
Sepanjang perjalan ke Kantor Axel terus mengembangkan senyumnya. Bahkan sampai membuat para karyawan terheran-heran Axel mau membalas sapaan mereka. Mereka menerka ada apa dengan Axel? Sepertinya suasana hatinya sedang baik pagi ini. Ya tentu saja, sangat baik malah.
"Jadwalku Apa hari ini Bram?" Tanya Axel pada Bram ternyata ikut heran dengan sikap bosnya yang tiba-tiba berubah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Oh, tidak Tuan.. Sepertinya anda sedang bahagia hari ini" ucap Bram sedikit takut karena ketahuan menatap bosnya.
"Seperti yang kau lihat" Axel menatap Bram yang umurnya dua tahun lebih muda darinya.
Waktu dulu Ayahnya mengangkat Bram sebagai Asistennya, Bram baru saja kehilangan orang tuanya dan tak dapat meneruskan kuliah. Tapi Karena Bram pintar, Akhirnya Ayahnya mau membiayai kuliah Bram sampai pria itu lulus nanti.
"Ya, Apa ini karena Nona Bella Tuan?" Bram sedikit kepo.
Ia juga cukup tau hubungan antara keduanya. Karena dialah yang dulu memesan kamar untuk Tuannya dan Bella. Jadi bisa di bilang Bram adalah orang kepercayaan Axel. Karena ia tau semua rahasia pria itu.
"Bram, Apa kau sudah bosan bekerja denganku?" Axel melirik tajam pada Bram, ia tak suka jika ada orang yang ingin tau semua urusannya.
"Maaf Tuan" kata Bram tersenyum kikuk. Ia mengutuk kebodohannya karena sudah bersikap lancang.
Meskipun Axel mempercayainya, tapi bukan berarti semua urusannya Bram harus tau. Apalagi Ia termasuk orang yang tak bisa cukup dekat dengan orang lain. Menurut Axel, Bram tetap orang asing baginya.
"Ya, tidak masalah. Apa kau sudah dapat hasilnya?" ucap Axel mendadak serius saat mengatakan itu.
Bram terdiam sesaat menatap Axel yang sedang menunggu jawaban darinya. "Belum Tuan, semua cctv di hotel itu ternyata di matikan. Jadi sangat sulit untuk mencari bukti kalau Nona Bianca sudah menjebak anda" kata Bram dengan lugas.
Memang Bram sudah diperintahkan Axel untuk menyelidiki tentang kejadian malam itu. Karena rencananya, Axel akan menjadikan itu bukti untuk menuntut Bianca. Tapi ternyata wanita itu begitu lihai, dia sudah merencanakan ini semua dengan matang.
Axel mengepalkan tangannya erat menahan emosinya. Ia tak menyangka Bianca begitu licik. Ia harus mulai berhati-hati dengan wanita itu mulai sekarang.
"Awasi terus dia, Bram" ucap Axel begitu geram.
"Baik Tuan" kata Bram mengangguk patuh.
Terdengar ketukan pintu dari luar membuat kedua orang itu sedikit kaget. Axel melirik Bram, seolah bertanya siapa tamu yang datang, Seingatnya ia tak ada janji dengan siapapun hari ini.
"Saya akan melihatnya Tuan" Bram segera bangkit untuk melihat tamu itu.
Saat pintu terbuka Bram sedikit kaget melihat wanita cantik di depannya. Namun seketika air mukanya mengeras.
"Nona Bianca! Sedang apa anda disini? Bukankah Anda sudah di pecat!" ucap Bram dengan nada dingin.
Sebagai asisten, ia juga harus menyingkirkan hal-hal yang akan menghambat pekerjaannya. Dan baginya Bianca adalah salah satu pengganggu. Ia segera menutup pintu ruangan Axel untuk menghalangi Bianca agar tidak bisa masuk.
"Aku ingin bertemu dengan Axel" cetus Bianca menatap tak suka pada Bram yang menghalanginya.
"Anda tidak punya keperluan disini, Sebaiknya silahkan Anda pergi"
"Ck, Apa kau tak punya telinga, Aku ingin bertemu Axel" kata Bianca semakin kesal, ia ingin menerobos masuk. Tapi Bram dengan sigap menghadangnya.
"Minggir!" seru Bianca dengan suara keras.
"Tolong jangan membuat keributan Nona, atau saya akan memanggil keamanan untuk mengusir anda" ancam Bram.
