MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Kesenangan Sederhana.



Pulau Kalimantan yang dikenal dengan Pulau Borneo merupakan salah satu pengembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia. Asal-usul lahan perkembangan kelapa sawit di pulau kalimantan, dengan luas daratan sebesar 53,1 juta hektar, dengan penggunaan ruang untuk kawasan hutan (berhutan dan tak berhutan) sebesar 36,5 juta hektar atau 68,8 persen, kawasan non hutan sebesar 16,5 juta hektar atau 31,1 persen dari luas daratan Kalimantan.


Luas perkebunan kelapa sawit di pulau kalimantan baru mencapai 3,4 juta hektar atau hanya 6,5 persen dari luas daratan pulau kalimantan. Dengan kata lain, penggunaan lahan di pulau kalimantan yang terbesar adalah untuk kawasan hutan dan bukan untuk kebun sawit.


Hari kedua di Kalimantan, tak banyak yang dilakukan Dio dan Karin, mereka hanya mengikuti Abimanyu yang mengajak mereka ke lahan perkebunan kelapa sawit dan juga ke pabrik pengolahan. Sebenarnya Dio sudah melarang Karin untuk ikut karena disana sangat panas, tapi juga tak tega jika harus meninggalkan istrinya sendirian.


Mereka berdua kini sedang berada di perkebunan kelapa sawit, Dio sedang menunggu laporan dari asisten Papa Abimanyu yang ditugaskan untuk mengecek beberapa laporan penjualan minggu lalu.


Selama menunggu Dio, Karin memutuskan untuk berkeliling untuk melihat perkebunan itu, disana banyak sekali pekerja pria dan wanita yang ikut memanen kelapa sawit. Saat asyik melihat-lihat, Karin teralihkan pada sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu beberapa anak-anak kecil yang sedang bermain dengan sangat seru. Karin awalnya hanya melihatnya, tapi ia tertarik untuk mendekat.


Anak-anak itu tampak membuat barisan melingkar dengan satu anak berada di dalamnya, lalu di luar barisan ada satu orang yang ingin mengejar anak yang ada didalam. Oh, ternyata mereka sedang bermain kucing dan tikus.


"Hai, Kakak boleh ikut gabung nggak?" tanya Karin memasang senyum manisnya. Sejak tadi melihat keseruan anak-anak ini membuat ia ingin bergabung bersama mereka.


"Kakak mau ikut main?" tanya salah satu dari mereka.


"Ya, boleh nggak?" kata Karin lagi.


"Boleh, tapi kakak jadi kucing ya"


"Oke" Karin menyetujui saja dia menjadi kucing. Ia besar, tentu dia akan dengan mudah mendapatkan tikus-tikus kecil itu, pikirknya.


Semua anak-anak tampak bersorak senang, mereka kembali membuat lingkaran dan Karin bersiap untuk menangkap.


Dio yang baru saja datang tampak kaget melihat tingkah istrinya yang ikut bermain dengan anak-anak kecil itu. Ia awalnya diam, tapi kemudian tersenyum dan berubah tertawa saat melihat Karin yang mengejar anak-anak itu.


"Ini tidak adil, kakak sudah besar sedangkan kita kecil, makanya kakak mudah mendapatkan kami" kata anak yang baru saja tertangkap oleh Karin.


"Ya, seharusnya kakak juga melawan orang besar juga" sahut yang lainnya tampak ikut memprotes Karin.


"Mana ada seperti itu adik kecil, kalian sudah kalah jadi harus terima ya" kata Karin malah tertawa melihat wajah wajah imut anak-anak itu.


"Kalau begitu, biar aku saja yang melawan Kakak ini" kata Dio tiba-tiba sudah berdiri di belakang Karin.


"Abang?" Karin berseru kaget melihat suaminya ada disana.


"Kau terlihat sangat bersemangat hari ini" kata Dio tersenyum seraya mengeluarkan sapu tangan di saku celananya untuk mengusap keringat yang membasahi wajah istrinya.


"Abang sejak kapan disini?" tanya Karin.


"Cukup lama, setidaknya aku masih bisa mendengar tawamu yang cukup keras Nyonya" kata Dio langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Abang kenapa diem aja, ish" kata Karin malu karena Dio mengetahui tingkah absurd nya.


