
Axel menemui Indra sesaat setelah Bella tidur. Ia tentu tak akan melepaskan Rafael begitu saja. Kalau saja bisa, Axel ingin sekali membunuhnya.
"Dia sudah sadar, Tapi lukanya cukup parah. Sekarang masih membutuhkan perawatan sebenarnya" Indra memberitahu keadaan Rafael.
"Mau dia matipun aku tidak akan perduli" sahut Axel menggeram marah.
"Ya, Tapi kau tidak boleh ceroboh. Dia punya kuasa. Ayahnya pasti tak akan tinggal diam dengan hal ini" kata Indra memperingatkan setelah ia mencari tahu tentang Rafael.
"Kau pikir aku takut! Sekarang dimana dia!" Sentak Axel begitu emosi jika mengingat yang pria itu lakukan pada istrinya.
"Ada di penjara kota, Tapi mungkin itu juga hanya sementara karena saat ini sudah ada pengacara yang menemaninya" sahut Indra memijat hidungnya yang pegal karena ia baru saja sampai tapi langsung mendapatkan kejutan seperti ini.
"Biarkan saja, Aku yang akan menghukum nya dengan caraku sendiri" kata Axel begitu tegas seolah janji yang harus dituntaskan. Jika hukum di negara ini tak bisa membalas apa yang dilakukan Rafael, Maka ia pun akan memberikan hukuman sendiri yang lebih setimpal pada ba ji ngan itu.
Helikopter yang di kirimkan Bram datang tepat tengah malam. Untunglah malam itu cuaca sangat bersahabat. Dengan cahaya bulan yang terang dan angin malam yang sejuk. Axel membiarkan Bella tidur karena ia tau istrinya pasti trauma dengan kejadian ini.
Udara malam itu begitu dingin membuat Axel membalutkan selimut tebal menutupi kaki hingga dagu Bella. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya saat semuanya sudah beres. Sepertinya Bella sangat peka, Ia langsung kaget saat Axel menyentuhnya.
"By!.. kita mau kemana?" Bella bertanya bingung, matanya masih memancarkan ketakutan.
"Kita akan pulang, Tidurlah lagi" bisik Axel mencium kedua mata Bella.
Bella ingin berbicara tapi mulutnya terkunci. Ia hanya menatap wajah Axel yang kini tengah menggendongnya. Tapi matanya ternyata tak bisa menahan rasa kantuk bercampur lelah, Ia meringkuk di gendongan suaminya.
Axel membiarkan para pengawalnya untuk membantu naik ke Helikopter, Ia sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya pada Bella barang sedikitpun.
*****
Bella terbangun saat merasa hawa dingin menerpa. Ia menatap sekelilingnya yang terasa sangat familiar. Ia lalu merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, Bella seketika kaget dan mendorong tubuhnya menjauh karena ia merasa sangat takut mengingat kejadian yang baru di alaminya.
Axel merasa baru saja tertidur tapi ia seketika bangun saat Bella mendorong tubuhnya menjauh.
"Bella, Kau sudah bangun?" tanyanya dengan lembut.
"By...." ucap Bella menajamkan pengelitannya.
"Iya sayang, Ini aku. Jangan takut" kata Axel mendekati Bella tapi istrinya itu malah menjauh.
"Jangan...." Bella menolak karena mengingat saat Rafael memaksanya, Ia ingat semuanya tanpa kecuali. Bella sangat trauma akan hal itu, Ia segera berdiri dan menjauh dari Axel.
Axel yang melihat itu pun mengerti apa yang dirasakan Bella. Ia mengulurkan tangannya dan tersenyum lembut, Ia ingin Bella nyaman dan mendekatinya sendiri. Bella masih ragu, Tapi ini bukanlah Rafael tapi Axel suaminya sendiri.
Perlahan Bella menyambut uluran tangan itu, Dengan lembut Axel membimbing Bella agar duduk di tempat tidur.
"Jangan takut lagi, Dia sudah tidak ada sayang. Kita sudah ada di Jakarta, Dia tak akan mengganggumu lagi" kata Axel menyibak lembut rambut Bella menatap pundak istrinya yang masih merah.
"Aku takut sekali By" ujar Bella menatap Suaminya dengan mata berkaca.
