MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Akan Selalu Bersamamu.



"Apa yang kau lakukan! Kau sudah membuat malu keluarga kita" suara Ayah Nathan tampak berang menatap putranya yang berada di depannya.


"Aku melakukan ini semua demi membanggakan mu Ayah. Bukankah Ayah yang selalu mendorongku untuk memenuhi segala obsesi dan ambisi mu. Aku hanya ingin Ayah bangga padaku. Itu saja" kata Nathan tak tahan dari tadi Ayahnya selalu memarahinya dan menyalahkannya.


"Tapi apa yang kau perbuat? Kau sudah menghancurkan segalanya! Sekarang aku bahkan tak berani menunjukkan wajahku di publik karena ulahmu! Aku benar-benar tak ingin punya anak yang memalukan sepertimu!" bentak Ayah Nathan tak mau kalah. Menatap anaknya dengan tajam seolah ingin memutus hubungan yang ada.


Nathan tersenyum sinis menyindir, sejak kecil selalu saja seperti ini. "Kau pikir aku tidak malu mempunyai Ayah seperti mu? Aku bahkan lebih rela tidak punya Ayah....


Plak


Ayah Nathan langsung menampar putranya dengan keras. Ia sangat benci karena Nathan berani melawannya. Nathan tak mengaduh, ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini, ia malah menatap Ayahnya dengan tajam.


"Kau memang anak tidak tau di untung!" kata Ayah Nathan menunjuk batang hidung Nathan.


"Apa kau tidak pernah berpikir kalau Kau sendiri yang sudah menghancurkan hidupmu dan juga hidupku! Kau yang membuat aku menjadi seperti dirimu! Mengisi hidupku dengan praktek kotor yang sejak dulu kau lakukan hingga tidak memandang kita saudara atau bukan! Lihatlah dirimu sendiri! Ini semua adalah salahmu!" teriak Nathan tersulut emosinya.


Dua orang polisi terlihat mendatangi Nathan karena waktu berkunjung Ayahnya sudah selesai. Mereka memaksa Nathan untuk berdiri dan memborgol tangannya. Ayah Nathan tampak masih menatap emosi pada Nathan yang mengulas senyum mengejek pada Ayahnya.


"Jangan harap aku akan membebaskan mu! Aku akan membiarkanmu membusuk disini" kata Ayah Nathan yang masih tak bisa menerima kehancuran ini.


Nathan yang akan di giring pergi itu menghentikan langkahnya. Ia malah melebarkan senyumnya.


"Tuan Wijaya yang terhormat, Kau tau, aku rasa aku lebih nyaman tinggal di penjara daripada menjadi putramu" kata Nathan menyeringai membuat Ayahnya terdiam menatap Nathan yang di seret pergi.


******


"Besok?" Ketiga orang itu tercengang mendengar ucapan Dio.


"Dio, apakah ini tidak terlalu cepat?" kata Karin juga sangat kaget mendengar permintaan Dio.


"Apa kau keberatan?" kata Dio memandang sendu pada Karin membuat wanita itu bungkam karena tak kuat dengan tatapan mata Dio.


"Nak Dio, apakah tidak terlalu mendadak? Kita juga pasti butuh persiapan bukan?" kata Elmira.


"Tante benar, tapi aku hanya ingin segera meresmikan hubungan ini. Kita bisa mencatatkan pernikahan kita di kantor pencatatan sipil dulu. Untuk resepsi pernikahan menyusul. Tapi itu kalau Om dan tante tidak keberatan" kata Dio sudah memikirkan ini matang-matang. Ia sungguh tak bisa kehilangan Karin lagi. Ia sudah menunggu wanita itu sangat lama, jadi ia tak ingin menunda-nundanya lagi.


"Baiklah jika itu maumu, Kita serahkan semua pada Karin. Tapi Dio, Apakah kau sudah yakin ingin menikahi putriku?" kata Raimond kali ini lebih serius dari sebelumnya.


"Sangat yakin Om" kata Dio menatap Raimond tegas.


