
Banyak orang mengira kalau orang pendiam itu lemah. Namun justru hal itu adalah kebalikannya, Orang diam akan lebih berbahaya dari orang yang banyak berbicara. Dibalik sifat dingin yang Axel tunjukkan ternyata ada sifat yang tak banyak orang tau. Jika dibilang pendendam rasanya tidak, Mungkin lebih ke memberi hukuman kecil agar tak main-main dengannya.
Axel melihat tiga orang wanita yang tengah meringkuk tak sadarkan diri dengan tatapan sulit di artikan. Ia tentu tak akan diam saja saat miliknya terusik, terlebih mereka bertiga yang telah menyebabkan kematian Putri kecilnya. Air muka Axel seketika mengeras mengingat apa yang sudah dilakukan para ba ji ngan kecil ini.
"Bangunkan mereka!" perintahnya dengan kilatan tanpa belas kasih.
Bram memberikan gestur kepada anak buahnya yang langsung sigap menyiramkan air dingin membuat ketiga wanita itu kaget seketika.
"Argh..." teriak Cheryl yang begitu kaget melihat para pria yang mengitarinya. Ia menatap takut pada mereka. "Kalian siapa?" ucapnya terbata dengan tubuh gemetar.
Ia tidak tau bagaimana ia bisa disini, seingatnya ia baru saja pulang sekolah dan tiba-tiba ada yang menculiknya bersama kedua temannya.
"Kau bisa menganggap ku malaikat kematian jika kau ingin" ucap Axel berdiri dengan angkuh. Tubuhnya yang tinggi menjulang terkesan sangat mengintimidasi Cheryl yang semakin ketakutan.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian. Tolong lepaskan aku" kata Cheryl memohon di ikuti kedua temannya.
"Melepaskan Mu? Kau pikir apa yang telah kau lakukan pada wanitaku aku akan melepaskan mu?" Kata Axel lagi.
"Wanita mu siapa? Aku tidak kenal dengan kalian" sahut Cheryl benar-benar tak kenal dengan mereka.
"Bella" ucap Axel mengeja nama itu lambat lambat.
Mata Cheryl membesar mendengar nama yang di sebut. Jadi wanita yang di maksud adalah Bella? . Seketika ketakutan semakin menyergap dirinya. Pria ini pasti akan menuntut balas padanya.
"Bella. Aku tidak melakukan apapun padanya. Joana yang telah sengaja membuatnya terjatuh. Bukan aku" Cheryl tentu tak mau disalahkan. Ia melemparkan kesalahan itu pada temannya.
"Aku juga tidak sengaja. Tolong maafkan kami, waktu itu kami hanya bercanda. Lo apaan sih Cher, kan elo yang nyuruh kita" kata Joana kembali melemparkan kesalahan.
"Tapi lo yang udah buat di jatuh" sergah Cheryl lagi.
"Hentikan!" Bentak Axel menggelegar membuat tubuh mereka berjingkat kaget. Emosinya semakin tersulut mendengar ucapan mereka. Ternyata benar, mereka lah yang telah membuatnya terjatuh.
"Maafkan kami, Kami benar-benar tidak sengaja kak.. Tolong lepaskan kami" Cheryl kembali memohon.
"Tidak akan. Tangan di balas tangan dan nyawa dibalas nyawa. Kau sudah melukai wanitaku dan sudah membuat anakku meninggal. Jangan harap aku akan melepaskan mu sebelum kau merasakan apa yang Bella rasakan" kata Axel dengan seringai licik di bibirnya. Sorot matanya tampak sangat sinis.
"Bereskan mereka, aku sudah muak dengannya" ucap Axel seraya beranjak pergi meninggalkan ketiga orang yang telah melukai wanitanya.
Saat ia berjalan keluar dari ruangan gudang itu, ia masih bisa mendengar jeritan mereka yang begitu melengking. Tapi Axel tak perduli, hal itu pantas mereka dapatkan. Bahkan seharusnya lebih dari itu.
****
Saat Axel tiba di rumah, dilihatnya Bella yang tampak melamun di balkon kamar. Axel berjalan pelan hingga tak menimbulkan suara, Dan ia langsung merengkuh tubuh Bella dari Belakang.
"Axel, kau mengagetkanku saja" ucap Bella memberikan cubitan kecil ditangan Axel.
"Lihat apa?" tanya Axel menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bella. Menghirup wangi tubuh Bella yang menenangkan.
"Oh, aku melihat bintang. Kau lihat bintang yang paling bersinar itu?" Bella menunjuk salah satu bintang yang cahaya paling cerah.
"Ya?" Axel bisa melihatnya.
"Dulu pernah ada yang mengatakan padaku, kalau orang yang meninggal itu akan menjadi bintang. Apakah menurutmu itu Gwen?" kata Bella menerawang jauh.
"Mungkin. Dia pasti sedang bahagia melihat kita disini"
"Aku harap seperti itu. Kau darimana?" tanya Bella yang baru ingat kalau Axel sudah keluar cukup lama.
