MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Satu Lawan Satu, Satu Malam



Axel menatap jalanan di sore hari yang di Sinari temaramnya senja. Bella tampak ketiduran disampingnya karena wanita itu sepertinya begitu lelah. Axel memposisikan kepala Bella di pundaknya agar wanita itu nyaman.


"Kita akan kemana Tuan?" tanya Bram yang sore itu sudah stand by untuk mengantar Axel pulang.


"Ke perumahan Green Hill" ucap Axel setelah terdiam sesaat.


"Baik Tuan" sahut Bram mengangguk patuh.


Perumahan Green Hill adalah salah satu komplek perumahan elit di kota Jakarta. Letaknya yang strategis membuat para pengusaha atau bahkan pejabat senang menempati kawasan itu. Selain itu, Perumahan Green Hill memiliki sistem keamanan yang tinggi. Axel rasa tempat itu cocok untuk Bella dan anaknya nanti.


Axel sudah membeli rumah di sana beberapa waktu lalu. Ia ingin menjadikan itu hadiah untuk ulang tahun Bella yang ke tujuh belas. Sayang sekali, waktu itu ia menuruti emosinya dan berujung pada kesalahan fatal yang di perbuat. Untunglah Bella masih bisa memaafkannya. Kalau tidak, ia pasti sudah gila karena wanita itu akan meninggalkannya.


"Axel, apakah sudah sampai" desis Bella merasa masih mengantuk sekali.


"Sebentar lagi, Tidurlah lagi" kata Axel mengelus lembut pipi Bella.


"Ini dimana?" Bella baru menyadari jika jalanan yang dilalui bukan ke rumah ibu mertuanya. "Apakah kita akan ke Apartemen?" Bella sepertinya masih trauma jika ke tempat itu lagi.


"Bukan, kau akan tau nanti" kata Axel langsung membuat Bella tenang.


"Kenapa harus nanti? Aku ingin tau sekarang" cetus Bella mengerutkan dahinya penasaran kemana tujuan mereka.


Axel hanya tersenyum dan tak menjawab. Bella mendengus kecil akan hal itu. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Mobil mereka baru saja memasuki kawasan Green Hill setelah Bram memberikan kartu pass code tanda ia penghuni perumahan ini. Bella semakin penasaran kemana mereka akan pergi.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka sampai dirumah yang tampak minimalis. Ukurannya tidak terlalu besar seperti rumah lainnya. Namun memiliki halaman yang cukup luas dengan taman kecil yang di penuhi bunga yang menyegarkan mata. Rumah itu terdiri dua lantai dengan balkon yang sangat luas. Bella bisa menebak kalau ia bisa menatap pemandangan kota dari atas sana.


"Ini rumah siapa?" tanya Bella pad Axel.


"Rumahmu. Ayo masuk" jawab Axel seraya merangkul pundak Bella dan menuntunnya memasuki rumah yang tampak begitu indah itu.


Bella hanya bisa tercengang melihat desain rumah itu dari dalam. Rumah itu memiliki ruang keluarga yang begitu luas dan nyaman. Disisi lain ada pintu besar menuju halaman belakang yang ada sebuah kolam renangnya. Bella lalu diarahkan ke ruangan atas yang hanya terisi oleh tiga ruangan. Yaitu kamar utama, ruang kerja Axel dan tempat gym. Untuk kamar anak, Axel meletakkannya dibawah agar lebih mudah untuk Bella nantinya setelah melahirkan tidak perlu naik turun tangga.


"Axel! Ini indah sekali" ucap Bella berdecak kagum saat bisa melihat pemandangan kota dari balkon kamarnya.


"Apa kau suka?" bisik Axel memeluk tubuh Bella dari belakang.


"Eh, iya aku suka. Pemandangannya sangat bagus" sahut Bella cepat merasa gugup saat Axel memeluknya dari belakang.


"Ya disini sangat indah kalau malam" kata Axel menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bella.


"Ehm, kapan kau membeli rumah ini?" tanya Bella mengigit bibirnya saat merasakan hembusan nafas Axel yang membuatnya meremang.