"Bagaimana bisa kau bermain dengan anak kecil-kecil ini? Mereka benar, kalau ini tidak adil, seharusnya kau melawan ku Nyonya" kata Dio.


"Abang nantangin aku?" kata Karin tak percaya.


"Anggap saja begitu, Ayo sekarang kau yang jadi tikusnya dan aku pasti akan menangkapmu, benarkan boy?" kata Dio meminta dukungan anak laki-laki disana.


"Benar, Kita harus menang kak, Jangan sampai di kalahkan wanita" kata salah satu anak lelaki disana.


"Siapa takut" kata Karin mengangkat dagunya bersiap untuk melawan suaminya.


"Oke, kita mulai sekarang" kata Dio menggulung kemejanya dan membuka dua kancing kemejanya.


Anak-anak itu segera membuat barisan melingkar dengan Karin berada di dalamnya. Ia memasang wajah mengejeknya pada Dio yang cukup susah mendapatkannya.


"Ayo, katanya mau menangkap ku, Dasar payah" kata Karin menjulurkan lidahnya mengejek Dio.


Dio tampak geram, ia cukup kesusahan untuk mendapatkan Karin karena setiap ingin mendekat, anak-anak itu merapatkan barisan mereka.


"Kalau berani keluar, jangan berlindung di dalam sarang terus" kata Dio memprovokasi Karin.


"Kau pikir aku tidak berani?" kata Karin terpancing untuk keluar dari lingkaran itu. Dio tersenyum tipis saat Karin sudah berlari keluar.


"Ayo tangkap aku....Tangkap aku...kalau bisa" kata Karin kembali mengejek Dio seraya berlari menjauh.


"Aku pasti akan mendapatkan mu" kata Dio segera mengejar istrinya. Tapi sayangnya Karin cukup gesit dalam berlari.


Karin tertawa puas saat melihat Dio yang cukup tertinggal olehnya. Sorak sorak anak-anak itu juga kembali terdengar memberi semangat pada Dio dan Karin.


"Ayo...kejar aku kucing" kata Karin senang sekali rasanya.


Dio mempercepat langkahnya, tapi karena tak melihat ia malah terjatuh saat kakinya tersangkut akar pohon. Karin kaget melihat hal itu, ia berhenti berlari dan segera mendekati Dio.


"Abang! Abang nggak apa-apa?" tanya Karin ingin berjongkok untuk melihat keadaan Dio tapi ia kaget saat tiba-tiba bangkit.


Karin mundur kebelakang hingga ia terduduk di tanah, ia menatap Dio yang kini tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya dan menepuk pundaknya.


"Aku mendapatkan mu" kata Dio tersenyum puas.


"Eh? Ini tidak sah, Abang curang" kata Karin tak terima.


"Kenapa tidak sah? Aku sudah mendapatkan mu, kau sudah kalah Nyonya" kata Dio santai saja.


"Tidak bisa gitu dong, Abang tadi jatuh, jadi seharusnya permainan di hentikan dulu, ini tidak sah" kata Karin lagi.


"Aku juga tidak menyuruhmu untuk mendatangiku, aku sudah menang dan kau saja yang tidak bisa menerima kekalahan mu" kata Dio senang sekali melihat wajah Karin yang bersungut-sungut.


"Memang aku tidak terima, Harusnya Abang itu kalah" kata Karin sangat kesal hingga menarik kemeja Dio dengan keras sampai kemeja itu robek.


Dio kaget melihat hal itu, ia melirik Karin yang tak kalah kagetnya. "Sorry, Aku nggak sengaja" kata Karin melepaskan kemeja itu perlahan, ia lalu memundurkan tubuhnya untuk kabur dari suaminya.


"Kau harus tanggung jawab Nyonya" kata Dio dengan gerakan cepat menarik tubuh Karin dari belakang dan menggendongnya lalu memutarnya ke atas beberapa kali.


"Aaa ....Abang...Turunin aku" Karin berteiak kaget tapi tertawa karena merasakan kesenangan sederhana namun bermakna.


Happy Reading.


Tbc.