"Jangan pikirkan apapun lagi, Ini semua salahku karena tak bisa melindungi mu, Seharusnya aku tidak pergi meninggalkan aku, Maafkan aku" kata Axel dengan suara tercekat karena merasa gagal menjaga istrinya. Ia tidak menepati janjinya untuk selalu menjaga Bella.
"Kenapa kau minta maaf By? Kau sama sekali tidak bersalah" kata Bella mengusap sudut mata suaminya yang basah. Entahlah, Axel merasa sangat sensitif sekali.
"Ya, Tidurlah lagi, hari masih sangat pagi" kata Axel mengusap lembut pipi istrinya.
Axel tersenyum sedikit, Ia mengangguk dan membatu Bella untuk berbaring. "Selamat tidur istriku" bisik Axel lagi.
"Apa kau tidak ingin menciumku By?" ujar Bella merasa aneh saat Axel tidak menyentuhnya. Ia berpikir apakah Axel jijik padanya setelah ia disentuh ba ji ngan itu. Meskipun Rafael belum benar-benar melakukan hal itu tapi Bella merasa...
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Axel mengerutkan dahinya.
"Apa kau jijik padaku setelah ..
Bella tak melanjutkan ucapaanya karena Axel sudah lebih dulu menciumnya bibirnya dengan lembut namun juga sedikit ganas. Bella memejamkan matanya, Ia membalas ciuman itu tak kalah panasnya. Axel sudah menirukan ciumannya ke leher jenjang Bella yang putih.
Bella mendes*h pelan tapi Axel masih bisa mendengarnya. Ciuman mereka kian menggebu membuat Axel tak lagi menahannya, Ia segera melakukan penyatuan dengan sangat lembut karena ingin membuat Istrinya senyaman mungkin.
"By...." desah Bella mencakar punggung suaminya saat tubuhnya dibuat melayang sampai tak menjejak bumi.
Dihari menjelang pagi itu, Axel mengganti segala pengalaman buruk yang istrinya dengan cara yang lembut dan penuh perasaan cinta yang menggebu. Tapi saat ia terbangun dari tidurnya, Ia kembali muntah-muntah hebat.
Bella yang pagi itu sudah lumayan baik, Segera ingin membuat susu jahe hangat untuk suaminya.
"Coba minum ini dulu By" kata Bella membatu Axel untuk duduk dan meminum susu jahe.
Axel menurut dan meminum sedikit susu yang di buatkan Bella. Hal itu sedikit mengurangi rasa mual di perutnya.
"Terima kasih sayang" ucapnya mencoba tersenyum.
"Iya. Aku akan membuat sarapan untukmu By. Ingin makan apa?" tanya Bella.
"Tidak perlu, Bersiaplah saja. Aku akan mengajakmu ke rumah Mama" kata Axel.
"Sekarang By? Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku tidak apa-apa, Nanti siang biasanya mual dan muntahnya sudah berkurang. Jangan khawatirkan aku" kata Axel tersenyum lembut pada Bella.
"Baiklah" kata Bella menurut. Ia bergegas mandi dan bersiap untuk ke rumah Mamanya.
****
Kedatangan mereka disambut antusias oleh kedua orang tua Bella. Mereka bertingkah biasa saja seolah tidak terjadi apapun pada Bella. Mama Anita mengajak Bella mengobrol banyak hal agar putrinya tak larut dalam kesedihan.
"Suami kamu ini persis kayak Papa, Dulu waktu Mama kamu hamil, Papa juga ngidam muntah-muntah gini" kata Papa Nugraha saat mendengar cerita Bella tentang apa yang dialami Axel.
"Serius Pa?" tanya Bella.
"Iya, Tanya aja Mama kamu. Katanya kalau suami ikut ngidam saat istrinya hamil itu artinya cinta suaminya lebih besar, Ya kan Ma?" Papa Nugraha mengerlingkan matanya pada istrinya membuat Axel dan Bella tersenyum.
Mama Anita hanya mencibir perkataan suaminya, Sekarang Axel tau darimana asal sifat Bella yang suka mencibir, ternyata hadiah dari sang Mama. Axel menatap Bella yang kini mengembangkan senyum tipis, Ia merasa lega karena istrinya sudah bisa kembali tersenyum.
Happy Reading.
Tbc.