Karin memegang wajah Dio agar melihatnya.
"Tidurlah, aku akan membawamu ke hotel" kata Dio tersenyum sedikit pada istrinya.
"Aku tidak mau pulang, Aku mau disini, ayo turunkan aku" kata Karin tiba-tiba meronta dari gendongan suaminya.
"Kau sedang dalam keadaan tidak baik, Karin, ayo kita pulang" kata Dio kaget saat Karin meminta turun.
Karin malah tertawa kecil. "Aku baik-baik saja, aku merindukanmu sayang, Ayo, cium aku" kata Karin sepertinya benar-benar tak sadar dengan apa yang diucapkannya, ia mendekatkan wajahnya pada Dio.
"Astaga! Kau memang berbahaya kalau mabuk, Kita harus secepatnya pergi" kata Dio ingin menggendong Karin lagi tapi wanita itu menolak.
"Tidak mau pulang, aku ingin di cium Abang" kata Karin merapatkan tubuh Dio di dinding dengan mendekatkan wajahnya.
"Aku akan mencium mu sampai puas nanti kalau kita sampai di kamar, ini tempat umum" kata Dio masih punya akal untuk tidak berciuman di lorong hotel yang sewaktu-waktu akan ada petugas yang akan datang.
"Ah Abang lama, Kalau gitu biar aku aja yang mencium Abang" kata Karin langsung menyambar bibir tipis Dio dan me lu matnya dengan penuh nafsu. Tangannya bergerak liar melepas kancing kemeja suaminya.
Dio kaget melihat tingkah Karin yang sangat agresif ini, tapi bohong kalau ia tak menikmati dan terpancing dengan apa yang Karin lakukan. Ia malah ikut mer aba tubuh istrinya dan memberi sentuhan-sentuhan yang membuat Karin men de sah.
Happy Reading.
Tbc.