
Didalam mobil Axel tak henti-hentinya mencoba membangunkan Bella. Tampak sekali wajah cemasnya. Axel menyentuh tangan Bella yang terasa begitu dingin.
"Jo, apa Lo nggak bisa lebih cepat!" sentaknya dengan nada tak sabarnya. Kenapa lama sekali pikirnya.
"Ini gue masih cari klinik terdekat!" Jofan pun tampak sedikit kesal dengan sikap Axel. Karena dia sendiri masih belum begitu hafal tempat ini. Jadi Jofan memilih google maps untuk mencarinya.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk mereka sampai di sebuah klinik kecil. Bukan rumah sakit, karena jaraknya masih cukup jauh. Axel langsung tak membuang waktunya, dia kembali menggendong Bella untuk turun, meskipun sedikit kesusahan akhirnya Axel berhasil membawa Bella ke dalam.
"Kenapa ini?" ternyata ada satu perawat yang standby disana. Meskipun klinik itu kecil, tapi ternyata fasilitas sudah cukup mumpuni.
"Dia pingsan, belum makan apapun sejak pagi" jelas Axel seraya menjelaskan seraya membaringkan Bella di ranjang.
"Baik, Saya akan memanggilkan Bu Bidan dulu, Tuan silahkan tunggu di luar" ucap perawat itu segera di angguki oleh Axel.
Axel menunggu dengan cemas di luar, Tapi dia memilih diam saja supaya tak mengundang kecurigaan Jofan yang kini sedang memandanginya. Jofan sendiri tak ingin berbicara apapun melihat wajah diam Axel. Dia sudah hafal dengan sifat sahabatnya itu.
"Gue mau jemput yang lain dulu, Lo disini sendiri gimana?" tanya Jofan yang teringat Diana dan adiknya masih di restoran tadi.
"Ya," jawabnya singkat saja. Malah dia merasa tenang jika sendiri.
Jofan berlalu pergi setelah mendapat persetujuan dari Axel. Tak selang beberapa menit, Bidan yang tadi memeriksa Bella keluar. Axel langsung bangkit begitu melihatnya.
"Bagaimana Bu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Axel langsung.
"Tidak apa, Sepertinya pacar anda kecapekan dan menyebabkan magh lambungnya kumat, Saat ini saya sudah memberikannya infus untuk menambah nutrisinya, Mengingat Hb pasien sangat rendah. Jadi tunggu disini dulu ya, Nanti kalau infusnya habis bisa langsung pulang" Jelas Bu Bidan membuat Axel lega.
Tapi dia sedikit mengernyit saat Bu bidan itu menyembut Bella pacarnya. Bagaimana jika Bella mendengarnya? Axel bisa menebak wajahnya pasti akan terlihat kesal. Membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum. Wajah kesal itu? kenapa dia begitu menyukainya?.
"Terimakasih Bu, apakah saya boleh melihatnya?"
"Oh ya silahkan, Nanti kalau sudah sadar coba di kasih makan sedikit, Supaya perutnya tidak kosong" jelas Bu bidan lagi di angguki oleh Axel.
Begitu Axel masuk dia langsung melihat Bella yang tampak masih memejamkan matanya. Di tangannya yang kurus tampak tertancap jarum infus. Axel mendekatinya, dia menatap dalam wajah Bella yang begitu cantik meskipun dalam ke adaan pucat seperti ini. Tangan Axel secara tak sadar menyentuh wajah itu, dia merapikan anak anak rambut Bella yang tampak menutupi dahinya.
"Maafkan aku Bella" ucapnya begitu tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
Dalam tidurnya, Bella merasa ada tangan halus yang menyentuh wajahnya. Mengusapnya lembut dengan penuh perasaan. Bella bisa merasakannya, tapi matanya enggan sekali untuk terbuka. Bella sempat mendengar orang itu meminta maaf, memangnya apa salahnya? Kenapa dia harus minta maaf padanya. Entah kakuatan darimana, Bella akhirnya bisa membuka matanya. Cahaya lampu langsung tampak menyilaukannya.
"Bella! Kau sudah sadar" Axel begitu lega melihat Bella yang sudah membuka matanya.
"Ini dimana?" Tanyanya dengan suara serak, kepalanya masih begitu pusing, saat dia mencoba menyentuh kepalanya. Tanpa sadar dia menggunakan tangannya yang terinfus.
"Awh... Sakit" Bella mengaduh kesakitan merasa tangannya begitu sakit.
"Astaga! Sebaiknya kau diam dulu" Axel langsung melihat tangan Bella yang tampak mengeluarkan darah.
Bella yang tadinya merasa kesakitan kini mencoba membuka matanya dengan jelas. Dia langsung kaget bukan kepalang saat melihat wajah Axel yang begitu paniknya.
"Ngapain Lo disini" meskipun dalam keadaan lemah, Bella masih bisa menarik tangannya yang sejAk tadi di pegang Axel.
"Tangan kamu berdarah!" kata Axel cukup kaget melihat sikap Bella.