"Sebenarnya ini hadiah untuk ulang tahunmu. Tapi aku malah merusak segalanya karena emosi sesaat. Maafkan aku" kata Axel mengeratkan pelukannya pada Bella.


"Kau tau ulang tahunku?" Bella sedikit kaget dengan ucapan Axel. Ia mencoba melepaskan dirinya dari rengkuhan hangat yang Axel berikan.


Bella malah tersenyum saat melihat Axel begitu imut jika memasang wajah bersalah seperti itu.


"Kenapa terus meminta maaf untuk hal yang sudah berlalu. Bukankah kita hidup untuk terus berjalan. Kita tidak akan melangkah jika tetap berdiam di setiap kesalahan yang di perbuat. Seharusnya kita menjadikan masalah kita ini pelajaran untuk menjadi lebih baik kedepannya nanti" kata Bella tak ingin Axel terus merasa bersalah terus.


Axel tersenyum tipis mendengar ucapan Bella. "Terimakasih karena kau mau menerima diriku Bella. Jika begini bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu?" Axel kembali menggoda Bella.


"Apaan sih, bercanda terus. Aku serius" kata Bella lagi.


"Iya ya Nona galak. Kemarilah, aku ingin sekali memelukmu" kata Axel merentangkan kedua tangannya.


"Nggak mau!" Bella tertawa seraya berlari masuk kedalam kamar membuat Axel mendengus kecil.


"Mau main kucing-kucingan ternyata" ucap Axel menarik salah satu sudut bibirnya dan segera menyusul Bella.


Bella ingin lari keluar kamar, tapi sebelum sampai pintu tubuhnya sudah di rengkuh dari belakang. Bella sedikit kaget karena Axel dengan mudah menyusulnya.


"Aku mendapatkan mu kelinci kecil" bisik Axel dengan seringai tipis di bibirnya.


"Axel! Lepaskan aku" berontak Bella.


"Tidak akan. Mau coba melawan? Satu lawan satu, satu malam" bisik Axel langsung menggendong tubuh Bella ke ranjang.


Bella membesarkan matanya saat tubuhnya di gendong oleh Axel. Ia hanya bisa diam saat pria itu merebahkan dirinya dikasur. Keduanya saling tatap dengan perasaan yang tak terlukiskan. Bella langsung memejamkan matanya saat Axel menyentuhkan bibir mereka.


Ciuman lembut penuh perasaan yang menghanyutkan. Dengan lidah yang saling membelit diiringi deru nafas yang bersahutan. Axel sudah ingin membuka baju Bella, namun ia seketika sadar dan melepaskan ciumannya.


Bella benar-benar menikmati ciuman mereka, tapi ia kecewa saat Axel menghentikan ciumannya. Padahal dirinya sudah terpancing untuk melakukan hal lebih.


"Kenapa?" tanyanya dengan lembut.


"Tidak ada. Aku baru ingat kalau aku masih punya pekerjaan. Ini juga sudah cukup larut, sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu" kata Axel sedikit tersenyum canggung. Ia segera bangkit dari tubuh Bella dan berlalu begitu saja.


Bella menggigit bibirnya melihat punggung Axel yang menghilang dibalik pintu. Bella tak mengerti dengan. sikap pria itu. Tapi Bella tak ingin berprasangka buruk. Hubungan mereka baru saja membaik dan ia tak ingin memperkeruh keadaan dengan pikiran buruknya. Lagipula Axel mengatakan ingin menyelesaikan pekerjaan.


Bella meyakinkan hatinya untuk percaya pada Axel. Ia memilih membersihkan tubuhnya yang begitu lengket karena seharian beraktivitas diluar.


Lagi-lagi perasaan bersalah menghantui Axel membuatnya tak bisa menyentuh Bella. Axel merasa takut akan melukai wanita itu lagi. Jadi ia memutuskan untuk menghindar. Meskipun saat ini ia harus mati-matian menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.


"Itu lebih baik, dari pada ia menyakiti Bella lagi"


Happy Reading


TBC