"Berani sekali kau mengancam ku! Kau tidak tau siapa aku, Ha! Aku adalah calon Nyonya di keluarga Indra Jaya. Kau tau, aku bisa dengan mudah menyingkirkan mu. Jadi jika kau sayang dengan pekerjaanmu, sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku" kata Bianca dengan sombongnya. Tapi Bram tak terpengaruh sama sekali.
"Di sana pintu keluarnya Nona" kata Bram dengan nada tenang malah menyulut emosi Bianca.
"Dasar kurang ajar! Cepat panggil Tuan mu atau aku akan membuat keributan disini" Bianca kembali mengancam.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka menampakkan Axel yang keluar. Dia merasa ada yang tidak beres saat Bram belum kembali. Ternyata memang ada pengacau disini. Axel menatap tajam wanita yang sudah berani menjebaknya.
"Akhirnya kau mau menemui ku juga, Aku merindukanmu" kata Bianca langsung mendekati Axel. Ingin memeluk pria yang siang malam ia impikan.
"Hahaha, Axel..Axel ternyata kau masih jual mahal juga ya" kata Bianca tertawa sinis.
Axel diam tak menggubris perkataan Bianca. Namun ia tak melepaskan tatapan matanya barang sedikitpun.
"Baiklah, Aku kesini hanya ingin memberimu hadiah" kata Bianca meng angsurkan amplop coklat yang langsung di rampas oleh Bram.
Bianca berdecak melihat tingkah Bram. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Axel yang menurutnya semakin tampan dengan wajah dingin dibalut sikap arogan. Baginya Axel adalah tantangan. Semakin pria itu menolaknya semakin ia ingin memilikinya.
"Aku harap kau menyukainya, Dan kau tau kan jika harus mencari aku kemana" kata Bianca dengan senyum manis menggodanya.
*****
"Brengsek!"
Axel menggebrak meja kerjanya saat melihat isi amplop yang Bianca berikan. Ternyata isinya adalah foto-foto dirinya dan Bianca sedang bertelanjang. Wanita itu pasti mengambil foto itu saat Axel tidak sadar.
Suara ponsel berdering membuat Axel langsung mengangkatnya saat melihat siapa sang penelpon.
"Bagaimana sayang? Apa kau senang dengan hadiahku" terdengar suara wanita tersenyum di seberang.
"Brengsek! Dasar wanita licik!" Axel ingin sekali membunuh wanita itu jika bisa.
"Hahaha, Tenang sayang. Sepertinya kau sangat menyukainya ya"
"Kau salah jika bermain-main denganku Bianca! Katakan apa mau mu sebenarnya?" Ucap Axel dengan gigi gemletuk menahan amarahnya.
"Pertanyaan bagus! Aku tidak meminta hal yang aneh-aneh, cukup lanjutkan pertunangan kita" kata Bianca tersenyum penuh kepuasan. Ia yakin jika Axel tak akan berkutik.
Untunglah dia kemarin sempat mengambil foto itu. Sekarang Bianca yakin, Axel pasti tak akan menolaknya.
"Omong kosong! Sampai mati pun aku tak akan menyetujuinya"
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, Bagaimana pendapat orang, jika seorang pengusaha sukses sepertimu foto telanjangnya akan tersebar di media sosial. Kau tau kan apa yang terjadi?"
"Lakukan sesukamu, Kau pikir aku tak bisa melakukan hal yang sama"
Axel merasa masih punya senjata untuk mengentikan wanita licik itu. Ia tak boleh menganggap remeh Bianca. Karena sekali saja ia salah langkah, maka semuanya akan kacau.
"Silahkan, kita lihat saja. Siapa yang akan hancur disini" ucap Bianca sebelum mengakhiri panggilannya.
"Sialan!" Axel membanting ponselnya untuk melampiaskan amarahnya.
"Tuan" Bram baru saja masuk dengan tergesa. Wajahnya terlihat panik.
"Ada apa?"
"Nyonya Tamara masuk rumah sakit Tuan" kata Bram langsung.
"Bagaimana bisa?" tanya Axel kaget.
"Saya tidak tau pastinya Tuan. Pelayan mengatakan Nyonya pingsan setelah menerima paket" kata Bram menjelaskan.
Axel membesarkan matanya. Paket apa yang ibunya terima sampai membuat wanita itu pingsan. Jangan-Jangan...
****
Maaf baru bisa up ya kak..
Jangan lupa like dan komen..
HAPPY READING
TBC