
Mungkin banyak orang yang mengatakan dia bodoh karena membiarkan suaminya berselingkuh padahal dia sudah punya buktinya. Lalu apa alasannya bertahan? Apakah cinta?. Bella merasa hal itu sangat klise, karena sebenarnya dia masih menyimpan harapan yang besar suaminya.
Tapi apa yang diharapkan Bella tak pernah terjadi, Axel tak pernah bercerita dan ia pun tak ingin bertanya. Mereka sangat jarang berbicara dan jarang bertemu karena Axel begitu sibuk. Axel akan berangkat ke kantor sebelum Bella bangun dan pulang saat Bella sudah tidur. Hubungan mereka terasa sangat canggung dan asing.
Bella menatap makanan di depannya dengan suram, Malam itu suasana rumah sangat sepi dan sunyi. Sudah beberapa hari ini ia selalu makan sendiri. Bella merasakan ponselnya bergetar, Nomor suaminya yang tertera disana, Bella langsung mengangkatnya.
"Halo?" sahut Bella.
"Halo Bella, Apa kamu sudah makan?" Tanya Axel di seberang sana.
"Sedang makan" kata Bella singkat.
"Baiklah, Aku hanya ingin mengatakan kalau malam ini mungkin aku pulang terlambat lagi. Ada meeting darurat"
"Benarkah?" tanya Bella entah mengapa merasa ragu dengan perkataan suaminya.
"Iya, Aku akan tutup teleponnya. Jangan tidur terlalu larut. Aku mencintaimu"
"Aku juga" kata Bella langsung memutuskan panggilannya membuat Axel terheran, kenapa Bella tak membalas pernyataan cintanya.
Entahlah, hati Bella sudah terlalu sakit. Ia selalu menerka-nerka apakah suaminya itu benar-benar bekerja atau bertemu wanita itu. Apakah dia datang saja untuk melihat suaminya?
*****
Axel masih terdiam menatap ponselnya yang sudah mati. Rasanya hubungannya dengan Bella semakin asing. Salahnya memang, tapi Axel hanya tak ingin membebani istrinya dengan masalah yang di alaminya saat ini.
Axel baru saja beranjak keluar ruangan dan bersamaan dengan Naura yang terlihat baru saja masuk.
"Axel?" Naura tersenyum saat melihat Axel.
"Untuk apa lagi kau kesini?" kata Axel menautkan alisnya pertanda ia sangat tak suka Naura ada disana.
"Aku hanya ingin menemui mu, Hari ini Zhia ada jadwal kontrol ke dokter, tapi dia tidak mau aku antar, dia selalu menanyakan mu Axel" kata Naura menatap Axel dengan sorot mata sendunya.
"Tidak bisa, Aku sedang sibuk" kata Axel datar dan dingin.
"Axel, Sekali ini saja. Daritadi pagi Zhia terus menangis, Aku mohon kali ini saja bantu aku" kata Naura menyentuh kedua tangan Axel berharap Axel akan membantu dirinya.
"Aku rasa ini semua sudah di luar batas Naura, Kau seharusnya memberi pengertian pada anakmu tentang apa yang terjadi, Bukan terus mendorongnya untuk terus mendekatiku. Kau juga sudah tau kalau aku tidak bisa melakukannya" kata Axel mulai muak dengan sikap Naura yang selalu menggunakan anaknya untuk membuatnya bersimpati.
"Axel, Kau salah paham. Zhia itu benar-benar sakit dan membutuhkanmu. Apa kau lupa gara-gara siapa anakku jadi seperti ini!" kata Naura mulai menaikan nada bicaranya.
"Jadi kau menyalahkan ku dengan apa yang terjadi pada putrimu. Naura, itu semua kecelakaan"
"Tapi itu semua terjadi di restoranmu. Axel! Aku tidak meminta apapun darimu, Kalau saja Zhia tidak menangis dan mencari mu aku tidak akan melalukan hal ini. Axel, Aku mohon. Kali ini saja, Hanya Zhia yang aku punya saat ini" kata Naura mulai mengeluarkan air matanya agar Axel bersimpati padanya.
"Aku nggak bisa Naura, Aku ada meeting. Sebaiknya kau pulang saja" kata Axel memang tak begitu perduli sebenarnya.
