MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Kelahiran Dramatis.



Nathan dan Dio saling berebut pistol itu, semua orang memekik saat mendengar tem ba kan. Karin bahkan sudah pingsan karena berpikir kalau suaminya sudah ter tem mbak. Perebutan pis tol itu terjadi cukup sengit hingga Nathan berhasil merebut pistolnya lalu menendang tulang kering Dio hingga pria itu kesakitan.


Nathan tersenyum sinis melihatnya dan kembali mengarahkan pis tol itu ke arah Dio yang kini hanya bisa menatapnya.


"Bersiaplah ke alam baka Dio!" teriak Nathan kemudian terdengar te mba kan yang sangat keras memekakkan telinga.


DOR!!!!!


Dio memejamkan matanya erat, sudah pasrah jika dirinya akan mati, tapi ia tak merasakan apapun mengenai tubuhnya. Dio langsung membuka matanya dan kaget saat melihat Nathan yang sama kagetnya dengannya karena ternyata ada peluru lain yang mengenai dada Nathan hingga tembus ke kaca di belakangnya.


Dio lalu melihat ke belakang dan melihat Angga berdiri disana dengan mengacungkan pistolnya.


Tubuh Nathan langsung terjun ke bawah, tapi sebelum itu terjadi, Dio segera mengambil anaknya dari tangan Nathan dan memeluknya erat mencoba menenangkan anaknya yang menangis, Dio merasakan kelegaan yang luar biasa saat melihat putrinya selamat. Dio lalu melihat ke bawah dimana tubuh Nathan yang tergeletak bersimbah darah.


"Dio, apa kau baik-baik saja?" kata Angga mendatangi Dio.


"Iya, aku baik-baik saja. Apa ini alasanmu kemari?" kata Dio menatap Angga.


"Ya, aku ingin memberitahu mu kalau Nathan kabur dari penjara, tapi saat melihat kondisi Karin aku tak bisa melakukannya karena takut dia akan kepikiran" kata Angga menjelaskan. Ia memang datang untuk mengatakan itu sebenarnya, tapi ternyata ia kalah langkah dengan Nathan.


"Bagaimana dia bisa kabur dari penjara?" tanya Dio.


"Aku tidak tau, sepertinya ada orang dalam" kata Angga lagi.


"Baiklah, terima kasih sudah menolongku, Aku berhutang budi padamu" kata Dio menepuk pundak Angga.


"Ya, tenang saja. Aku sudah memerintahkan anak buah kita untuk menjaga disini" kata Angga.


"Aku tidak apa-apa, Bagaimana dengan Karin?" kata Dio ingat tentang istrinya.


"Karin pingsan, mungkin sedang ditangani. Aku harus pergi sekarang untuk mengurus Nathan" kata Angga membuat Dio menatap pria itu.


Sesaat kemudian ia tersenyum dan mengangguk tipis. Selama ini Dio memang sudah meminta Angga untuk berlatih me ne mbak dan bela diri untuk keamanan mereka. Selain itu, Dio juga sudah mempunyai anak buah yang banyak untuk menjaga keluarganya, tapi ternyata Nathan masih bisa lolos.


Dio tak lagi memikirkan masalah itu, ia segera mengajak putri kecilnya untuk menemui Karin, ia tak menyangka jika kelahiran putrinya akan mengalami hal dramatis seperti ini.


Di dalam ruangan, Karin terlihat baru sadar dari pingsannya. Ia menatap sekelilingnya yang masih berada dirumah sakit.


"Dio!!!" teriak Karin ingat kejadian yang sebelumnya terjadi, dimana ia melihat suaminya akan di tembak oleh Nathan.


"Sssssttttt...." Mendengar suara orang lain yang sangat familiar itu membuat Karin menoleh dan kaget saat melihat Dio datang dengan menggendong bayi mereka. Apakah sekarang ia mimpi? Kenapa Dio berada disini?


"Jangan berisik, Jingga baru saja tidur" kata Dio mendekati istrinya yang sedang terduduk kaget itu.


"Apa kita semua sudah mati?" tanya Karin membuat Dio mengerutkan dahinya.


"Siapa yang mati? kita semua masih hidup Karin, aku sudah berjanji saat Jingga lahir aku akan selalu melindunginya, kita sudah aman sekarang" kata Dio tersenyum tipis.


"Benarkah?" kata Karin masih tak percaya.


"Iya, sudah jangan menangis lagi, kau tidak boleh stress agar bisa memberikan ASI untuk Jingga" kata Dio menyerahkan bayinya kedalam pelukan Karin yang terharu itu, ia bahagia sekali bisa memeluk anaknya kembali seperti ini.


******


Angga dan Tiara terlihat baru saja keluar dari rumah sakit untuk melihat anak Dio dan Karin, Mereka berencana akan langsung pulang karena tugas Angga disana sudah selesai.


"Anaknya Karin lucu banget ya, gemes" kata Tiara tampak sangat gemas jika mengingat Jingga.


