
"Ya.. maksud gue tuh sebenarnya asal nebak aja gitu, mungkin gue masih ke bawa emosi ke Dio kali ya makanya mikir semua cowok kayak gitu"
Bella benar-benar mengutuk kecerobohannya. Kini dia harus hati-hati, jangan sampai sahabatnya tau yang sebenarnya tentang apa hubungannya dengan Axel.
"Apa sekarang Lo trauma untuk mengenal cowok?"
Tiara merasa prihatin dengan nasib sahabatnya. Bagaimanapun ia tau kisah cinta mereka berdua. Bahkan semua orang selalu bilang Bella dan Dio sebagai couple terfavorit disekolah. Tapi sayang hubungan mereka saat ini harus kandas.
"Kayak males aja gitu, gue masih pengen nikmati kesendirian aja" Dalam hati Bella begitu lega karena kedua sahabatnya percaya padanya.
"Maafin gue , belum bisa jujur sama Lo berdua" bantinnya miris.
"Tapi Lo nggak bisa menyamaratakan semua cowok itu sama kaya Dio Bel, jujur gue nggak suka sama pemikiran Lo" Karin ikut menyahut. Masih kesal rupanya anak itu, pikir Bella.
"Udah deh Rin, ini tuh masalah nggak penting jadi nggak usah Lo perpanjang" Tiara menengahi saat melihat Karin masih emosional.
"By the Way, sebenarnya gue punya sedikit cerita tentang kak Axel" kata Tiara dengan wajah sok taunya.
"Apa tuh?" sahut Karin langsung. Sedangkan Bella hanya diam saja.
"Heh semangat banget Lo" cetus Tiara melihat sikap kepo Karin yang kentara.
"Ya emang, semua tentang kak Axel itu menjadi mood booster gue" Karin tersenyum sendiri membayangkan wajah Axel.
"*Cih, apa sih istimewanya cowok brengsek itu" batin Bella menatap sinis kearah Axel yang kini juga menatapnya.
"Sial! Kenapa dia lihatin gue terus dari tadi" Pantas saja Bella merasa ada yang mengawasinya dari tadi, ternyata pria itu*.
"Tapi mungkin cerita gue kali ini bakal bikin Lo mundur alon-alon" kata Tiara sebelum menceritakan fakta tentang Axel yang dia ketahui dari kakaknya.
"Ih merinding gue denger bahasa Lo" Karin terkikik melihat wajah serius Tiara yang menurutnya lucu.
"Gue serius, jadi meskipun terlihat baik-baik saja gitu, Kak Axel itu sebenarnya dalam keadaan rapuh, kata kak Jofan kak Axel itu mulai berubah menjadi pribadi yang acuh dan dingin sejak pulang dari luar negeri. Lo pengen tau nggak kenapa?" Karin langsung mengangguk saja. Sedangkan Bella hanya menyimak.
"Karena dia ditinggal nikah sama ceweknya dong, kata kakak gue mereka itu pacaran dari waktu SMA tapi sayang karena Kak Axel harus kuliah di luar negeri mereka menjalani hubungan LDR. Menurut kakak gue juga karena tuntutan orang tua kak Axel yang membuat dia kayak tertekan gitu dan ini bagian penting yang Lo harus tau..." Tiara sengaja menggantung perkataannya.
"Eh cepet dong, sengaja banget sih Lo, gue penasaran nih" Karin merasa tak sabar ingin mendengar kisah Axel.
Tiara menghela nafas panjang. "Sebenarnya gue nggak mau cerita. Tapi karena Lo maksa oke"
"Di umur yang masih muda kak Axel sudah harus memimpin perusahaannya sendiri. Bisa bayangin kan Lo gimana stressnya dia. Udah di tinggal nikah pacarnya di tambah tanggung jawab Gedhe. Hal itu membuat kak Axel suka mainin cewek Buat jadi pelariannya" kata Tiara menjabarkan kebenaran tentang Axel.
"Masak sih kak Axel gitu, pasti dia tertekan banget dong saat ini" Karin merasa iba dengan kisah Axel yang menurutnya miris.
Bella yang diam sejak tadi sebenarnya cukup merasa kasihan dengan pria itu. Sedikit tak menyangka jika pria brengsek itu punya masa lalu yang cukup mengenaskan baginya. Tapi Bella mengerutkan dahinya. Berfikir kenapa dia harus kasihan dengannya, Ingat Bella. Dia itu pria yang telah menodai mu.
"Gue mau ke toilet dulu" Bella merasa harus pergi daripada mendengarkan ocehan Tiara dan Karin yang menurutnya nggak bermutu.
****
Bella mencuci tangannya di wastafel kamar mandi. Dia sedikit merapikan make up-nya yang sebenarnya masih rapi. Dia memoleskan sedikit lip cream di bibir tipisnya karena lipstiknya sedikit hilang saat dia buat makan tadi.