"Segitunya ya Axel, Aku cuma minta di anterin doang apa susahnya" kata Naura mulai emosi karena Axel tak mendengarkan dirinya.
"Halo? Apa? Zhia kejang? Iya iya aku akan pulang sekarang" Kata Naura begitu panik. Ia menatap Axel penuh harap.
"Sial!" umpat Axel begitu kesal karena dalam posisi sulit seperti ini. Ia terpaksa mengubah jadwal meeting menjadi besok pagi, padahal ia sengaja ingin membatalkan meeting hari itu karena besok akan menemani istrinya.
Naura mengulas senyum tipis kemudian menyusul Axel yang sudah jalan terlebih dulu. Axel mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah Naura. Tapi sesampainya di rumah Naura disana tidak ada siapapun membuat Axel bingung.
"Dimana Zhia?" kata Axel menatap Naura dengan tajam.
"Dia sedang di rumah neneknya" kata Naura dengan tenang.
"Apa maksudmu? Bukankah kau mengatakan kalau dia sakit?" kata Axel mengepalkan tangannya karena merasa di permainkan oleh Naura.
"Aku berbohong padamu" kata Naura berdiri tepat di depan Axel.
"Kau keterlaluan Naura, Kau sengaja merencanakan ini!" bentak Axel dengan suara kerasnya.
"Iya aku sengaja, Aku ingin bersamamu Axel, Apa kau sudah melupakanku?" kata Naura ingin menyentuh wajah Axel tapi langsung di tepisnya.
"Kau gila! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Aku ini sudah mempunyai istri Naura" kata Axel tampak begitu marah.
"Aku tau, tapi aku sangat tau perasaanmu Axel, Kau tidak akan mudah jatuh cinta kepada wanita lain. Selama ini kau hanya melakukan hal itu untuk pelarian karena rasa kecewa mu padaku kan? Axel harusnya kau sadar, Aku lah wanita yang selalu di hatimu sejak dulu, bukan dia"
"Omong kosong! Banyak perubahan yang sama sekali kau tak tau Naura. Kau mungkin tak bisa menerimanya, tapi kau harus tau kalau perasaanku padamu sudah berubah. Aku mencintai Bella melebihi nyawaku sendiri"
"Axel, kenapa kau begitu jahat? Aku cuma pengen kita kembali seperti dulu tanpa wanita itu" kata Naura kembali menangis karena perkataan Axel.
"Aku jahat? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau lupa siapa yang meninggalkan ku lebih dulu! Tapi, Aku rasa aku harus berterima kasih padamu, karena jika kau tidak pergi maka aku tak akan bertemu Bella" kata Axel lagi.
"Tapi wanita itu tidak pantas mendapatkan cintamu Axel, Dia hanya wanita murahan..
"Tutup mulutmu! Istriku adalah wanita baik-baik" bentak Axel begitu geram karena Naura menyebut Bella wanita murahan.
"Apa? Axel, aku sudah tau segalanya, Tidak akan ada wanita baik yang mau di hamili oleh seorang pria di luar nikah. Mungkin kau sudah tertipu dengan sikapnya yang polos, Tapi sebenarnya dia itu wanita munafik, kita tidak tau sudah berapa lelaki yang tidur bersamanya, kau mungkin lelaki yang ke serat....
"Argh...." Naura menghentikan ucapannya saat Axel mencekik lehernya dan mendorong tubuhnya ke dinding.
"Jaga bicaramu jika menyebut nama Istriku!" bentak Axel dengan suara yang sangat keras, ia terus menekan leher Naura tak perduli wajah wanita itu sudah pucat.
"Le..pas..kan..Aku...ber..bi..ca..ra..keny...ataan.." Naura memukul-mukul tangan Axel berharap Axel akan melepaskannya.
"Kenyataan apa yang kau maksud! Naura! Asal kau tau, Bella adalah wanita paling murni yang pernah aku kenal. Akulah pria yang telah mengambil kesuciannya, Dan aku tegaskan padamu kalau sampai detik ini akulah satu-satunya pria yang menidurinya" kata Axel dengan aura kemarahan yang berkobar di bola matanya.
Happy Reading.
Tbc.