"Nggak usah sok perduli! Ini urusan gue" Bella melirik sinis pada Axel. Dia sedikit meringis karena merasa nyeri di pergelangan tangannya.
"Tentu ini menjadi urusanku! Karena aku yang membawamu kesini" kata Axel dengan tegas. Dia cukup kesal dengan tingkah Bella yang kekanakan menurutnya. Apa dia tak tau bagaimana cemasnya Axel saat ini?
"Itu masalah Lo! Gue nggak minta Lo untuk ngebawa gue kesini" balas Bella dengan tingkah menyebalkannya. "Ini kemana lagi dokternya! Dokter... Dokter" Bella langsung berteriak.
"Dasar keras kepala!" cetus Axel merasa tak habis pikir dengan Bella. Disaat situasinya seperti ini pun, dia tak mau Axel menyentuhnya. Apa dia begitu membencinya?
"Iya dia baru saja sadar bu, dan tangannya berdarah, mungkin infusnya bergeser" jelas Axel tak perduli lirikan tajam Bella.
"Coba saya lihat, oh iya ini, sepertinya Nona terlalu banyak bergerak, Sebentar saya akan melepaskannya dulu" kata Bu bidan langsung mengerjakan tugasnya.
"Akh! sakit... pelan pelan dong" teriak Bella yang memang tak bisa menahan sakitnya. Matanya langsung berkaca-kaca ingin menangis. Tapi Bella menahannya, karena gengsi dia jika sampai menangis di lihat pria itu.
"Maaf Nona, ini hanya sebentar" Bu bidan itu sedikit kaget dengan reaksi Bella.
"Aku tidak mau di infus, lepas saja Bu ini, sakit" Bella merengek seperti anak kecil. Axel Manarik sudut bibirnya melihat tingkah lucu Bella.
"Dasar anak kecil, begitu saja menangis!" ejek Axel langsung mendapat pelototan oleh Bella.
"Memang Lo pikir nggak sakit! Dan gue nggak nangis" ucap Bella geram Axel mengejeknya.
"Tapi Nona, Infusnya belum habis, Ini membantu menambah nutrisi anda" jelas Bu bidan lagi.
"Aku udah nggak apa-apa, lepas aja" ucap Bella cepat, dia benar-benar tak tahan sakitnya.
"Lepaskan saja bu, daripada nanti dia nangis disini" ucap Axel suka sekali mengejek Bella. Dia juga melihat wajah Bella yang sudah tak seprucat tadi. Mungkin keadaannya sudah lebih baik.
"Gue nggak nangis!" bantah Bella menatap sebal pada Axel. Pria itu kenapa begitu menyebalkan?.
"Baiklah, setelah ini saya akan meresepkan obat untuk Nona. Dan untuk kedepannya mohon pola makannya lebih teratur ya" kata Bu bidan menuruti permintaan pasiennya.
Setelah melepas selang infus ditangan Bella, Bu bidan itu berpamitan pergi. Kini tinggal Bella dan Axel yang sedari tadi beradu pandang. Bella menatap Axel dengan sengit. Axel hanya diam saja saat melihat tingkah Bella seperti itu. Dia malah duduk dengan santainya disamping Bella membuat wanita itu melotototinya.
"Kenapa Lo masih ada disini?"
"Menunggumu"
"Gue nggak butuh"
"Aku tidak bertanya"
"Eh Lo, bener-bener ya! Ke laut aja sana Lo!" Bella semakin geram mendengar jawab Axel.
Terdengar suara ribut diluar ruangan membuat Bella dan Axel mengakhiri sikap kucing dan tikusnya. Tak lama pintu di ketuk dari luar membuat Axel berbidiri untuk membukanya. Ternyata Tiara dan yang lainnya yang datang. Namun kali ini bersama Mama Anita. Gimana bisa mamanya ada disini?
"Mama!" Bella kaget dong dengan hal ini. Dia mencoba bangkit dari tidurnya.
"Bella, Gimana keadaan kamu? Kamu nggak apa-apa kan" Mama Anita langsung memeluk putrinya.
"Bella nggak apa-apa Ma, Mama kok tau Bella ada disini?"
"Gue tadi yang ngabarain nyokap Lo" sahut Karin ikut mendekati Bella. Sedangkan Jofan, Diana dan Bianca lebih memilih menunggu di luar.
Bella sempat melirik kesal pada Karin, kenapa harus mengabari orang tua nya. "Iya, tadi Karin yang nelfon Mama, dia bilang kamu pingsan, Gimana keadaan kamu sayang? Mana yang sakit?" tanya Mama Anita menatap putri kesayangannya.
"Bella cuma kecapekan Ma, mungkin karena telat makan juga, Makannya magh Bella kambuh" Bella menjelaskannya seraya berpikir hal yang membuatnya muntah begitu hebat. Apa hanya karena melihat Axel dan Bianca saling bersentuhan? Rasanya tak mungkin. Tapi jika dia mengingatnya, perutnya kembali mual. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.
****
Happy Reading...
TBC..