"Bagaimana Karin? Apakah kau menerima pinangan Dio?" tanya Raimond memang tak ingin melarang atau membebani keinginan putrinya, selama putrinya bahagia ia tak masalah.


Karin mengigit bibirnya menatap semua orang yang menunggu jawaban darinya. Ia lalu merasakan genggaman halus di tangannya membuat Karin menatap Dio yang tersenyum lembut padanya.


"Aku terima" kata Karin tak kalah mantapnya. Ia juga sudah sangat mencintai Dio dan bisa bersamanya adalah keinginannya.


Dio tampak tersenyum lega karena Karin menerima lamarannya.


Dio melirik Karin dengan tatapan tajam dan seriusnya, tapi ada kesan lembut dan perhatian di dalamnya membuat Karin memasang tampang manjanya, berusaha menggoda Dio dengan wajah manjanya itu.


"Aku pastikan Karin akan makan dan istirahat setelah ini" kata Dio dengan suara meyakinkannya.


*****


Karin mengambil makanan yang baru saja di sediakan pembantunya. Ia dan Dio sudah berada di ruang makan rumahnya yang terlihat begitu luas.


"Makanlah" kata Karin dengan telaten menyuapi Dio yang tangan kanannya tidak bisa di gunakan.


Dio membuka mulutnya, memandang tak jemu pada Karin. Setelah makanan itu masuk ke mulutnya ia tersenyum sambil mengunyahnya.


"Kenapa malah tersenyum? Kunyah dulu makananmu dengan baik" kata Karin bukan masalah apa, tapi ia selalu gugup jika Dio menatapnya seperti ini.


Dio semakin tersenyum melihat kegugupan Karin, Ia melihat Karin yang kini kembali menyuapinya namun saat sendok itu hampir tiba di bibir Dio, tangan kiri Dio memegangi tangan Karin, mendorong tangan Karin untuk kembali ke arah Karin.


"Kau juga harus makan, Calon pengantin wanita juga harus sehat untuk persiapan pernikahan" kata Dio dengan suara lembutnya membuat Karin terhipnotis dan membuka mulutnya menerima suapan dari Dio.


Entah kenapa, tingkah Dio ini semakin manis sekarang dan Karin sangat menyukainya.


"Ehm, Kenapa kau memutuskan menikah besok? Aku pikir minggu depan atau bulan depan" kata Karin masih merasa ini terlalu mendadak.


Dio mencondongkan wajahnya hingga menjadi lebih dekat dengan Karin membuat wanita itu sedikit kaget namun diam melihat wajah Dio yang begitu serius.


"Aku sudah menunggumu selama 5 tahun dan aku hampir saja kehilanganmu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi dan aku takut kau akan berubah pikiran nanti" kata Dio serius namun membuat hati Karin menghangat.


"Bagaimana mungkin aku akan berubah pikiran, toh, seperti katamu. Aku sudah terikat denganmu seumur hidupku kan?" kata Karin tersenyum manis membuat Dio tertawa kecil mendengarnya.


Dio menarik lembut tangan Karin agar membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Karin sedikit kaget namun tak menolak, mataya sempat melirik ke pintu ruang tengah karena takut akan ada Mamanya.


"Karin, Apa kau tau apa yang aku inginkan di dunia ini?" kata Dio menatap Karin dengan lembut. Tangan kirinya ia gunakan untuk merangkul pinggang Karin agar tidak jatuh.


"Apa?" Karin balas menatap Dio tak kalah lembutnya.


"Aku hanya ingin melihatmu dan ingin selalu ada di setiap lembar cerita yang kau miliki. Aku ingin mengatakan padamu, kaulah alasan untuk semua kebahagiaanku dan Hatiku selalu mencarimu ketika kau tidak ada. Aku mencintaimu hari ini dan akan selalu seperti itu. Karin, maukah kau terus bersamaku?" kata Dio masih dengan suara lembut memandang Karin penuh perasaan yang di milikinya.


Karin menatap Dio dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata itu terdengar cukup gombal tapi Karin merasa terharu dan ingin menangis.


"Aku akan selalu bersamamu"


Happy Reading.


Tbc.