MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Aku Cinta Abang.



"Iya, Aku udah maafin Abang kok" sahut Karin tersenyum tipis, ia terdiam menatap suaminya yang menatapnya seperti itu, Ia sudah hafal sekali tatapan mata itu, Karin baru ingat kalau mereka berdua hampir dua minggu tidak melakukannya.


Dio pun merasa tak bisa menahan dirinya saat berdekatan istrinya ini, apalagi sudah lama ia tak menyentuh istrinya membuat gairahnya terpancing.


"Apakah aku boleh?" tanya Dio hati-hati.


"Ehm....kata Dokter boleh, tapi harus...." Klarin tampak malu-malu saat mengatakan itu, padahal biasanya ia tak seperti ini.


Dio mengangguk tipis mengerti apa maksud ucapan istrinya. "Aku akan pelan-pelan" kata Dio sebelum mencium bibir lembut istrinya


Benar kata orang, kalau bercinta setelah bertengkar membuat percintaan semakin menggairahkan dan menyenangkan. Dio dan Karin terus bergumul dengan panas, seolah menurunkan segala emosi yang terpendam dalam diri mereka selama beberapa hari terakhir ini.


Dio memuja setiap jengkal tubuh istrinya dengan penuh perasaan yang tak terlukiskan membuat Karin melayang saat gelombang dahsyat menggulung dirinya hingga tubuhnya luluh lantak. Ia bahkan tak sanggup untuk sekedar membuka matanya saat Dio dengan bertubi-tubi menerbangkan dirinya ke cakrawala.


"Sayang, kamu kenapa nggak pernah muntah-muntah kayak orang hamil biasanya?" tanya Dio setelah mereka berdua menyelesaikan segalanya. Kini mereka berdua sudah berbaring saling berpelukan dengan di tutupi selembar selimut.


"Ya bagus dong, Aku malah seneng kayak gini" sahut Karin memejamkan matanya menikmati elusan lembut Dio di rambutnya.


"Iya, tapi apa kamu nggak ke pengen makanan yang aneh-aneh gitu?" kata Dio ingat kalau kebanyakan orang hamil itu suka minta yang aneh-aneh kepada suaminya.


"Enggak sih, Eh? Aku mau cupcake yang tadi di beliin Mama Sofi, Rasanya enak banget tau, Besok belikan ya?" kata Karin manja pada suaminya.


"Siap Nyonya, Apa sih yang enggak buat istriku ini" kata Dio menyentuhkan hidungnya ke hidung Karin.


"Beneran ya? Pokoknya aku mau cupcake yang di beliin Mama" kata Karin lagi.


"Iya, besok aku belikan, Kamu sekarang tidur, udah malam, nggak baik calon Mama tidur terlalu larut" kata Dio mencium kening istrinya.


Karin tersenyum tipis, cuping hidungnya mengembang saat Dio menyebut dirinya sebagai calon Mama.


"Aku akan tidur, Abang juga harus tidur, Untung demamnya udah turun" kata Karin membuat Dio terperanjat.


Ia lupa kalau dirinya baru saja membohongi istrinya dengan berpura-pura sakit demam. "Demam aku turun karena udah ketemu obatnya, Apalagi obatnya terasa manis, legit, ranum....aduh...." Dio menghentikan ucapannya saat Karin mencubit perutnya dengan keras.


"Kenapa kau mencubit ku?" kata Dio protes.


"Pengen aja" kata Karin terkekeh kecil dalam dekapan suaminya.


"Kau ini, aku baru sembuh loh, Kamu harusnya sayang-sayang aku bukan di cubit gini"


"Baru sembuh tapi sampai nambah dua kali ya" kata Karin mencibir saat menyadari kalau suaminya ini meskipun sakit tetap saja punya banyak tenaga untuk menaklukkan dirinya.


"Kalau itu beda cerita sayang" kata Dio tertawa kecil mendengar ucapan istrinya.


"Yasudah, Aku mau tidur, Besok jangan lupa beliin cupcake nya"


"Iya, kamu tidur, Good Night wifeey.." Dio memberikan kecupan wajibnya di kening Karin lalu memeluk wanita itu untuk tidur bersama.