Tak lupa Bella menyemprotkan parfum di sekitar telapak tangan dan lehernya. Bella itu tipe orang yang perfeksionis, dari ujung kepala sampai ke kaki dia harus tampil sempurna.
Setelah memastikan penampilannya cukup oke Bella bergegas keluar dari toilet. Baru saja dia membuka pintu. Bella di kejutkan dengan wajah Axel yang tampak sudah berdiri di depannya. Sial, kenapa pria itu ada disini pikir Bella. Apa dia mau berbuat macam-macam, tapi tak mungkin rasanya.
Axel menarik bibirnya kesamping mendengar pertanyaan Bella. "Aku pikir kau sudah melupakanku, tapi ternyata aku salah" ucap Axel tak melepaskan tatapan matanya.
"Gue nggak kenal sama Lo, jadi mendingan Lo menyingkir dari hadapan gue" sentak Bella geram pada pria yang tak tau malu itu. Namun entah kenapa dia merasa gugup dengan tatapan mata Axel. Tidak! Dia tidak boleh terjebak pada pesona pria itu.
Axel tersenyum tipis melihat tingkah Bella yang tampak berani tapi dia sedang sangat gugup itu. Hal itu membuat Axel semakin penasaran dengan Bella. Apalagi harum tubuh Bella sedari tadi begitu mengusiknya. Axel berjalan mendekat, mengikis jarak antara keduanya.
"Lo mau apa?" Bella sedikit takut karena kini Axel mendekatinya, dia berjalan mundur namun sialnya dibelakangnya sudah ada wastafel membuatnya mau tak mau berhenti.
"Kalau Lo berani kurang ajar sama gue, gue bakal teriak" ancamnya mencoba berani meskipun tubuhnya kini begitu gemetar saat Axel menutup pintu kamar mandi.
"Teriak saja, Toh disini tidak ada orang, jadi tak akan ada yang mendengar suaramu" Axel sengaja mendekati Bella membuat wanita itu ketakutan. Entah mengapa Axel sangat menyukai wajah panik Bella yang tampak semakin cantik.
"Apa Lo bakal ngelakuin hal yang sama kayak waktu itu" ucap Bella merasa terpojok dengan situasi ini.
"Memang aku ngelakuin apa?"
"Nggak usah pura-pura bego deh Lo! Apa begini cara Lo sama para wanita lain di luar sana! Setelah Lo puas Lo bakal nge buang dia kayak sampah! Menjijikan banget sifat Lo" Entah keberanian darimana Bella berucap dengan kata kata pedas seperti itu.
"Bisa jadi!" Axel menjawab sekenanya membuat Bella semakin tersulut.
"Terus kenapa harus gue?" Kali ini mata Bella terlihat bekaca-kaca, Sial dia begitu marah hingga rasanya ingin menangis.
"Kenapa Lo harus ngelakuin hal ini ke gue"
"Lo itu cowok Ter jahat yang pernah gue tau di muka bumi ini"
"Jahat?" Axel mengerutkan dahinya mendengar ucapan Bella. Dia mengurung Bella dengan meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Bella.
Jarak keduanya kini semakin tak terlihat, Bahkan wajah Bella dan Axel kini hanya berjarak lima senti mungkin. Bella memejamkan matanya takut, dia pikir Axel akan berbuat macam-macam padanya.
"Sepertinya Anda melupakan sesuatu Nona? Biar aku kasih tau, Malam itu bukan hanya aku yang menikmati percintaan panas kita. Bahkan bibirmu yang sedari tadi mengatai ku ini terus mendesah penuh kenikmatan. Kau bahkan terus memelukku malam itu, dan ya punggungku penuh luka yang di akibatkan oleh tangan......"
Plak
Sebuah tamparan keras langsung dilayangkan Bella pada Axel. Dia merasa marah dan juga malu sekaligus. Bagaimana bisa pria itu bisa berkata dengan kurang ajar padanya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong pria yang tubuhnya tak kecil itu. Axel sendiri cukup kaget dengan reaksi Bella.
"Kau menamparku setelah aku mengatakan kenyataan....
"Tutup mulut Lo! Yang salah disini itu Lo! Kenapa Lo nggak bisa nahan diri! Gara-gara kelakuan bejat Lo, masa depan gue hancur! Apa Lo pikir masih ada yang mau sama gue setelah tau gue nggak perawan!" Bella tak bisa membendung air matanya.
Axel bisa melihat hancurnya Bella, dari sorot matanya tampak rasa marah, benci dan putus asa. Entah mengapa dia merasa bersalah.
"Maaf..." kata Axel lirih namun Bella masih bisa mendengarnya. Bella memilih mengacuhkannya dan berlalu pergi meninggalkan Axel sendirian.
****
Jangan lupa tombol likenya kakak....
Happy Reading ..
TBC