MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Pertengkaran Saudara.



"Maafin aku....Maafin aku" kata Dio terus memeluk tubuh Karin dengan erat.


Karin tak menjawab, tapi dari sudut matanya ia bisa melihat kalau kamar mereka banyak sekali orang. Angga terlihat bernafas lega dan beberapa petugas vila, tiga orang yang berperawakan kekar tadi tampak sudah di ringkus dengan wajah babak belur.


Lalu ada Papa Abimanyu yang terlihat sekali menahan amarahnya itu. Dan yang terakhir adalah.... Elvan? Astaga! Elvan?


Pria itu tak kalah babak belurnya dari ketiga pria yang berperawakan kekar itu, bahkan lebih parah, namun pria itu masih sandar dan Karin melihat pria itu melemparkan senyum smirk nya membuat Karin menenggelamkan wajahnya di dada Dio.


"Dio! Papa mau..


"Enggak! Kalian semua pergi dari sini, Angga! Usir mereka semua" kata Dio langsung mengangkat tangannya sebelum Papa Abimanyu menyelesaikan ucapannya.


"Kamu dengar dulu...


"Aku nggak mau tau! Pergi dari sini!" bentak Dio sangat keras namun ia masih menahannya karena ingat Karin masih dalam pelukannya.


Papa Abimanyu menghela nafas sejenak, ia kemudian mengangguk dan menyuruh pegawai vila untuk membawa semua orang pergi dari sini.


Tanpa banyak berkata, Dio langsung menggendongnya dan meletakkannya di ranjang dengan posisi setengah berbaring. Dio meluruskan kakinya dan membantu mengingat tali piyama yang hampir terlepas. Ia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kamu tenang ya, mereka udah pergi, aku ambilin minum dulu" kata Dio mencium pipinya sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum.


Tak sampai lima menit Dio sudah kembali, ia membantu Karin untuk minum sampai air itu habis.


"Makasih" bisik Karin lirih.


"Aku bener-bener minta maaf...maafin aku" kata Dio meraih tangan Karin dan menciuminya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana takutnya Karin tadi.


"Kamu beneran nggak apa-apa ?" tanya Dio mengecek seluruh tubuhnya, apakah ada luka atau tidak. "Mereka nggak ada nyakitin kamu kan?"


Mendengar itu Karin teringat saat detik-detik pria yang dikira Dio memeluknya dari belakang, lalu menggerayangi tubuhnya. Karin kembali terisak jika mengingatnya.


"Brengsek!" maki Dio seraya menariknya lagi dalam pelukan. Ia tampak menahan emosi karena sikap Elvan yang berani kurang ajar pada istrinya.


"Aku takut..." kata Karin membalas pelukan itu.


"It's okey...I'm with you" bisik Dio mencoba menenangkan istrinya.


"Kamu makan ya? Pasti belum makan dari tadi?" kata Dio ingin mengalihkan perhatian Karin.


"Enggak laper" kata Karin menggeleng.


"Harus makan, aku suapi sedikit, mau ya" bujuk Dio lagi.


"Enggak, Aku takut muntah" kata Karin benar-benar tak berselera.


"Atau kamu ma...." Dio menghentikan ucapannya ketika mendengar pintu di ketuk.


"Sebentar" kata Dio sebelum beranjak untuk membuka pintu.


Karin tidak tau siapa yang datang menemui suaminya, tapi ia mendengar kalau suaminya itu berteriak dan memaki dengan suara keras. Tak lama terdengar pintu yang di tutup disusul Dio yang kembali kedalam kamar.


"Maafin aku, Sekalinya datang ke kampung halaman aku, kamu malah dapet sambutan kayak gini" kata Dio meraih kembali tubuh Karin dalam rengkuhannya.


"Mereka tadi siapa? Mau apa?" tanya Karin hati-hati. Ia tak mengerti kenapa Elvan datang kesana dengan membawa tiga orang preman.


"Aku takut, Apa mereka akan menyerang kita lagi?" kata Karin menatap mata Dio yang bergerak-gerak menampilkan pantulan wajahnya.


Dio menghela nafas sejenak, ia kemudian mencium matanya perlahan lalu hidungnya, bibir hingga ke dagunya.


"Aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu" kata Dio sebelum menyesap bibirnya perlahan. Sekejap namun terasa kurang.


"Kamu tidur sekarang, Nggak usah mikirin apapun lagi" kata Dio segera mengehentikan dirinya sebelum ia akan hilang kendali untuk menyentuh istrinya.


Karin terdiam menatap suaminya yang terlihat sekali menahan dirinya itu. Ia kemudian menyentuh pipi Dio agar menatapnya.


"I want you...." bisik Karin mendekatkan dirinya.


Dio tersenyum sedikit, ia kemudian menyentuhkan dirinya kembali dan membawa Karin ke puncak nirwana dunia.


******


Keesokan harinya, Dio dan Karin tampak sudah bersiap rapi. Seharunya mereka akan pulang, tapi tidak jadi karena pagi itu mereka sedang kedatangan tamu. Wajah Dio tampak mengeras melihat siapa yang datang.


"Aku nggak mau! Papa gila apa bawa dia kesini" Kata Dio sangat marah saat Papa Abimanyu datang bersama Elvan.


"Nggak usah ngelawan kamu! Papa mau menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Panggil Karin kesini" kata Abimanyu tegas tak terbantahkan.


Dengan berat hati, Dio akhirnya memanggil Karin untuk berkumpul di ruang tengah vila. Ia tau istrinya itu ketakutan membuat Dio terus menggenggam tangan Karin.


"Nggak apa-apa, aku ada disini" bisik Dio mencoba menenangkan Karin.


"Papa nggak mau kejadian ini terulang kembali. Membuat malu keluarga saja. Elvan! Cepat minta maaf kepada adikmu" kata Abimanyu memulai pembicaraan.


"Cih, tidak sudi" Elvan malah berdecih dan jelas cari mati.


"Elvan!" Papa Abimanyu mengeram marah. "Cepat minta maaf" ucapnya lagi menatap Elvan dengan tajam.


"Enggak! Papa tau kah? Hal seperti ini sudah biasa di kehidupan kita" kata Elvan langsung membuat Dio tersulut.


"Brengsek! Biasa disini bukan berarti kau bisa melakukannya pada istriku" Dio berteriak keras seraya menarik Elvan dan langsung menghantam wajahnya dengan keras.


"Hah? Bukannya dia sama aja kayak wanita lainnya? Bisa di pakai?" meskipun sudah terkena hantaman ternyata Elvan masih punya nyali untuk menghina Karin membuat Dio kembali memukuli pria itu dengan membabi buta.


"Abang? Udah" kata Karin mencoba mencegah suaminya agar tak menghajar Elvan yang sudah babak belur.


"Sekali lagi kau berani mendekati istriku! Aku pasti akan menghabisi mu" kata Dio menghempaskan tubuh Elvan dengan kasar.


Abimanyu menghela nafas melihat kedua anaknya yang tidak bisa akur sama sekali itu. "Elvan, Papa memberimu satu kesempatan. Cepat minta maaf pada Dio" kata Abimanyu melirik Elvan lagi.


"Kenapa Papa selalu tidak adil kalau menyangkut dia? Kenapa semuanya harus berpusat pada dia? Aku juga anak Papa! Kenapa setiap keputusan besar selalu menguntungkan dia!" tuding Elvan menunjuk Dio yang mengetatkan wajahnya itu.


"Oh" Dio tersenyum sinis. "Jadi ini masalahnya? Ambil semua! Aku nggak butuh, Aku juga masih bisa hidup tanpa harta dari Papa! Tapi satu! Jangan pernah menggangu kehidupanku dan keluargaku, terutama istriku" kata Dio menatap Elvan dengan tajam mengerikan. Karin tak pernah melihat suaminya berwajah seperti itu selama mereka menikah.


"Papa puas sekarang? Sudah berapa kali aku bilang, Aku tak membutuhkan ini semua. Ini akibat dari perbuatan kotor Papa! Puas Papa sekarang!!" kini Dio beralih menatap Abimanyu yang hanya diam saja. Tapi sedetik kemudian, Ia sudah bangkit dan menampar pipi Dio berkali-kali dengan sangat keras membuat Karin kaget bukan kepalang.


Happy Reading.


Tbc.