******


Terkadang orang itu memang suka sekali ribet ya? Padahal sudah di kasih yang mudah, tapi malah mencari susah sendiri. Dio merasa dirinya terlalu menganggur saat istrinya hamil, padahal ia ingin Karin bermanja padanya atau meminta hal-hal aneh pada dirinya. Dio ingin seperti pria lainnya yang mengalami yang namanya menuruti ngidam istri.


"Kamu kenapa bisa kayak gini sih?" kata Dio menatap Karin yang kini sedang mengusap kepalanya saat ia tiduran di pangkuan wanita itu.


"Kayak gini gimana?" tanya Karin bingung.


"Kenapa kamu hamilnya biasa aja? Kenapa kamu nggak ngidam? Padahal aku pengen kalau kamu ngerepotin aku" kata Dio mengutarakan unek-uneknya.


"Ya harus gimana, Emang bawaan bayinya gitu Abang" kata Karin tertawa melihat tingkah Dio. Suaminya ini memang aneh sekali, seharusnya Dio senang kan kalau dirinya baik-baik saja, kenapa malah ingin di repotkan.


"Anak aku emang pinter, Sedang apa dia hari ini?" kata Dio tersenyum seraya membuka kaos istrinya lalu memasukan kepalanya kedalam kaos untuk mencium perut istrinya yang sudah menonjol di usia kehamilan yang lima bulan ini.


"Ih, Abang! Geli tau..." Kata Karin kegelian saat Dio memberikan ciuman- ciuman di perutnya.


"Udah kamu diem aja, Aku lagi nyium anak aku" ucap Dio memejamkan matanya seraya terus mencium keajaiban terindah yang pernah di lihatnya.


"Tapi aku kegelian Abang, Anak kita baik-baik aja kok" kata Karin ikut tersenyum.


"Aku nggak sabar nunggu dia lahir, kira-kira mirip siapa ya?" kata Dio masih dengan sikapnya.


"Ya pasti mirip kita berdua, nggak mungkin mirip tetangga sebelah" kata Karin terkekeh kecil.


Mendengar ucapan istrinya, Dio keluar dari balik kaos Karin, ia menatap istrinya dengan dahi menekuk.


"Jangan sampai mirip orang lain, anak kita harus mirip kamu" kata Dio.


"Kenapa harus mirip aku?" Karin memandang Dio tak mengerti.


"Kamu cantik, baik, dan punya hati yang lembut. Pokoknya anak kita harus mirip kamu" kata Dio lagi.


"Bisa aja, Emang Abang nggak baik apa?" kata Karin.


"Jangan mirip aku, Aku nggak mau anak kita punya sifat kayak aku, Kamu tau sendiri masa lalu aku gimana" kata Dio tersenyum kecut jika mengingat perbuatannya saat masih sekolah. Ingat seberapa brengseknya dia dulu.


Karin terdiam mendengar ucapan Dio, ia lalu mengulurkan tangannya untuk menangkup wajah suaminya.


"Abang nggak boleh ngomong gitu, Mungkin masa lalu Abang memang buruk, tapi sekarang Abang sudah menjadi orang baik kan, Buktinya Aku bisa cinta sama Abang, itu karena apa? Karena suamiku ini udah jadi orang baik, orang baik banget malah" kata Karin tersenyum lembut pada Dio. Ia tau kalau Dio memang sudah sangat berubah, bukan lagi Dio remaja yang suka mempermainkan wanita, Dio yang sekarang adalah Dio yang baru, Dio yang lebih bijaksana dan memiliki hati yang lembut.


"Kamu nggak nyesel nikah sama aku?" tanya Dio memandang Karin penuh cinta.


"Kenapa harus nyesel?"


"Aku itu seharusnya orang yang menjadi tokoh antagonis dalam hidup kamu Karin, Aku mendapatkan mu juga bukan dengan cara yang baik, Aku udah ngerusak masa depan kamu dulu baru aku sadar kesalahanku" kata Dio lagi.


"Itu tidak penting Abang, Aku udah ngelupain kejadian itu, Lagipula aku menerima Abang bukan karena Abang udah ngelakuin itu, Tapi aku cinta sama Abang" kata Karin membuat Dio tersenyum lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya.


"Terimakasih sudah mencintaiku, Aku lebih mencintaimu dari apapun di dunia ini"


Happy Reading.


Tbc.