"Iya, apa semua barangmu sudah siap? kita akan langsung pulang setelah ini" kata Angga.


"Sudah, tapi ini masih pagi, pesawatnya masih jam 11 kan, kau tidak ingin mengajakku jalan-jalan?" kata Tiara melirik Angga yang sudah siap dengan kemudinya.


"Boleh, ingin jalan kemana?" kata Angga menurut saja.


"Kemana? Disini hanya ada lautan" kata Angga.


"Kita ke pantai saja kalau begitu, Aku kemarin melihat saat kita melewatinya, sepertinya pantai itu bagus" kata Tiara semangat.


Angga mengangguk setuju, ia menjalankan kemudi mobilnya untuk menuju pantai yang di inginkan Tiara, tak ada obrolan antara keduanya hingga mereka sampai di tempat tujuan.


"Wah, Tempatnya indah sekali. Gaga, aku ingin bermain air" kata Tiara tampak takjub melihat keindahan lautan.


"Jangan, nanti bajumu basah" kata Angga tak mengizinkan.


"Tidak apa-apa, nanti kita bisa ganti baju, Ayo" kata Tiara menarik tangan Angga dan mengajaknya lari ke tepian panti yang ada ombaknya.


"Tiara!" Kata Angga kaget dan menahan tangannya agar Tiara tak menariknya.


"Gaga!" kata Tiara mengerucutkan bibirnya, memasang wajahnya yang menggemaskan pada Angga yang harus menghela nafas karena tak kuat jika pacarnya memasang wajah seperti ini.


"Baiklah, Kau boleh bermain air, tapi...." Angga tersenyum jahil lalu tiba-tiba menggendong Tiara dan membawanya lari ke tepian lautan yang sedang di gulung ombak.


"Gaga! Kau mau apa...Aaaaa....turunkan aku" teriak Tiara berpegangan erat pada leher Angga karena takut akan di jatuhkan.


"Kau bilang ingin main air, Ayo sekarang saatnya" kata Angga melepaskan gendongannya saat mereka berada di air yang cukup menengah.


"Aaaaa....Aku tidak mau!!!" Tiara berteriak dan terus berpegangan pada leher Angga agar tak di jatuhkan.


"Ayo lepaskan, ini pasti akan sangat seru" kata Angga terus ingin menjatuhkan Tiara tapi karena pegangan Tiara kuat, ia cukup kesusahan hingga tiba-tiba ada ombak yang menggulung tubuh mereka berdua hingga tubuh keduanya basah.


Tiara tertawa puas melihat Angga yang basah kuyup itu. "Rasakan! Makanya jangan rese jadi orang" kata Tiara mengejek.


"Berani ya, Aku akan menjatuhkan mu lagi" kata Angga bersiap ingin menggendong Tiara lagi tapi ia kalah cepat karena Tiara sudah berlari menjauh.


"Hahaha, tidak semudah itu Gaga, ayo kejar aku" kata Tiara tertawa seraya berlari menjauh.


Angga tersenyum dan ikut berlari mengejar Tiara yang sudah menjauh, dengan kakinya yang panjang Angga dengan mudah mendapatkan Tiara dan langsung memeluknya dari belakang.


"Aku mendapatkan mu" bisik Angga di telinga Tiara.


"Hahaha, Kau curang, kenapa dengan mudah mendapatkan ku" kata Tiara tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya hingga bisa melihat wajah Angga yang kini sangat dekat dengannya.


"Tiara" kata Angga memandang mata Tiara dalam-dalam.


"Hmmm" sahut Tiara juga ikut memandang mata cokelat Angga yang memantulkan wajah dirinya.


"Menikahlah denganku" kata Angga dengan serius. Namun hatinya berdebar tak karuan karena akan menyatakan perasaannya pada Tiara.


"Ha?" Tiara kaget mendengarnya, ia lalu melepaskan pelukan Angga dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Angga.


"Tiara, aku mungkin bukan pria romantis yang seperti di novel, aku juga tidak bisa menjanjikan apapun pada mu, tapi mulai hari ini dan seterusnya, izinkan aku selalu ada disisimu dan mengisi hari-harimu bersamaku, Tiara, Will you merry me?" kata Angga tiba-tiba berlutut di depan Tiara dan mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil dari dalam saku jasnya.


Tiara menutup mulutnya tak percaya Angga melamarnya, matanya bahkan sudah berkaca-kaca, Angga ini, kenapa bisa seperti ini.


"Will you marry me?" Angga mengulangi perkataannya karena Tiara masih diam.


Tiara mengangguk dan tersenyum namun juga menangis, ia mengulurkan tangannya agar Angga memakaikan cincin itu. "Tidak masalah, aku rasa hidup denganmu juga tidak buruk" kata Tiara membuat Angga tersenyum karena jawaban dari Tiara.


Angga lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Tiara dan mencium kedua tangannya. Setelah itu ia bangkit dari berlutut nya lalu memeluk tubuh Tiara erat, sangat erat seolah tak ingin terlepaskan.


Happy Reading.


Tbc.