"Hanya mengurus pekerjaan. Ada apa?" Axel tentu harus berbohong pada Bella. Karena ia tak ingin wanita itu sampai tau apa yang sudah ia lakukan.
"Oh tidak. Aku tadi mencari mu...
"Apa kau merindukanku" potong Axel cepat seraya mengeratkan pelukannya.
"Mungkin kau yang merindukanku" cibir Bella tersenyum sedikit.
"Astaga Axel, kita bahkan hanya tidak bertemu beberapa jam" Bella sedikit tersenyum tipis karena tingkah Axel.
Axel menarik salah satu sudut bibirnya, merasa senang karena akhirnya Bella mau tersenyum meskipun sedikit. Belakangan ini Bella selalu murung karena memikirkan anak mereka. Hal itu tentu membuat Axel tak tega.
****
Keesokan harinya Axel mengajak Bella untuk jalan-jalan keluar untuk mencari suasana baru. Setelah kejadian itu, Bella resmi di keluarkan dari sekolah. Sebenarnya Bella bisa saja mengikuti ujian tanpa harus datang ke sekolah, tapi wanita itu menolak membuat Axel tak bisa berbuat apapun.
Hari itu Axel membawa Bella ke panti asuhan yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka. Bella sedikit bingung saat Axel mengajaknya ke sana. Tapi begitu melihat keceriaan anak-anak membuat Bella menyukainya.
"Tuan Axel, Selamat datang. Anda tidak memberitahukan akan datang kesini" ujar Ibu kepala panti yang kaget melihat kedatangan Axel yang tiba-tiba.
"Tidak apa-apa bu. Aku hanya kebetulan sedang ada waktu senggang" jawab Axel memaklumi.
"Oh ya Bu. Perkenalkan, ini Bella istriku" ujarnya yang melihat tatapan ingin tau dari ibu kepala panti.
"Oh, Anda sudah menikah?" Ibu kepala panti itu terlihat terkejut namun kemudian tersenyum saat melihat Bella. "Selamat ya untuk pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan" kata Ibu panti turut bahagia untuk mereka.
Setelah berbasa basi sebentar, Ibu panti pamit untuk memanggil anak-anak panti untuk bertemu dengan Axel. Memang sudah terbiasa Axel melakukan kegiatan amal untuk panti asuhan ini. Mata Bella berbinar saat melihat puluhan anak kecil yang berbeda usia juga ada yang seumuran.
"Ayo anak-anak, berikan salam untuk Tuan Axel. Dan ini Nona Bella istrinya Tuan Axel" perintah Ibu kepala panti dan langsung di iyakan oleh mereka.
Bella semakin sumringah tatkala memberikan hadiah-hadiah kecil yang sudah Axel siapkan tak sepengetahuan Bella. Apalagi melihat raut bahagia para anak kecil itu, Bella tertular akan kebahagiaan mereka. Bella baru tau jika suaminya ini memiliki hati yang begitu besar, Ia bahkan tak canggung membaur dengan para anak kecil itu.
Kagum, Ya dia sangat kagum dengan sifat Axel itu. Bella merasa cintanya semakin meluap-luap pada pria itu.
"Mau pulang sekarang?" tanya Axel mendatangi Bella yang sejak tadi menatapnya.
"Terserah, Aku sangat suka disini" jawab Bella tersenyum sedikit namun manis.
"Kita bisa kesini lagi. Ini sudah siang, Aku juga masih ada pekerjaan"
"Tapi aku boleh kesini lagi kan?" tanya Bella merasa senang jika berada disana. Sedikit mengobati rasa rindunya pada Gwenyth.
"Tentu saja boleh, Apa sih yang nggak boleh untuk istriku yang cantik ini" kata Axel mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Basi" sahut Bella salah tingkah. Entahlah, padahal ia dan Axel sudah bersama cukup lama. Tapi tetap saja merasa gugup jika berdekatan seperti ini.
Setelah berpamitan pada Ibu kepala panti mereka ingin langsung pulang. Tapi Bella mendadak ingin pipis.
"Axel, aku ingin ke toilet sebentar" ujarnya.
"Baiklah. Ayo aku antar"
"Tidak, Kau tunggu saja di mobil. Aku hanya sebentar" Bella langsung menolak ide itu mentah-mentah. Lagipula dia hanya ke toilet bukan ke luar negeri.
Saat ia berjalan ke toilet, ia tak sengaja mendengar seseorang berbicara dengan suara rendah. Dilihatnya beberapa pengurus panti yang sedang berkumpul di dapur. Bella tak memperdulikannya, namun ucapan mereka membuat Bella seketika terdiam.
"Katanya itu istrinya Tuan Axel..."
"Kenapa masih begitu muda?.."
"Mereka sangat tidak cocok..."
"Ya, lebih cantik Nona Naura dulu..."
"Betul, Tapi entah kemana Nona Naura, dia sudah lama sekali tidak kesini..."
Bella mengepalkan tangannya menahan rasa yang menyesakkan mendengar apa yang di ucapkan mereka. Apakah ia benar-benar tidak cocok dengan Axel? Dan siapa Naura?
Happy Reading
TBC